Indonesia melahirkan banyak pebulu tangkis ganda putra elite dunia. Salah satu di antara mereka adalah Hendra Setiawan.
26 Jan 2025 10:30 WIB · Olahraga
Jika menyebut nama Hendra Setiawan, rasanya tak ada penggemar bulu tangkis yang tak mengenalnya. Atlet bulu tangkis yang pensiun pada usia 40 tahun ini memiliki gelar juara dari ajang besar yang terbilang lengkap. Kemampuan teknisnya tak ada yang meragukan hingga tak jarang bisa melancarkan berbagai trick shot. Dengan kemampuannya itu, Hendra punya julukan ”Dewa”.
Saat mendengar atau membaca komentar yang menyebut ”Dewa Hendra” atau ketika melihat Hendra dieluk-elukan penggemarnya, saya sering kali tersenyum. Senyum ini mewakili rasa takjub, apalagi ketika mengingat kembali sosok Hendra yang saya kenal saat pertama kali meliput bulu tangkis pada 2006.
Hendra begitu pendiam, sulit untuk diajak ngobrol dengan pernyataan panjang darinya. Ini begitu berbeda dengan Markis Kido, partnernya sejak 1999 saat berlatih di PB Jaya Raya, lalu di pelatnas.
Kido, yang meninggal dunia pada 2021, punya karakter lebih terbuka. Satu sifat Kido yang juga dikenal banyak orang adalah senang bergurau. Dia bahkan harus diingatkan saat saya membutuhkan jawaban serius untuk ditulis.
Sifat Hendra yang kalem dan agak sulit diajak ngobrol, kala itu, semakin saya ketahui melalui kakak tertua Hendra, Silvia Anggraeni. Kakak Hendra yang lain adalah Ivon Anggraeni. Ketiganya menggeluti dunia bulu tangkis yang diperkenalkan melalui ayah mereka, Ferry Yoegianto.
Bungsu dan satu-satunya laki-laki dari tiga bersaudara itu juga pendiam di keluarga. ”Kalau nganter dia ke salon, gue yang harus jelasin potongan rambutnya kaya gimana. Enggak kebayang juga, tuh, saat pacaran, dia ngobrol apa sama pacarnya,” kata Silvia, saat menemuinya menjelang pindah ke Malaysia pada 2009.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/db6ceed49574623b6438b4f690bb9416-20130508MYE27.JPG)
Silvia, bersama suaminya yang merupakan juara dunia bulu tangkis 2001, Hendrawan, dan dua anak mereka pindah ke Kuala Lumpur karena Hendrawan melatih di tim nasional Malaysia. Dia baru kembali ke Indonesia pada 2025 setelah kontrak selesai pada akhir 2024.
Hendrawan juga pernah bercerita, saat jalan-jalan di mal bersama keluarga, termasuk Hendra, dia yang lebih sering disapa orang lain. Padahal, Hendra sudah berstatus juara dunia 2007 dan peraih emas Olimpiade Beijing 2008, bersama Kido.
Karakter pendiam itu, ujar Silvia, tak berubah hingga adiknya itu menjadi salah satu ganda putra terbaik dunia. Selain bersama Kido, Hendra menjadi juara dunia 2013, 2015, dan 2019 bersama Mohammad Ahsan. Duet Hendra/Ahsan juga menjadi juara All England 2014 dan 2019, serta turut mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala Thomas 2020.
Silvia bercerita bahwa tak semua anggota keluarga bisa ngobrol dengan cair bersama Hendra, salah satunya adalah Ivon. ”Satu kali, mereka diminta melayat ke rumah saudara yang meninggal oleh mami. Sehari sebelum berangkat dengan Hendra, Ivon tanya pada saya, ’Besok mesti ngobrol apa, ya, sama Hendra?’”ujar Silvia, sambil terbahak menceritakan kejadian itu.
Momen itu berlangsung tak lama sebelum Silvia menceritakannya pada Desember 2024. Kami bertemu dalam Kejuaraan Nasional Bulu Tangkis di Jakarta. Saat itu, Hendra telah mengumumkan momen pensiunnya.
”Memang sudah waktunya. Usia sudah 40 tahun, sudah sulit bersaing. Keluarga mendukung saat dia bercerita mau pensiun,” kata Silvia.
Namun, di balik karakternya yang pendiam itu, Hendra adalah sosok yang rendah hati. Itu pun tak berubah meski punya segala gelar juara, mulai dari level Asia Tenggara, Asia, hingga dunia. Dalam turnamen perseorangan, kejuaraan beregu, dan multicabang.
Sehari setelah kalah pada babak kedua turnamen Indonesia Masters, 23 Januari 2025, yang menjadi pertandingan terakhirnya bersama Ahsan, Hendra terlihat di area ruang pemain di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Dalam cuaca hujan pada hampir sepanjang Jumat (24/1/2025) di Jakarta, Hendra baru menjemput temannya yang tiba dari Hong Kong untuk menonton Indonesia Masters.
Keramahan Hendra dirasakan semua kalangan, termasuk jurnalis peliput bulu tangkis. Salah satu pengalaman yang mengesankan bagi saya adalah setelah dia menjuarai All England 2014 bersama Ahsan. Turnamen bulu tangkis presitisius itu berlangsung di Birmingham, Inggris, 4-9 Maret.
Sejak sebelum final, saya menghubunginya dan meminta waktu untuk wawancara sekembali dia dari Birmingham dan Hendra menyetujui. Setiba di Jakarta, dia menghubungi dan meminta maaf karena tak bisa segera bertemu. Itu karena PP PBSI telah mengatur kegiatan Hendra/Ahsan untuk wawancara di sejumlah stasiun TV terlebih dulu. Hendra pun menjanjikan akan memberi tahu waktu pertemuan begitu memiliki waktu senggang.
Pertemuan dengan Hendra akhirnya baru terjadi pada 17 Maret di Cipayung setelah dia kembali dari Surabaya untuk menengok istrinya, Sandiani Arief, yang melahirkan anak kembar mereka, pada 19 Februari. Itu menjadi pertemuan pertama Hendra dan dua buah hatinya setelah langsung bertolak ke Inggris, hanya kurang dari dua pekan setelah Richard dan Richelle lahir.
Meski baru bisa bertemu berselang sepekan sejak dia kembali dari Inggris, Hendra menepati janjinya untuk menghubungi ketika sudah memiliki waktu untuk bertemu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/3fe8c3a95857fb3ac2ed8d73876c044d-20140311TOK1.JPG)
Di lapangan, seperti dikatakan Ahsan, kemampuan Hendra jangan ditanya. Ketika harus mengubah pola permainan seiring kecepatan dan kekuatan pukulan yang menurun karena usia, level kemampuan mereka yang sebenarnya justru semakin terlihat. Saat tak bisa lagi mengandalkan speed and power yang menjadi kemampuan dasar pemain ganda putra, mereka bermain dengan ”otak”.
Alih-alih berusaha mengimbangi kecepatan lawan yang lebih muda, mereka mengandalkan pukulan lebih akurat meski dengan ritme pelan. Maka, keluarlah berbagai macam trick shot seperti pengembalian smes dengan posisi kepala raket di pinggul, tubuh sedikit memutar ke belakang, dan kok yang diarahkan menyilang. Meski dalam posisi tertekan, tak jarang pukulan ini berbuah winner karena arahnya tak diduga lawan. Ahsan menyebut ini dengan ”bola pasrah”.
Selain dari hujaman smes Ahsan, duet para ayah dengan tiga anak ini sering mengakhiri adu pukulan dengan sentuhan raket Hendra di bagian depan lapangan. Lawan biasanya mati langkah ketika kok jatuh di dekat net saat mereka dalam posisi bertahan di bagian belakang lapangan.
Kata profesional tak hanya melekat pada status Hendra/Ahsan sebagai atlet nonpelatnas yang harus mengurus dan membiayai sendiri semua kebutuhan turnamen. Hendra juga profesional dalam bersikap, seperti mengikuti program dari pelatih Herry Iman Pierngadi dan Aryono Miranat secara penuh meski hanya berstatus atlet sparring di pelatnas. Hendra pun tak pernah datang terlambat.
Menghadapi ajang besar, seperti Olimpiade atau Kejuaraan Dunia, tak jarang Hendra menginap di asrama pelatnas meski memiliki hak pulang ke rumah sebagai atlet yang telah menikah. Dua bulan menjelang Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Hendra menginap di pelatnas selama empat hari dari enam hari latihan. Dia hanya tidur di rumah pada akhir pekan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/da1122d1-6843-4347-ae36-3120dc7ef53f_jpg.jpg)
Kalaulah pulang ke rumahnya di kawasan Cibubur, Bogor, Hendra tidur di kamar terpisah dengan istrinya, Sandiani, dan kedua anak kembar mereka ketika masih balita. Sansan, panggilan Sandiani, memahami kebutuhan Hendra untuk beristirahat agar tak terganggu anak-anak mereka yang menangis tengah malam. Itu terjadi ketika Hendra akan tampil di Asian Games Incheon 2014.
Komitmen menjalani profesi sebagai atlet tak hanya diperlihatkan di tempat latihan, tetapi juga dibawa ke tempat lain. Saat berlibur di Jepang, pada Desember 2024, dia menyempatkan latihan bersama atlet ganda Jepang, Yuta Watanabe.
Hendra, juga kedua kakaknya, mengenal bulu tangkis dari ayah mereka, Ferry Yoegianto, yang merupakan pelatih di klub bulu tangkis Sinar Mutiara di Pemalang, Jawa Tengah. Setelah mengenal olahraga ini pada usia 6 tahun, dia berlatih di Sinar Mutiara Pemalang pada Selasa, Kamis, dan Sabtu serta Sinar Mutiara Tegal di Senin, Rabu, dan Jumat. Dia diantar ayahnya setiap latihan, mengendarai motor.
Untuk mengembangkan kemampuan anak bungsunya, Ferry memasukkan Hendra ke PB Jaya Raya pada 1997. Itu menjadi pengalaman pertama Hendra, yang berusia 13 tahun, tinggal di asrama. Jauh dari orangtua, Hendra pun tak betah selama setahun pertama. Setelah itu, barulah dia terbiasa dengan kehidupan di asrama.
Di Jaya Raya, dia menjalani rutinitas latihan pagi pukul 05.30-07.30, sekolah (di SMP Ragunan) pukul 08.00-12.00, lalu berlatih lagi pukul 14.00-17.00.
”Karena jadwal latihan lebih banyak, akhirnya sering ngantuk di kelas. Tapi saya enggak pernah tidur karena sungkan sama guru. Selain itu, waktu awal sekolah, satu nilai di rapor jadi merah. Takut juga karena saya enggak pernah dapat nilai merah. Lama-lama, nilai merahnya bertambah, ha-ha-ha....,” kata Hendra saat menceritakan awal kariernya, beberapa tahun lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/5b25809d-1930-4dfb-82b3-a200c50f9039_jpg.jpg)
Kiprahnya sebagai pemain pelatnas dimulai pada 2002, setahun setelah Kido dipanggil lebih dulu. ”Waktu Kido dipanggil pelatnas, saya di Jaya Raya berpasangan dengan Joko Riyadi. Baru pada 2003 main lagi bersama Kido hingga 2012,” kata Hendra.
Tak hanya ganda putra, Hendra pernah main di nomor ganda campuran, yaitu ketika bersatus menjadi atlet profesional. Pada 2010, dia beberapa kali bersaing di ganda putra bersama Kido dan ganda campuran, bersama Anastasia Russkikh (Rusia).
Namun, semua prestasi besarnya dicapai bersama dua partner, yaitu Kido dan Ahsan. Ketiganya bisa saling menyesuaikan diri dengan gaya bermain dan karakter partner hingga bisa konsisten bersaing di level atas.
Semua pencapaian Hendra dan rasa hormat yang didapat dari banyak orang tak pernah terbayangkan oleh keluarganya. ”Apalagi, Hendra orangnya pendiam. Saya bahkan pernah ngasih tahu dia harus belajar untuk bisa ngomong lebih banyak,” kata Silvia.
Hendra bahkan punya julukan yang lain dari penggemar, yaitu ”dewa”. ”Lucu waktu dengar ada yang bilang dewa. Saya baru denger di China. Enggak dewa-lah. Kalau dewa, pasti saya menang terus,” kata ”Dewa Hendra” yang rendah hati.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko Prihananto