Hasil Pilkada Sumut: Tiga Penyebab Kemenangan Telak Bobby Nasution

Baru dalam pilkada kali ini pasangan calon gubernur Sumatera Utara unggul telak terhadap pesaingnya. Mengapa bisa demikian?

13 Des 2024 10:01 WIB · Politik & Hukum

Oleh Bestian Nainggolan

Hasil rapat pleno Komisi Pemilihan Umum Sumut yang berlangsung pada 8-9 Desember 2024 telah menetapkan pasangan calon gubernur nomor urut satu, Bobby Nasution-Surya, unggul dari pesaingnya, Edy Rahmayadi-Hasan Basri.

Bobby-Surya berhasil menghimpun dukungan sebanyak 3.645.611 suara (64,5 persen), atau hampir dua pertiga dari total suara sah. Adapun pesaingnya, Edy-Hasan, memperoleh 2.009.311 suara (35,5 persen).

Jarak selisih dukungan yang terbilang jauh itu di satu sisi tidak mengagetkan. Pasalnya, berbagai hasil survei sebelum pencoblosan sudah mengindikasikan keunggulan telak Bobby-Surya atas Edy-Hasan.

Hasil survei Litbang Kompas sebulan sebelum pilkada, misalnya, mengungkapkan, Bobby-Surya sudah mampu mengumpulkan dukungan pemilih sebesar 44,9 persen, sementara Edy-Hasan baru sebesar 28 persen. Hasil survei saat itu juga mengungkapkan, masih terdapat sekitar 27,1 persen pemilih yang belum menyatakan pilihannya.

Hasil survei ini apabila diekstrapolasi, Bobby-Surya diprediksi meraih dukungan sebesar 61,6 persen. Pesaingnya, Edy-Hasan berpotensi meraih dukungan sebesar 38,4 persen. Dengan memperhitungan margin of error survei +/- 3,46 persen, apa yang ditetapkan KPU tidak banyak berbeda dengan hasil survei sebelum pilkada.

Di balik ketepatan prediksi keunggulan Bobby-Surya, sebenarnya Pilkada Sumut kali ini juga mengungkapkan sisi paling menarik lainnya yang pernah terjadi. Baru kali ini di Sumut kemenangan terjadi secara telak, berselisih hingga 29 persen (1.636.350 pemilih) dibandingkan dengan capaian dukungan pesaingnya. Sebelumnya, catatan sejarah kontestasi politik perebutan kepala daerah di Sumut selalu kompetitif, belum pernah hasil berjarak lebar seperti yang terjadi saat ini.

Infografis Perbandingan Hasil Rekapitulasi Pilkada Sumut dan Survei Pra Pilkada

Dalam ajang Pilkada Sumut 2018, misalnya, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang diusung Golkar, Gerindra, PKS, Nasdem, dan PAN itu unggul dan mampu meraih 57,58 persen. Edy-Musa mengalahkan pasangan Djarot Hidayat dan Sihar Sitorus, yang diusung PDI-P, PPP, PSI, dan PKPI dengan selisih hingga sekitar 15 persen. Pasangan Djarot-Sihar Sitorus saat itu meraih 42,42 persen dukungan pemilih.

Lima tahun sebelumnya, di ajang Pilkada 2013, persaingan sangat kompetitif terjadi. Saat itu, pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi berhasil menjadi gubernur dengan penguasaan sekitar 33 persen suara dari 4.861.467 pengguna hak suara.

Gatot-Tengku Erry yang disokong PKS itu menyisihkan calon PDI-P Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (24,3 persen), Gus Irwan Pasaribu-Soekirman yang didukung PAN, Gerindra, PBR, dan PBB (21,13 persen), Amri Tambunan-RE Nainggolan dari Partai Demokrat (12,23 persen), dan calon Golkar dan PPP, Chairuman Harahap-Fadly Nurzal (9,3 persen).

Begitu juga yang terjadi pada ajang pilkada langsung pertama di Sumut pada 2008 yang mengantar kemenangan pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho. Kala itu, Syamsul-Gatot hanya menguasai 28,31 persen dari total 4.933.687 pemilih.

Disaingi secara ketat oleh pasangan Tritamtomo-Benny Pasaribu 21,69 persen, Abdul Wahab Dalimunthe-Muhammad Syafii17,40 persen, pasangan RE Siahaan-Suherdi 16,58 persen, dan pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak 16 persen.

Dengan sejarah Pilkada Sumut yang selalu kompetitif sebelumnya, menjadi pertanyaan mengapa pilkada kali ini menjadi kurang kompetitif? Faktor apa yang membuat kemenangan Bobby-Surya terbilang telak?

Calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution-Surya menyapa para pendukungnya di rumah pemenangannya di Jalan Balai Kota, Medan, Sumatera Utara, Rabu (27/11/2024) malam. Bobby mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei Indikator.

