Gideon Levy, kolumnis ”Haaretz”, menyebut intensi Israel dengan perluasan serangan akhir-akhir ini adalah untuk menduduki lagi—atau setidaknya sebagian—Jalur Gaza.
03 Apr 2025 06:00 WIB · Opini
Ada kekhawatiran sangat serius, Israel saat ini tengah memulai de- populasi Gaza. Langkah ini bagian dari upaya aneksasi enklave itu. Dunia tak boleh berdiam diri.
Tidak ada jeda dari duka nestapa di Jalur Gaza. Pada hari raya Idul Fitri pun tidak ada kesempatan bagi warga Palestina untuk menghela napas sejenak dari gempuran Israel yang kalap dan membabi buta. Dilaporkan media, dalam serangan Israel sejak Selasa malam hingga Rabu (2/4/2025) sedikitnya 41 warga Gaza tewas, hampir separuhnya adalah anak-anak.
Pada Rabu kemarin, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan melalui pernyataan tertulis perluasan operasi besar-besaran di Jalur Gaza. Targetnya adalah menguasai wilayah yang luas untuk ditambahkan ke dalam zona penyangga keamanan negara Israel. Warga Palestina juga dipaksa mengungsi dari Rafah dan Khan Younis.
Zona penyangga itu selebar sekitar 1 kilometer atau lebih berdekatan dengan teritorial Israel. Menurut kelompok hak asasi manusia Israel, Gisha, yang dikutip Reuters, militer Israel telah menguasai sekitar 62 kilometer persegi atau 17 persen dari total wilayah Gaza. Seluruh bangunan di wilayah seluas itu telah diratakan dengan tanah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/c87827334db0222439fd1c3eb7118f2d-Gaza_Evacuation_128688882.jpg)
Pernyataan Katz tidak menyebut luasan tanah di Gaza yang ingin dimasukkan ke dalam zona penyangga. Ia juga tak menyebutkan, apakah langkah itu bagian dari aneksasi permanen Israel di Gaza. Namun, banyak warga Palestina meyakini hal itu baru awal dari depopulasi atau pengusiran warga Gaza.
Tahani Mustafa dari lembaga International Crisis Group, dalam wawancara dengan Al Jazeera, mengatakan, langkah terbaru Israel tersebut memperkuat dugaan bahwa tujuan perang Israel di Gaza yang sebenarnya adalah penghancuran total Jalur Gaza dan pengusiran paksa 2,3 juta warganya.
Langkah terbaru Israel tersebut memperkuat dugaan bahwa tujuan perang Israel di Gaza yang sebenarnya adalah penghancuran total Jalur Gaza dan pengusiran paksa 2,3 juta warganya.
Untuk memperluas operasi militernya itu, seperti dilaporkan Times of Israel (2/4/2025), Israel mengerahkan pasukan darat Divisi Ke-36 ke Gaza selatan. Di mata perkumpulan Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang di Israel, militer Israel sudah tidak memedulikan nasib para sandera yang masih ditahan Hamas. ”Apakah sudah diputuskan bahwa para sandera dikorbankan demi menguasai teritorial?” sebut mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/1e00fe4735aea48e8270d27e7a2a1a46-APTOPIX_Israel_Palestinians_128319779.jpg)
Keputusan militer Israel tersebut, kata forum itu, sangat mengguncang mereka. Tidak ada niat sama sekali dari Israel untuk segera mengupayakan pembebasan 59 sandera, sedikitnya 35 orang di antaranya sudah tewas, dan mengakhiri perang Gaza.
Jika Israel punya niat itu, seharusnya jalan negosiasi— bukan tekanan militer—yang ditempuh. Tekanan militer tidak akan membuat Hamas mau melepaskan sandera Israel.
Gideon Levy, kolumnis pada media Israel, Haaretz, menyebut intensi Israel dengan perluasan serangan akhir-akhir ini adalah untuk menduduki lagi—atau setidaknya sebagian—Jalur Gaza (Al Jazeera, 2/4/2025). Depopulasi Gaza oleh Israel yang tengah berlangsung saat ini harus dihentikan.
Dunia tak boleh diam. Komunitas internasional, termasuk negara-negara Arab, harus mengonsolidasikan kekuatan dan terus menekan Israel agar menghentikan depopulasi Gaza.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Marcellus Hernowo