Hilangnya Rumah Penuh Kenangan Saat Bencana Melanda Sukabumi

Bencana alam yang menerjang 39 kecamatan di Kabupaten Sukabumi meninggalkan dukacita dan trauma mendalam bagi para korban.

08 Des 2024 20:16 WIB · Lingkungan

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

Bencana alam di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, awal pekan ini menyisakan trauma dan duka mendalam bagi para penyintas. Dari tempat pengungsian, mereka menyimpan harapan dapat kembali ke rumah yang penuh kenangan.

Syamsul (39) melangkahkan kaki memasuki Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, pada Minggu (8/12/2024). Ayah tiga anak ini ditemani istrinya, Neni (30), dan beberapa kerabat lainnya.

Syamsul hendak melihat rumahnya di Cihonje. Perjalanan ke Kampung Cihonje yang dihuni 185 warga itu melalui lokasi bencana pergerakan tanah yang sangat berbahaya.

Rumah Syamsul termasuk 40 unit rumah di Cihonje yang rusak berat akibat pergerakan tanah pada Selasa (3/12/2024). Bencana dipicu hujan yang mengguyur Sukabumi selama dua hari berturut-turut.

Warga melintasi jalan yang retak akibat pergerakan tanah di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/12/2024). Pergerakan tanah di Kampung Cihonje yang disebabkan hujan berintensitas sedang hingga deras terjadi pada Selasa (3/12) petang. Bencana ini menyebabkan puluhan rumah rusak dan ratusan warga mengungsi. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 08-12-2024

Mereka melewati jalan beraspal yang terbelah dengan lebar sekitar 20 sentimeter. Rasa rindu untuk melihat rumah mendorong Syamsul dan keluarganya nekat ke tempat itu.

Saat tiba di depan rumah, Syamsul terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menatap bagian dapur dan kamar mandi yang roboh pada Selasa malam sekitar pukul 18.00 WIB.

Saat itu ia dan keluarga meninggalkan rumah dalam kondisi hujan deras. Mereka sempat mengungsi ke masjid di Cihonje. Kemudian, pindah ke rumah kerabatnya keesokan harinya.

”Peristiwa ini sangat mendadak. Tiba-tiba terjadi retakan di lantai rumah saat hujan deras pada Selasa sore,” ungkapnya saat ditemui Kompas.

Warga mengecek rumah yang rusak akibat pergerakan tanah di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/12/2024). Pergerakan tanah di Kampung Cihonje yang disebabkan hujan berintensitas sedang hingga deras terjadi pada Selasa (3/12) petang. Bencana ini menyebabkan puluhan rumah rusak dan ratusan warga mengungsi. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 08-12-2024

Untuk saat ini, Syamsul bersama istri dan anaknya mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman. Ia belum memiliki rencana pindah ke tempat lain.

”Kami belum berani kembali ke sini. Mudah-mudahan ada solusi relokasi dari pemerintah ke tempat yang lebih aman di sekitar sini,” ujarnya.

Berbeda dengan Syamsul, seorang warga bernama Ipon (56) memilih kembali ke rumahnya. Ibu empat anak ini tinggal di sana bersama lima kerabatnya.

Quote

Peristiwa ini sangat mendadak. Tiba-tiba terjadi retakan di lantai rumah saat hujan deras pada Selasa sore.

Ia mengabaikan retakan tanah yang mulai terlihat di beberapa ruangan rumahnya. Retakan tanah juga terlihat di halaman rumahnya.

Aktivitas warga terdampak tanah bergerak yang mengungsi di SDN 2 Tegalpanjang, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/12/2024). Bencana tanah bergerak yang melanda Kampung Cihonje pada Selasa (3/12/2024) petang menyebabkan puluhan rumah rusak dan ratusan warga mengungsi. Warga terdampak tanah bergerak tersebar di tiga posko pengungsian, yakni SDN 2 Tegalpanjang, SDN Sukamaju, dan kantor Desa Sukamaju. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 08-12-2024

”Saya merasa nyaman lebih di sini daripada mengungsi ke rumah kerabat. Kami akan pindah saat hujan kembali mengguyur Cihonje,” ucap Ipon.

Sekitar 1 kilometer dari kampung itu, terdapat puluhan warga yang mengungsi di SD Negeri 2 Tegalpanjang. Mereka menginap di dua ruangan kelas selama lima hari terakhir.

Sebelumnya terdapat sekitar 100 warga yang mengungsi di sana. Berselang beberapa hari kemudian banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing dan pindah ke rumah kerabat.

Lina (39) termasuk salah satu warga yang tetap bertahan di lokasi pengungsian. Ia bersama suami dan empat kerabatnya di SDN 2 Tegalpanjang.

Lina masih trauma ketika ruang tamunya roboh saat terjadi bencana pergerakan tanah. Sebab, tak pernah terjadi peristiwa ini selama tiga dekade terakhir di Cihonje.

”Di sini (lokasi pengungsian) semua kebutuhan terpenuhi. Tapi, kami tetap merasa lebih nyaman di rumah sendiri,” ungkap ibu empat anak ini.

Terus bertambah

Bencana banjir bandang disertai longsor dan pergerakan tanah terjadi di 39 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jumlah korban tewas hingga Minggu ini bertambah dari 8 hingga 10 orang.

Bencana ini terjadi pada Selasa sore dan Rabu lalu. Bencana alam ini dipicu hujan dengan intesitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi selama dua hari. Rata-rata ketinggian air 1 meter hingga 2 meter.

Upaya Tim SAR mencari dua warga yang tertimbun longsoran tanah di Kecamatan Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (6/12/2024). Total sebanyak empat warga belum ditemukan hingga kini.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi, sebanyak 143 desa di 39 kecamatan tersebut yang terdampak bencana. Total sebanyak 317 titik bencana.

Sebanyak 137 titik longsor, 76 titik banjir, dan 83 titik bencana pergerakan tanah. Sementara lokasi yang terdampak angin kencang di 21 titik.

Pada tanggal yang sama juga terjadi banjir dan longsor di 18 kecamatan Kabupaten Cianjur. Tiga orang tewas dalam peristiwa ini dan 2.993 orang terdampak bencana.

”Masih ada dua korban jiwa yang tertimbun di wilayah Sukabumi. Kami akan terus mencari dua korban meskipun pihak keluarga sudah ikhlas dengan musibah ini,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen Suharyanto seusai rapat koordinasi penanggulangan bencana di Sukabumi, Minggu sore.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto (tengah) didampingi Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey (kiri) serta Wali kota Manado, Andrei Angouw (kedua dari kanan) meninjau lokasi pengungsian di Kelurahan Molas, di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (28/1/2023). Sehari sebelumnya, Manado dilanda banjir dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya lima orang.

Ia memaparkan, masih terdapat 3.156 keluarga di Sukabumi yang mengungsi secara mandiri ataupun di lokasi yang terpusat. Sementara di Cianjur, seluruh warga yang sempat mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

”Kami bersama pemda Sukabumi dan Cianjur terus menyalurkan bantuan makanan dan barang kebutuhan pokok lainnya bagi para korban. Jalan yang sempat tertutup longsoran tanah telah dapat dilalui kembali,” ucapnya.

Musibah yang terjadi di Sukabumi dan Cianjur memang fenomena alam yang tidak dapat diprediksi. Akan tetapi, warga perlu menyiapkan upaya mitigasi demi meminimalkan dampak bencana.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P