 

Faktor ketokohan Bobby Nasution-Surya

Mengkaji segenap data perjalanan kontestasi pemilihan gubernur di Sumut, terdapat berbagai faktor yang diperkirakan turut memengaruhi perolehan dukungan pemilih. Paling banyak dikaji, terkait dengan faktor internal, yang lebih menitikberatkan pada kualitas ketokohan dan beragam modal politik yang diberdayakan oleh masing-masing tokoh pasangan kepala daerah.

Faktor ketokohan yang mencerminkan kemampuan personal, sikap, dan perilaku personal kerap dijadikan rujukan pilihan. Selain itu, terdapat pula pertimbangan pilihan yang didasarkan pada sisi rasionalitas manfaat yang diperoleh dari pilihan yang dilakukan. Daya tarik visi, misi, ataupun program yang dimiliki masing-masing pasangan dalam beberapa kajian pun turut menjadi magnet politik.  

Apa yang diuraikan dalam kajian ini tidak berpijak pada faktor internal yang ditampilkan oleh masing-masing pasangan. Lebih dari itu, keberadaan faktor eksternal tokoh, seperti pilihan strategi kontestasi yang dijalankan, kepiawaian dalam meramu faktor sosiologis sebagai daya tarik, hingga kehadiran dukungan politik, menjadi tiga alasan yang mendasari kajian ini sekaligus menjadi faktor yang diperkirakan menjadi penentu kemenangan telak Bobby-Surya.

Calon Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution (kanan) berfoto bersama pedagang saat kampanye di Pusat Pasar Kaban Jahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sabtu (12/10/2024). Dalam kampanye tersebut Bobby Nasution berbincang dengan pedagang untuk mendengar keluhan dan harapan sebagai bekal perbaikan jika terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara. ANTARA FOTO/Yudi Manar/Spt.

Pertama, terkait dengan strategi rumusan jumlah pasangan calon kepala daerah yang berlaga dalam pilkada. Pada umumnya, di Sumut, semakin banyak pasangan calon kepala daerah yang berkontestasi, pola kompetisi yang terbangun semakin ketat. Konsekuensi hasilnya, jarak perolehan dukungan di antara masing-masing pasangan tidak berselisih banyak. Kondisi demikian banyak terjadi terutama tatkala tidak ada sosok dominan (faktor ketokohan) yang dijadikan pilihan pemilih. 

Menelusuri sejarah Pilkada Sumut, kecenderungan munculnya banyak pasangan calon kepala daerah banyak terjadi. Kecuali pada Pilkada 2018 yang menampilkan dua pasangan calon, pada dua pilkada sebelumnya pasangan kepala daerah yang berkontestasi 5-6 pasangan calon. Hasilnya, jarak perbedaan pemenang dengan para pesaingnya tidak berselisih banyak.

Dalam Pilkada Sumut 2024 berbeda kondisinya. Pola persaingan yang terbangun hanya di antara dua kekuatan politik. Semua ini tidak lepas dari upaya koalisi besar KIM Plus pendukung Bobby-Surya, yang terdiri  10 partai, yakni Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat, PAN, PKB, PKS, Perindo, PPP, dan PSI.

Selain KIM Plus, hanya tersisa PDI-P bersama Hanura, Partai Ummat, dan Partai Buruh dengan calon kepala daerah yang diusung adalah Edy-Hasan. Dengan model kompetisi dua pasangan semacam ini, potensi keunggulan berjarak lebar potensial terjadi.

Infografis Sebaran Pemilih Berdasarkan Etnisitas dan Suku Bangsa dalam Pilkada Sumatera Utara

 

Konvergensi identitas sosial di Sumut

Kedua, keunggulan telak Bobby-Hasan lantaran terbangunnya pola konvergensi identitas sosial di Sumut. Berkaca pada rumusan pilihan politik warga Sumut dalam setiap kontestasi politik, sejauh ini cenderung tidak akan terlepas dari keterlibatan faktor-faktor identitas sosial yang saling berkelindan dalam satuan wilayah politik yang diperebutkan.

Fenomena semacam ini ditunjukkan dalam beberapa ajang pemilihan kepala daerah langsung sebelumnya; yang dalam suatu daerah pertarungan, identitas kesukuan, kelompok etnis, serta faktor keagamaan menjadi determinan pilihan pemilih. Di tengah keragaman identitas sosial di Sumut, jarang terjadi kemenangan telak diraih dalam pilkada.

Pilkada kali ini berbeda. Uniknya, lebih banyak terjadi konvergensi identitas sosial ketimbang pemilahan berbasis primordial pada 25 kabupaten serta 8 kota di Sumut. Kunggulan telak Bobby-Surya atas Edy-Hasan tampaknya tidak lepas dari kemampuan pasangan ini menjadi simbol representasi setiap identitas sosial di sebagian besar wilayah pertarungan.

Gambaran paling mencolok terjadi pada berbagai kabupaten dan kota di Sumut yang selama ini cenderung terpilah dalam pilihan politiknya. Pemilahan tidak terlepas dari keseragaman identitas sosial yang menempati wilayah tersebut. Suku-suku dengan proporsi besar di Sumut, seperti Jawa, Batak Toba, Karo, dan Mandailing, misalnya, memiliki basis kediaman di berbagai wilayah kabupaten. Pertemuan dari suku bangsa ataupun kelompok etnis umumnya terjadi di wilayah perkotaan.

Berdasarkan hasil survei, keunggulan Bobby-Surya terjadi merata pada setiap lapisan suku bangsa dan kelompok etnik di Sumut. Sebaliknya, keunggulan pasangan Edy-Hasan cenderung lebih disokong kelompok suku Melayu, Minang, ataupun subetnik Batak lainnya.

Infografis Proporsi Pilihan Pasangan Calon Kepala Daerah di Dapil 2 Sumut

Dengan mencermati hasil rekapitulasi KPU, sebaran kemenangan Bobby-Surya juga masih sejalan dengan hasil survei yang menguatkan terjadinya konvergensi identitas di wilayah-wilayah kemenangan Bobby-Surya.

Paling menonjol, apa yang terjadi di sebagian wilayah kabupaten dan kota di Sumut, seperti Kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan, Padang Lawas, Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, Tobasa, Tapanuli Tengah, Humbang, Samosir, Tapanuli Selatan, Mandailing, Sibolga, Natal, Nias, Nias Utara, Selatan, Barat, dan Gunung Sitoli. Ke-19 wilayah yang dalam pemilu nasional ini tergabung dalam daerah pemilihan 2 (Dapil 2) terbilang kental dengan pilihan politik berbasis identitas sosial.

Dari ke-19 kabupaten dan kota di Dapil 2 tersebut, Bobby-Surya unggul di 18 wilayah. Hanya di kabupaten Mandailing Natal, Edy-Hasan mampu mengungguli Bobby-Surya. Keunggulan Bobby-Surya ini terbilang istimewa lantaran baru kali ini hampir di semua wilayah memilih pasangan kepala daerah yang sama.

Pada pilkada sebelumnya, cenderung terpecah dengan latar belakang pilihan politik berbasis identitas sosial, seperti suku dan agama. Kabupaten-kabupaten di Tapanuli Utara, Toba-Humbang, Samosir, ataupun kabupaten dan kota di Nias akan berbeda pilihan gubernur dengan pemilih di kabupaten-kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, Padang Sidempuan, serta Labuhan Batu dan sekitarnya. Dapat dikatakan, dalam pilkada kali ini Bobby-Surya menjadi representasi dari konvergensi identitas sosial di wilayah-wilayah tersebut.

Patung Presiden Joko Widodo dipajang saat peletakan batu pertama pembangunan Monumen Juma Jokowi di kawasan Liang Melas Datas, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sabtu (4/11/2023). Masyarakat akan membangun patung Jokowi lainnya setinggi enam meter secara swadaya sebagai ungkapan terima kasih atas pembangunan jalan di sentra pertanian jeruk itu.
Presiden Joko Widodo meresmikan Stadion Utama Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang, Selasa (15/10/2024).

 

Dukungan Jokowi dan koalisi KIM plus

Ketiga, kehadiran faktor ekstenal, berupa dukungan politik dari tokoh-tokoh politik nasional. Bobby Nasution menjadi tokoh yang diuntungkan. Sebagai menantu mantan Presiden Joko Widodo, secara tidak langsung ia menikmati surplus dukungan di Sumut, terutama daerah-daerah yang dikenal punya relasi kuat dengan Joko Widodo.

Selain Joko Widodo, kemunculan Bobby-Surya bersama partai-partai pendukungnya, KIM plus, pun semakin kuat melegitimasikan pasangan ini sebagai bagian dari kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto. Berbeda dengan pasangan Edy-Hasan yang cenderung ditempatkan sebagai bagian dari PDI-P dan kekuatan oposisi pemerintahan.

Gabungan dari dua kekuatan politik Joko Widodo dan Prabowo Subianto terepresentasikan dari peta kemenangan Bobby-Surya di sebagian besar kabupaten dan kota Sumut. Bahkan, terindikasi pula, dua kekuatan politik inilah yang mengonvergensikan politik berbasis identitas sosial yang terbangun di Sumut.

Perolehan suara pasangan Bobby-Surya di berbagai wilayah dari Tapanuli Utara, Toba, Humbang, Samosir, hingga kabupaten dan kota di Pulau Nias terbilang sebanding dengan proporsi dukungan suara kepada pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024.

Begitu juga jika dibandingkan dengan proporsi dukungan terhadap Joko Widodo dalam ajang Pilpres 2019. Kondisi yang tidak kurang mirip juga terjadi di sebagian besar wilayah yang menjadi kantong kemenangan Prabowo Subianto dalam Pemilu 2019. Bersatunya dua kekuatan politik ini semakin memperlebar jarak kemenangan Bobby-Surya atas Edy-Hasan. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bestian Nainggolan
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Infografik:

Arie Nugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra