Warga di Fukushima mencoba kembali ke tanah leluhurnya setelah bencana kebocoran PLTN Fukushima tahun 2011.
11 Mar 2026 10:30 WIB · Internasional
AP/Louise Delmotte
Perlahan Tomoko Kobayashi mengambil sebuah cetakan foto yang menempel di dinding rumahnya. Foto yang diabadikan oleh mendiang suaminya itu menunjukkan saat ia dan kerabatnya berada di luar penginapan mereka pada musim panas 2011.
Saat itu, mereka berkesempatan kembali sebentar untuk menengok rumah sekaligus penginapannya setelah mengungsi akibat bencana gempa bumi pada 11 Maret 2011 di Odaka, Jepang. Sambil bercerita, sesekali Kobayashi melihat angka yang tertera di alat pengukur radiasi berwarna kuning di tangannya.
Tak jauh dari rumahnya, beberapa karangan bunga tergeletak di depan sebuah bangunan yang dulu merupakan tempat bermain pachinko, mesin permainan ketangkasan yang digemari warga. Beberapa warga yang berkesempatan mengunjungi daerah yang dulu menjadi lingkungan tempat tinggal mereka itu menaruh karangan bunga kering.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/40b533bc-9f2e-4779-ac28-be5690c5b45b.jpg)
Gempa bumi bermagnitudo 9 yang disusul tsunami dahsyat pada 11 Maret 2011 menyebabkan bencana luar biasa di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Gempa melumpuhkan sistem pendingin yang berakibat melelehnya beberapa peralatan unit reaktor.
Bencana ini memaksa lebih dari 150.000 penduduk untuk meninggalkan Fukushima dan mencari tempat lain yang lebih aman. Pemerintah menetapkan zona berbahaya di beberapa tempat di area PLTN tak lama setelah kota itu kosong.
Kini, 15 tahun setelah bencana nuklir 2011, beberapa warga yang dahulu tinggal di Fukushima perlahan-lahan mencoba menghidupkan kembali kota-kota yang dulu ditinggalkan. Salah satunya adalah Tomoko Kobayashi.
Peta radiasi berkode warna tergantung di dinding Futabaya Ryokan. Tempat ini adalah penginapan milik keluarga yang dikelola Kobayashi di timur laut Fukushima.
Kobayashi melakukan survei radiasi sendiri sebelum membuka kembali penginapan tersebut pada tahun 2016. Sekarang, dia dan para pemantau lainnya berbagi data radiasi sebagai bagian dari upaya untuk membangun kembali kota tekstil yang dulu ramai ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/781689c9-6b1d-4466-954b-994500f2920f.jpg)
”Lahan-lahan kosong ini dulu dipenuhi toko-toko,” kata Kobayashi mengenang kota sebelum bencana itu terjadi. Sambil menuju laboratorium pemantauan radiasi, ia melewati taman kanak-kanak tempatnya bersekolah saat kecil. Sekarang tempat itu digunakan sebagai museum karena jumlah anak-anak terlalu sedikit sejak krisis nuklir.
Hanya sekitar sepertiga dari populasi Odaka sebelum bencana, yang berjumlah 13.000 jiwa, yang memutuskan kembali selama dekade terakhir. ”Kota ini hancur dan kami perlu membangunnya kembali,” katanya.
Ia sadar bahwa proses ini akan memakan waktu lama, bahkan mungkin tidak dapat diselesaikan dalam beberapa dekade. Tapi, Kobayashi optimistis akan ada kemajuan dan pembangunan walau tak sepenuhnya pulih seperti sebelum bencana.
Ketika gempa berkekuatan magnitudo 9,0 melanda lepas pantai timur laut Jepang pada pukul 14.46 tanggal 11 Maret 2011, Kobayashi berada di penginapan Futabaya. Meskipun guncangan berlangsung lama dan hebat, dinding penginapan tidak runtuh.
Namun, sekitar satu jam kemudian, tsunami seperti sungai menerjang dapur, katanya. Gelombang yang jauh lebih tinggi menghantam pembangkit nuklir Fukushima Daiichi dan menyebabkan kerusakan yang disertai semburan partikel radioaktif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/2a581838-0a67-49d6-8c19-b5a3b9c2545b.jpg)
Keluarga Kobayashi awalnya menuju ke sebuah gimnasium di kota Haramachi, tetapi gimnasium itu penuh. Akhirnya, mereka sampai ke Nagoya, tempat dia dan suaminya tinggal selama setahun.
Pada tahun 2012, pasangan itu kembali ke Fukushima untuk mulai mengukur radiasi sambil tinggal di perumahan sementara di dekat Odaka, yang masih terlarang untuk diakses. Kota itu perlahan pulih sebagian sejak saat itu.
Sebagian besar tamunya adalah mahasiswa dan orang yang ingin belajar tentang Fukushima serta orang-orang yang tertarik untuk membuka bisnis baru. Saat itu, ia terus melakukan pengukuran, sebuah kebiasaan yang dulu tidak pernah ia lakukan.
Ia belajar melihat apa yang dulu tak terlihat olehnya dan memahami radiasi. ”Sekarang ini telah menjadi misi seumur hidup saya,” ucapnya sambil melihat angka di layar monitor yang selalu dibawanya.
Kobayashi dan rekan-rekannya berkumpul dua kali dalam setahun dan menghabiskan waktu dua minggu untuk mengukur kualitas udara di ratusan lokasi agar dapat menghasilkan peta berkode warna. Mereka juga telah mendirikan laboratorium untuk menguji hasil bumi lokal guna menentukan apa yang aman untuk dikonsumsi dan disajikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/6a9af799-b1d6-4d88-be11-ec078927d549.jpg)
”Kami bukan ilmuwan profesional, tetapi kami dapat mengukur dan menunjukkan datanya,” katanya.
Bagi Kobayashi dan orang-orang yang memutuskan melanjutkan kehidupan di sekitar Fukushima, mata mereka akan selalu melihat angka di layar dan warna di tembok-tembok kota. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti