Data BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen. Ini di luar dugaan karena data-data sektoral justru berkebalikan. Apa saja misalnya?
08 Agt 2025 11:59 WIB · Ekonomi & Bisnis
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana profil pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025?
2. Bagaimana dengan realisasi penerimaan pajak?
3. Seberapa besar penyaluran kredit dari bank?
4. Apa kata Gaikindo terkait penjualan otomotif?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produk domestik bruto nasional pada triwulan II-2025 tumbuh 5,12 persen. Angka ini melampaui ekspektasi sejumlah lembaga ekonomi yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan di bawah 5 persen. Laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 itu sekaligus lebih tinggi ketimbang triwulan I-2025 sebesar 4,87 persen.
Dalam laporan ”Seri Analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook” yang dirilis awal pekan ini, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 berada di kisaran 4,78-4,82 persen secara tahunan.
Sementara itu, konsensus 30 ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 hanya 4,8 persen secara tahunan.
Dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, tidak ada permainan data yang disajikan BPS. Tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 disokong perbaikan kinerja manufaktur.
Sejumlah indikator, menurut Airlangga, mendukung pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025. Di antaranya adalah kenaikan penggunaan uang elektronik sebesar 6,26 persen dan pertumbuhan transaksi lokapasar 7,5 persen. Sementara pertumbuhan investasi sebesar 6,99 persen.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,12 persen pada triwulan II-2025, realisasi penerimaan pajak justru anjlok. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terhadap konsistensi data pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Fadhil Hasan, menyoroti ketidaksesuaian antara pertumbuhan ekonomi dan kinerja penerimaan pajak, khususnya dari sisi konsumsi.
Ia mengatakan, realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada semester I-2025 tercatat Rp 267,3 triliun. Ini turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan semester I-2024 yang mencapai Rp 332,9 triliun.
”Seharusnya, penerimaan pajak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi tumbuh, konsumsi meningkat dan penerimaan dari PPN serta PPnBM juga naik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya,” ujar Fadhil dalam diskusi publik Indef, Rabu (6/8/2025).
Kalau diasumsikan bahwa pajak adalah tahap akhir dari proses ekonomi, Fadhil melanjutkan, telah terjadi anomali antara kinerja pertumbuhan ekonomi dan realisasi penerimaan pajak. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi pajak per semester I-2025 sebesar Rp 831,27 triliun atau 38 persen dari target APBN 2025 senilai Rp 2.189,3 triliun.
Kinerja penerimaan semester I-2025 itu terkontraksi sebesar 7 persen dari semester I-2024 senilai Rp 893,85 triliun. Pemerintah memproyeksikan penerimaan pajak sampai dengan akhir 2025 sekitar 94,9 persen atau 2.076,9 triliun. Artinya, pada semester II-2025 otoritas pajak harus menghimpun penerimaan pajak senilai Rp 1.245,63 triliun.
Penyaluran kredit yang tumbuh melambat hingga Juni 2025 menandakan belum adanya perbaikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan masih minimnya permintaan kredit, baik dari sisi korporasi maupun perorangan masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis uang beredar oleh Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit oleh perbankan hingga Juni 2025 sebesar 7,6 persen secara tahunan. Kredit ini tidak termasuk instrumen keuangan yang disamakan dengan pinjaman serta kredit dari bank umum berkedudukan di luar negeri dan kredit kepada pemerintah pusat.
Dilihat dari jenis penggunaannya, kredit modal kerja dan kredit konsumsi turut melambat, masing-masing menjadi 4,3 persen dan 8,6 persen. Kredit modal kerja tercatat terus melambat sejak Juni 2024 yang tumbuh 10,7 persen, demikian pula kredit konsumsi yang pada Juni 2024 tumbuh 11,4 persen.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan, perlambatan kredit konsumsi dan kredit modal kerja berkaitan erat dengan berbagai aspek yang menopang perekonomian. Artinya, perlambatan kredit tersebut mencerminkan pelemahan dari sisi konsumsi, produksi, serta investasi.
”Kredit modal kerja, kan, berkaitan dengan aktivitas produksi. Kalau kredit modal kerja itu melambat, berarti aktivitas produksi juga mengalami pelambatan yang juga merefleksikan potensi investasi, terutama investasi dalam negeri,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (22/7/2025).
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, kinerja industri otomotif kurang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen.
Menurut Nangoi, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi biasanya berkorelasi dengan peningkatan penjualan mobil. Namun, kali ini justru terlihat adanya ketidaksinkronan antara indikator makroekonomi dan konsumsi kendaraan bermotor.
”Harusnya memang ada relasi antara pertumbuhan ekonomi dan kinerja industri otomotif. Tapi, saya juga agak bingung karena biasanya kalau pertumbuhan cukup tinggi, sektor otomotif juga ikut tumbuh baik,” ujar Nangoi saat dihubungi, Kamis (7/8/2025).
Berdasarkan data Gaikindo, sepanjang 2024, total penjualan kendaraan secara wholesales (dari produsen ke distributor) tercatat sebanyak 865.723 unit. Adapun pada periode Januari-Juni 2025, total penjualan wholesales sebanyak 374.740 unit, turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 410.020 unit.
Penjualan mobil secara retail sales (dari diler ke konsumen) juga turun. Pada semester I-2025, total penjualan mencapai 390.467 unit, sedangkan pada periode yang sama tahun 2024 tercatat 432.453 unit.
Secara bulanan, penjualan wholesales turun sebesar 4,7 persen. Pada Mei 2025 tercatat penjualan sebanyak 60.612 unit, sementara pada Juli turun menjadi 57.760 unit. Meski demikian, penjualan retail sales justru naik tipis sebesar 0,6 persen, dari 61.307 unit menjadi 61.647 unit.
Penulis:
Dimas Waraditya Nugraha, Agustinus Yoga Primantoro, Aguido AdriEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto