15 TAHUN FUKUSHIMA

Hidup Berdampingan dengan Radiasi

Warga di Fukushima mencoba kembali ke tanah leluhurnya setelah bencana kebocoran PLTN Fukushima tahun 2011.

11 Mar 2026 10:30 WIB · Internasional

AP/Louise Delmotte

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Dinding di sekolah dasar Ukedo yang rusak oleh tsunami 2011 terlihat di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).
Kantong hitam berisi tanah yang dikumpulkan selama pekerjaan dekontaminasi ditumpuk di Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang, Jumat (13/2/2026).
Dinding laut pencegah tsunami berdiri di sepanjang pantai di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).

Perlahan Tomoko Kobayashi mengambil sebuah cetakan foto yang menempel di dinding rumahnya. Foto yang diabadikan oleh mendiang suaminya itu menunjukkan saat ia dan kerabatnya berada di luar penginapan mereka pada musim panas 2011. 

Saat itu, mereka berkesempatan kembali sebentar untuk menengok rumah sekaligus penginapannya setelah mengungsi akibat bencana gempa bumi pada 11 Maret 2011 di Odaka, Jepang. Sambil bercerita, sesekali Kobayashi melihat angka yang tertera di alat pengukur radiasi berwarna kuning di tangannya.

Tak jauh dari rumahnya, beberapa karangan bunga tergeletak di depan sebuah bangunan yang dulu merupakan tempat bermain pachinko, mesin permainan ketangkasan yang digemari warga. Beberapa warga yang berkesempatan mengunjungi daerah yang dulu menjadi lingkungan tempat tinggal mereka itu menaruh karangan bunga kering. 

Pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang rusak akibat gempa bumi dan tsunami 11 Maret 2011, terlihat dari sebuah bukit di Tomioka, timur laut Jepang, Selasa (10/2/2026).

Gempa bumi bermagnitudo 9 yang disusul tsunami dahsyat pada 11 Maret 2011 menyebabkan bencana luar biasa di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Gempa melumpuhkan sistem pendingin yang berakibat melelehnya beberapa peralatan unit reaktor. 

Bencana ini memaksa lebih dari 150.000 penduduk untuk meninggalkan Fukushima dan mencari tempat lain yang lebih aman. Pemerintah menetapkan zona berbahaya di beberapa tempat di area PLTN tak lama setelah kota itu kosong.

Dinding di sekolah dasar Ukedo yang rusak oleh tsunami 2011 terlihat di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).
Kantong hitam berisi tanah yang dikumpulkan selama pekerjaan dekontaminasi ditumpuk di Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang, Jumat (13/2/2026).
Dinding laut pencegah tsunami berdiri di sepanjang pantai di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).

Kini, 15 tahun setelah bencana nuklir 2011, beberapa warga yang dahulu tinggal di Fukushima perlahan-lahan mencoba menghidupkan kembali kota-kota yang dulu ditinggalkan. Salah satunya adalah Tomoko Kobayashi.

Peta radiasi berkode warna tergantung di dinding Futabaya Ryokan. Tempat ini adalah penginapan milik keluarga yang dikelola Kobayashi di timur laut Fukushima. 

Kobayashi melakukan survei radiasi sendiri sebelum membuka kembali penginapan tersebut pada tahun 2016. Sekarang, dia dan para pemantau lainnya berbagi data radiasi sebagai bagian dari upaya untuk membangun kembali kota tekstil yang dulu ramai ini.

Sebuah pagar memblokir akses ke area terlarang yang ditetapkan sebagai 'daerah terlarang" setelah bencana nuklir Fukushima Daiichi 2011 di daerah pesisir prefektur Fukushima, Jumat (13/2/2026).

”Lahan-lahan kosong ini dulu dipenuhi toko-toko,” kata Kobayashi mengenang kota sebelum bencana itu terjadi. Sambil menuju laboratorium pemantauan radiasi, ia melewati taman kanak-kanak tempatnya bersekolah saat kecil. Sekarang tempat itu digunakan sebagai museum karena jumlah anak-anak terlalu sedikit sejak krisis nuklir.

Hanya sekitar sepertiga dari populasi Odaka sebelum bencana, yang berjumlah 13.000 jiwa, yang memutuskan kembali selama dekade terakhir. ”Kota ini hancur dan kami perlu membangunnya kembali,” katanya.

Ia sadar bahwa proses ini akan memakan waktu lama, bahkan mungkin tidak dapat diselesaikan dalam beberapa dekade. Tapi, Kobayashi optimistis akan ada kemajuan dan pembangunan walau tak sepenuhnya pulih seperti sebelum bencana.

Karyawan berdiri di samping tembok laut di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (Tepco), di Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang,Kamis (12/2/2026).
Bunga buatan tergeletak di antara puing-puing di luar ruang ketangkasan ”pachinko” yang ditinggalkan di Tomioka, Fukushima, Jepang, Jumat (13/2/2026).
Sebuah ruang kelas di sekolah dasar Ukedo yang rusak oleh tsunami 2011 terlihat di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).
Kuil Kusano yang hancur oleh tsunami 2011 dan kemudian dibangun kembali berdiri di sebuah ladang di Namie, Prefektur Fukushima, Jepang, Kamis (12/2/2026).
Sebuah petunjuk tempat tergeletak di antara rumput liar di Namie, Prefektur Fukushima, Kamis (12/2/2026).

Bencana dahsyat

Ketika gempa berkekuatan magnitudo 9,0 melanda lepas pantai timur laut Jepang pada pukul 14.46 tanggal 11 Maret 2011, Kobayashi berada di penginapan Futabaya. Meskipun guncangan berlangsung lama dan hebat, dinding penginapan tidak runtuh. 

Namun, sekitar satu jam kemudian, tsunami seperti sungai menerjang dapur, katanya. Gelombang yang jauh lebih tinggi menghantam pembangkit nuklir Fukushima Daiichi dan menyebabkan kerusakan yang disertai semburan partikel radioaktif.

Para pekerja berjalan melalui pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO), di Okuma, Prefektur Fukushima, Kamis (12/2/2026).

Keluarga Kobayashi awalnya menuju ke sebuah gimnasium di kota Haramachi, tetapi gimnasium itu penuh. Akhirnya, mereka sampai ke Nagoya, tempat dia dan suaminya tinggal selama setahun.

Pada tahun 2012, pasangan itu kembali ke Fukushima untuk mulai mengukur radiasi sambil tinggal di perumahan sementara di dekat Odaka, yang masih terlarang untuk diakses. Kota itu perlahan pulih sebagian sejak saat itu. 

Sebagian besar tamunya adalah mahasiswa dan orang yang ingin belajar tentang Fukushima serta orang-orang yang tertarik untuk membuka bisnis baru. Saat itu, ia terus melakukan pengukuran, sebuah kebiasaan yang dulu tidak pernah ia lakukan. 

Bekas gedung Balai Kota Futaba yang ditinggalkan setelah evakuasi mendadak karena ketakutan akan radiasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima yang rusak setelah gempa bumi 11 Maret 2011 di Futaba, Jepang, Selasa (10/2/2026).
Futabaya Ryokan Tomoko Kobayashi saat fajar di Odaka, Fukushima, Jepang, Jumat (13/2/2026).
Tomoko Kobayashi mengukur radiasi dengan monitor radiasi selama wawancara di Odaka, Jepang, Jumat (13/2/2026).
Tomoko Kobayashi, Jumat (13/2/2026), memegang sebuah foto keluarga yang diambil oleh mendiang suaminya di luar penginapan mereka pada musim panas 2011. Ia kembali sebentar setelah mengungsi seusai bencana 11 Maret 2011 di Odaka, Jepang.
Yukio Shirahige membaca hasil setelah mengukur sampel di laboratorium pemantauan radiasi penduduk di Odaka, Jumat (13/2/2026). AP/Louise Delmotte
Tomoko Kobayashi menyajikan sup miso untuk sarapan di Futabaya Ryokan di Odaka, Prefektur Fukushima, Jumat (13/2/2026).

Ia belajar melihat apa yang dulu tak terlihat olehnya dan memahami radiasi. ”Sekarang ini telah menjadi misi seumur hidup saya,” ucapnya sambil melihat angka di layar monitor yang selalu dibawanya.

Kewaspadaan mandiri

Kobayashi dan rekan-rekannya berkumpul dua kali dalam setahun dan menghabiskan waktu dua minggu untuk mengukur kualitas udara di ratusan lokasi agar dapat menghasilkan peta berkode warna. Mereka juga telah mendirikan laboratorium untuk menguji hasil bumi lokal guna menentukan apa yang aman untuk dikonsumsi dan disajikan.

Tomoko Kobayashi menunjukkan monitor alat radiasi setelah mengukur radiasi selama wawancara di Odaka, Jumat (13/2/2026).

”Kami bukan ilmuwan profesional, tetapi kami dapat mengukur dan menunjukkan datanya,” katanya.

Bagi Kobayashi dan orang-orang yang memutuskan melanjutkan kehidupan di sekitar Fukushima, mata mereka akan selalu melihat angka di layar dan warna di tembok-tembok kota. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti