Beberapa pihak, termasuk IMF, memperkirakan defisit transaksi berjalan RI akan melebar sehingga perlu langkah antisipasi ke depan.
31 Mei 2025 07:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Neraca transaksi berjalan RI pada triwulan I-2025 mencatatkan kinerja positif sehingga dapat menjadi bantalan atas risiko tekanan dari sisi eksternal ke depan. Namun, tren tersebut tetap perlu diantisipasi mengingat defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, aktivitas impor yang melambat sebagai respons terhadap lemahnya permintaan domestik dan tetap tingginya ekspor telah mendorong surplus neraca perdagangan sehingga defisit transaksi berjalan pun menyusut signifikan.
”Ini menciptakan bantalan penting terhadap tekanan eksternal meskipun defisit jasa dan pendapatan primer masih tetap membebani transaksi berjalan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (30/5/2025).
Namun, Indonesia tetap perlu mewaspadai beberapa faktor risiko global yang bisa kembali membebani transaksi berjalan. Salah satunya ialah ketidakpastian global akibat tensi geopolitik atau fragmentasi perdagangan lebih lanjut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/7e79b56f2653c83c001f881bd3d6f31f-Screenshot_2025_05_30_170235.png)
Josua memperkirakan, defisit transaksi berjalan pada 2025 akan kembali melebar menjadi 12,61 miliar dollar AS atau 0,87 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit tersebut lebih dalam ketimbang periode 2024 yang mencapai 0,61 persen dari PDB.
Ini mencerminkan permintaan terhadap impor barang modal dan konsumsi akan meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi domestik pada paruh kedua 2025. Selain itu, transaksi berjalan juga masih dibayangi oleh masih lebarnya defisit jasa dan pendapatan primer.
Lebih lanjut, defisit transaksi berjalan pada 2026 diproyeksikan akan terus melebar menjadi 17,31 miliar dollar AS atau 1,10 persen dari PDB. Kondisi tersebut mencerminkan adanya peningkatan tekanan dari sisi eksternal.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2025 mencatatkan defisit sebesar 0,8 miliar dollar AS. Ini menyusut hingga 86,66 persen dibandingkan dengan defisit sebesar 6 miliar dollar AS pada triwulan I-2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/11/43935a51-1b27-45b1-a583-e12d7b4fc877_jpg.jpg)
Perkembangan itu terutama ditopang oleh transaksi berjalan yang mencatatkan defisit sebesar 0,2 miliar dollar AS atau 0,1 persen dari PDB. Defisit transaksi berjalan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV-2024 yang mencatatkan defisit 1,1 miliar dollar AS atau 0,3 persen dari PDB.
Faktor utama yang mendorong penyusutan defisit transaksi berjalan itu antara lain meningkatnya surplus neraca perdagangan barang yang melampaui kenaikan defisit neraca jasa. Selain itu, defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer.
Adapun neraca perdagangan barang pada triwulan I-2025 mencatatkan surplus sebesar 13,05 miliar dollar AS atau meningkat 40,51 persen secara tahunan. Sementara itu, neraca perdagangan jasa mencatatkan defisit 5,43 miliar dollar AS atau meningkat 29,66 persen secara tahunan.
Salah satu yang perlu diantisipasi dari kondisi saat ini adalah melemahnya demand global, yang merupakan dampak tidak langsung dari kebijakan tarif AS. Ini akan berdampak negatif kepada harga komoditas dan ekspor.
Surplus neraca perdagangan barang meningkat, terutama disumbang oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas. Di sisi lain, peningkatan defisit neraca jasa dipengaruhi oleh turunnya surplus jasa perjalanan (travel) seiring penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual berpendapat senada. Dia melihat, salah satu yang menopang neraca transaksi berjalan selama triwulan I-2025 ialah tingginya surplus neraca perdagangan. Namun, surplus itu lebih disebabkan oleh melemahnya impor dan efek pengumuman tarif AS yang kemungkinan meningkatkan ekspor dalam jangka pendek sebagai bentuk antisipasi ke depan.
”Salah satu yang perlu diantisipasi dari kondisi saat ini adalah melemahnya demand global, yang merupakan dampak tidak langsung dari kebijakan tarif AS. Ini akan berdampak negatif kepada harga komoditas dan ekspor,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/e9f6445b-a572-420b-8cc9-deb0eca89670_png.png)
Dengan demikian, David memperkirakan, neraca perdagangan pada triwulan-triwulan berikutnya akan mengalami pelebaran defisit yang lebih besar dibandingkan dengan triwulan I-2025. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh turunnya surplus perdagangan.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia hingga 1,5 persen dari PDB pada 2025 dan sedikit lebih tinggi 1,6 persen pada 2026. Bahkan, ini melebar signifikan dibandingkan dengan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 8,85 miliar dollar AS atau setara 0,6 persen dari PDB.
Josua menambahkan, ada risiko tekanan dari sisi eksternal terhadap ketahanan domestik. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya belanja infrastruktur dan program sosial pemerintah yang mendorong permintaan impor, ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dalam proses hilirisasi, serta belum optimalnya penerimaan jasa dan repatriasi keuntungan dari luar negeri.
”Dengan demikian, tekanan terhadap cadangan devisa dan stabilitas eksternal bisa meningkat, terutama jika tidak diimbangi dengan arus masuk investasi yang kuat dari sisi neraca keuangan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/27884696-a3ee-4868-b30b-d56ec5d117fe_png.png)
Adapun posisi cadangan devisa pada akhir April 2025 tercatat sebesar 152,5 miliar dollar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Oleh karena itu, ke depan, Indonesia perlu memperkuat ketahanan eksternal dengan strategi jangka menengah-panjang. Ini termasuk mendorong diversifikasi dan peningkatan ekspor manufaktur bernilai tambah, mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber devisa jasa.
NPI 2025 diprakirakan tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5 persen sampai dengan 1,3 persen dari PDB.
Selain itu, penting juga untuk menciptakan iklim investasi yang lebih menarik guna mendorong reinvestasi dan masuknya investasi asing langsung (FDI) yang berkelanjutan. Di sisi lain, BI sebaiknya tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan penguatan cadangan devisa agar sentimen pasar tetap positif di tengah kondisi global yang masih rentan terhadap gejolak.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global. Selain itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terkendali di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/04bdedf3ed587705439104b1689223d8-000_38W44KF.jpg)
Ke depan, BI senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan. Langkah ini turut didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
”NPI 2025 diprakirakan tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5 persen sampai dengan 1,3 persen dari PDB,” kata Denny dalam keterangan resmi, Kamis (22/5/2025).
Ia menambahkan, surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar