”Hidup Baru” Perempuan di Afghanistan

Potret perempuan pemandu wisata di Afghanistan.

07 Agt 2025 10:11 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Maryam, seorang pemandu wisata Afghanistan, membantu turis asal Australia, Suzanne Sandral, mengenakan jilbab di Kabul, Afghanistan. Hari itu adalah hari pertama pelatihan untuk menjadi pemandu wisata bagi Maryam. Tak membutuhkan waktu lama, tangan lincah Maryam membuat Sandral mengenakan jilbabnya dengan rapi. 

Layaknya sebuah tur wisata, mereka menjelajahi museum, mendengarkan dengan saksama saat pemandu mereka menjelaskan barang-barang antik di lemari pajangan. Turis mana pun, dari mana pun di dunia, bisa saja datang. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa tentang tur kali ini.

Rombongan wisatawan asing yang mengunjungi Museum Nasional Afghanistan hanya terdiri dari perempuan. Pemandunya pun seorang perempuan. Mereka adalah salah satu pemandu wisata perempuan Afghanistan pertama di negara yang para pemimpin Taliban-nya menerapkan pembatasan paling ketat terhadap perempuan di seluruh dunia.

Maryam, seorang pemandu wisata Afghanistan pada hari pertama pelatihan untuk menjadi pemandu wisata, membantu turis Australia Suzanne Sandral menyesuaikan jilbabnya di Kabul, Afghanistan, 28 Mei 2025.

Somaya Moniry, perempuan berusia 24 tahun ini, sebelumnya tidak tahu bahwa pemandu wisata itu ada, baik sebagai sebuah profesi maupun sebuah konsep. Hingga suatu hari saat menjelajahi internet untuk mencari bantuan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris-nya, ia menemukan Couchsurfing. Itu adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan wisatawan terhubung dengan penduduk setempat dan menginap di rumah mereka. Terinspirasi aplikasi itu, ia berpikiran segara akan mencobanya. 

Saat ia menunjukkan kampung halamannya di Afghanistan barat kepada pengunjung pertamanya, ia melihat sisi baru negaranya. ”Sebagian besar hal yang kami dengar tentang Afghanistan (di luar sana) hanyalah kekerasan,” ujarnya. Namun, baginya, Afghanistan jauh lebih bernuansa. 

Meskipun masih banyak masalah di tempat yang baru pulih dari perang dan kekacauan selama puluhan tahun, ada juga sisi lain dari negara yang kompleks dan menakjubkan ini. Kecintaannya pada tanah airnya begitu mendalam, dan ia ingin membagikannya. Ia berharap dapat mengubah persepsi masyarakat secara bertahap. Moniry telah melihat banyak keindahan alam di banyak tempat di Afghanistan, dan ia berharap nantinya pengunjung juga merasakan tentang keindahannya. 

Pemandangan ladang dekat ceruk patung Buddha raksasa yang dihancurkan oleh Taliban pada tahun 2001, di Bamiyan, Afghanistan, 17 Juni 2023.
Taman Nasional Band-e-Amir, dengan danau biru yang menakjubkan dan tebing yang menjulang tinggi, terlihat di Provinsi Bamiyan, Afghanistan, 8 November 2016.
Pemandu wisata Afghanistan, Somaya Moniry (kiri), dan wisatawan yang dipandunya, Suzanne Sandral, berpose di samping helikopter militer saat kunjungan ke Museum Perang di Kabul, Afghanistan, Rabu (28/5/2025).
Zoe Stephens dari Inggris berswafoto dengan turis wanita asing lainnya dan pemandu wisata lokal Maryam (kiri), di Istana Darul Aman di Kabul, Afghanistan, Rabu (28/5/2025).

Salah satu pengunjung tersebut adalah Suzanne Sandral, warga Australia. Awalnya ia ingin mengunjungi Afghanistan pada tahun 1960-an, tetapi tekanan keluarga membuatnya mengurungkan niatnya. Kini di usia 82 tahun, ia menjadi bagian dari rombongan tur khusus perempuan Moniry di Kabul.

Afghanistan mengejutkannya. ”Sama sekali tidak seperti yang kuharapkan. Aku mengira akan merasa agak takut, tetapi tidak sama sekali,” katanya saat beristirahat. Sepanjang perjalanan, ia mendapatkan sapaan senyum atau angukan kecil saat mencoba tersenyum. Ini berlawanan dengan yang ia bayangkan sebelumnya. Namun, dia juga sadar bahwa perempuan setempat memiliki lebih sedikit kebebasan dibandingnya.

Suasana Kuil Sakhi Shah-e Mardan di Kabul, Afghanistan, 7 Juni 2023.

Industri baru

Perang selama empat dekade telah membuat wisatawan menjauh dari Afghanistan. Pengambilalihan kekuasan oleh Taliban pada Agustus 2021 menyebabkan ribuan warga mengungsi, bahkan keluar dari negaranya. Serangan sporadis yang masih sesekali terjadi membuat negara-negara Barat menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke Afghanistan. 

Namun, peningkatan keamanan semakin menarik minat wisatawan asing yang tertarik dengan pemandangan yang dramatis, sejarah ribuan tahun, dan budaya keramahtamahan yang telah mengakar kuat. Pariwisata Afghanistan adalah industri yang masih berkembang, dengan jumlah pengunjung tahunan yang hanya ribuan. Sebagian besar adalah wisatawan petualang independen. 

Namun, seiring meningkatnya permintaan paket wisata berpemandu dari sejumlah negara, seperti China, Yunani, Belanda, dan Inggris, membuat pemerintah Taliban Afghanistan sangat antusias. Visa turis, yang biasanya hanya berlaku sekali masuk untuk kunjungan hingga 30 hari, kini relatif mudah diperoleh dari beberapa kedutaan besar yang menerbitkannya. Penerbangan reguler yang menghubungkan Kabul dengan pusat transit utama, seperti Dubai dan Istanbul, juga tersedia.

Seorang pria menunggang kuda di tepi danau Qargha di Kabul, Afghanistan, 9 Juni 2025.

Bagi sebagian orang, gagasan mengunjungi Afghanistan sebagai turis adalah hal yang menyakitkan secara moral, terutama mengingat perlakuan pemerintah terhadap wanita. Anak perempuan dilarang mengenyam pendidikan di atas jenjang sekolah dasar. Perempuan di Afghanistan juga hidup di bawah berbagai macam pembatasan. 

Pemerintah mengatur pakaian apa yang boleh mereka kenakan di depan umum, ke mana mereka boleh pergi, dan dengan siapa mereka boleh pergi. Mereka tidak boleh berjalan-jalan di taman atau makan di restoran. Salon kecantikan dilarang. Hanya sejumlah kecil profesi, seperti mengajar dan menenun karpet, yang terbuka bagi perempuan di sana.

Namun, peraturan dapat berubah dengan cepat. Mereka yang terlibat dalam pariwisata menunjukkan dampak positif yang dapat diperoleh dengan mengunjungi Afghanistan. ”Saya sungguh-sungguh percaya pada pariwisata yang etis,” kata Zoe Stephens, pemimpin tur asal Inggris di Koryo Tours. Perusahaan ini mempunyai spesialisasi dalam destinasi-destinasi unik. Ia optimistis bahwa budaya, sejarah, makanan, serta keramahtamahan warga Afghanistan akan menjadi daya tarik positif.

Tiga turis wanita, mengunjungi Istana Darul Aman ditemani oleh tiga pemandu wisata wanita di Kabul, Afghanistan, 28 Mei 2025.

Dari tiga tur terbaru yang dipimpin Stephens di Afghanistan, dua di antaranya khusus untuk perempuan. Ia bekerja sama dengan pemandu perempuan lokal, termasuk Moniry. Mereka menggabungkan obyek wisata utama dengan kunjungan ke pusat-pusat kegiatan perempuan serta kelas memasak dan menyulam dari perempuan lokal. Sebuah kegiatan yang yang tertutup bagi wisatawan laki-laki. Stephens bercita-cita membangun jaringan dengan pemandu wisata perempuan dari seluruh pelosok Afghanistan.

(AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto