Untuk jangka panjang, perang AS-Israel melawan Iran memicu reorientasi dunia dari petrodolar pada cadangan lain, seperti yuan, rupee, atau bahkan euro.
30 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional
AP Photo/Altaf Qadri
Kemelut perang di kawasan Teluk, ”penutupan” Selat Hormuz dan krisis energi yang kini mengimbas dunia, mengungkap setidaknya dua hal serius sekaligus menarik. Pertama, memperlihatkan kerentanan dunia akibat ketergantungan pada minyak dan gas. Kedua, ini yang menarik, potensi pergeseran penggunaan mata uang nondolar, khususnya yuan, dalam transaksi energi.
Terkait isu pertama, Perang Arab-Israel pada 1973, Perang Teluk 1990-1991, dan terakhir Perang Israel-AS melawan Iran menegaskan bahwa krisis di kawasan Teluk mengancam ketahanan energi dunia. Dampaknya bukan sekadar pada ketersediaan pasokan bahan bakar, melainkan juga mengimbas pula pada isu pupuk yang berujung pada persoalan ketahanan pangan.
Di sisi lain, analis Deutsche Bank, Mallika Sachdeva, melihat, perang AS-Israel melawan Iran bakal menguji ketahanan dolar AS sebagai alat tukar utama dalam perdagangan energi. ”Konflik tersebut dapat menjadi katalis bagi erosi dominasi petrodolar dan awal mula petroyuan,” kata Sachdeva sebagaimana dikutip Bloomberg.
Jika celah tersebut makin terbuka, menurut dia akan ada dampak signifikan atas penggunaan dolar dalam perdagangan dan cadangan global. Merujuk laman Deutsche Bank Research Institute, Sachdeva menyebutkan, sejatinya pondasi rezim petrodolar telah berada di bawah tekanan, bahkan sebelum perang kali ini terjadi.
Sebagaimana diketahui, AS saat ini bukan lagi pembeli utama minyak produk Timur Tengah. Revolusi teknologi yang memungkinkan menghasilkan minyak serpih membuat AS kini mandiri secara energi. Hal itu membuat ketergantungan Washington pada minyak asal Timur Tengah menyusut.
Seiring itu, arus minyak mentah dan gas Timur Tengah justru mengalir deras ke Asia, khususnya China. Arab Saudi, menurut catatan Sachdeva, menjual minyak ke China empat kali lebih banyak dibandingkan ke AS. Nyaris 90 persen minyak mentah asal Timur Tengah dikirim ke Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
”Hal ini menimbulkan ketidakstabilan mendasar, apalagi China sangat menginginkan pembayaran lebih banyak menggunakan yuan,” kata Sachdeva. Situasi ini memungkinkan dominasi dolar dalam perdagangan lintas batas yang dibangun atas petrodolar mulai ”digerogoti”. ”Dan, konflik saat ini mungkin merupakan badai yang sempurna bagi petrodolar,” tulis Sachdeva.
Indikasi lain, Arab Saudi terus berupaya mandiri dalam hal pertahanan. Menurut Sachdeva, di bawah Visi 2030, Arab Saudi telah menargetkan peningkatan kandungan domestik pengeluaran militer menjadi 50 persen. Targetnya mengurangi ketergantungan impor senjata dari luar negeri. Implikasinya, belanja senjata dari AS, penyuplai utama alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Teluk, khususnya Arab Saudi, juga berkurang.
Pengaruh kebijakan tersebut pada petrodolar pun bakal signifikan. Mengapa demikian?
Kepala Pemasaran & Pertumbuhan di Wright Research Siddharth Singh Bhaisora dalam artikel bertajuk ”Fall of the Petrodollar and the Rise of the PetroYuan” menjelaskan latar belakang relasi tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/8c84b8862e0ea2802d10e2bcdba75dfe-US_WAR_IN_MIDDLE_EAST_BOOSTS_GLOBAL_CONCERNS_OVER_ENERGY_COSTS_137000874.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/ac7822ec8cfba04875f884c6020f3718-US_WAR_IN_MIDDLE_EAST_BOOSTS_GLOBAL_CONCERNS_OVER_ENERGY_COSTS_137002534.jpg)
Ia menjelaskan bahwa lebih dari lima dekade, perdagangan minyak global hampir seluruhnya dilakukan dalam dolar AS, yang kemudian dikenal sebagai sistem petrodolar. Sistem ini membuat AS memiliki keuntungan struktural yang luar biasa karena setiap negara yang membutuhkan minyak harus memiliki dolar. Sebaliknya, produsen yang menerima devisa dalam dolar AS mendaurnya menjadi obligasi Treasury AS. Menurut Bhaisora, siklus umpan balik ini membiayai defisit Amerika dengan suku bunga yang rendah secara artifisial, mendukung status dolar sebagai mata uang cadangan, dan memberi Washington pengaruh geopolitik yang tak tertandingi.
Petrodolar, jelas Bhaisora lahir dari dua krisis. Pada 1971, Presiden Richard Nixon mengakhiri konvertibilitas dolar terhadap emas, membongkar sistem Bretton Woods, dan menyebabkan nilai dolar anjlok dengan cepat. Dua tahun kemudian, Perang Arab-Israel tahun 1973 memicu embargo minyak oleh anggota OPEC terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Harga minyak melonjak empat kali lipat. Ekonomi AS, yang sudah berjuang melawan inflasi, terpukul oleh kekurangan bahan bakar.
”Washington mengubah krisis tersebut menjadi peluang. Pada 1974, Menteri Keuangan AS William Simon menengahi kesepakatan dengan Arab Saudi. Syaratnya sederhana: Arab Saudi akan menetapkan harga semua ekspor minyaknya secara eksklusif dalam dolar AS dan menginvestasikan surplus pendapatan minyaknya dalam obligasi Pemerintah AS. Sebagai imbalannya, AS akan memberikan perlindungan militer dan menjamin penjualan senjata. Kesepakatan tersebut tidak pernah dipublikasikan secara resmi, tetapi dampaknya langsung dan luas,” tulis Bhaisora.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/13/cd838722-1b6b-4ccb-9520-dce668ad143f.jpg)
Anggota OPEC lainnya mengikuti jejak Arab Saudi. Dalam beberapa tahun, hampir semua perdagangan minyak global didenominasikan dalam dolar. Negara mana pun yang ingin membeli minyak, baik Jepang, Jerman, India, atau Brasil, pertama-tama harus memegang dolar. Hal ini menciptakan permintaan struktural permanen untuk mata uang AS.
Sistem ini, menurut Bhaisora memungkinkan menggunakan dolar sebagai ”senjata”. Ia menjelaskan, karena perdagangan global sangat bergantung pada dolar dan jaringan pembayaran SWIFT yang dikendalikan AS, Washington dapat memberlakukan sanksi keuangan kepada negara mana pun dan secara efektif memutusnya dari ekonomi global. Pengaruh ini digunakan terhadap Iran, Rusia, Venezuela, Korea Utara, dan lainnya.
”Pada puncaknya, sistem petrodolar beroperasi sebagai berikut: negara-negara pengekspor minyak memperoleh dolar dari ekspor mereka, menyimpan dolar tersebut di bank-bank Barat atau obligasi Pemerintah AS, dan AS menggunakan arus masuk modal tersebut untuk membiayai defisit perdagangan dan fiskalnya. Negara-negara Teluk menjadi pembeli senjata Amerika terbesar,” tulis Bhaisora.
Namun, sejak ketergantungan AS pada Timur Tengah menurun dan Arab Saudi mengalami defisit eksternal lantaran harga minyak yang jatuh, banyak negara Teluk mulai berhenti menyimpan sebagian besar pendapatan minyak pada obligasi AS. Mereka, sebut Bhaisora, beralih ke ”petro-ekuitas”. Senyampang itu, China kini ”menggantikan” posisi AS. Pada 2025, Beijing membeli 11,55 juta barel minyak per hari, yang sebagian besar dipasok dari Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/845ed3f4b80f348fde75580d829fba3e-TOPSHOT_CHINA_OIL_MARKETS_136763253.jpg)
Menurut editor untuk isu keuangan dan pasar Kantor Berita Reuters, Mike Dolan, saat ini tiga pilar penyokong petrodolar, yaitu kebutuhan AS, penetapan harga minyak dalam dolar, dan hubungan keamanan kawasan Teluk dengan Washington, berada di bawah tekanan. Hancurnya infrastruktur energi di sejumlah negara Teluk membuat payung keamanan AS dipertanyakan. Ditambah dengan beralihnya gravitasi importir minyak dan gas membuat ”hegemoni” petrodolar pun mengendur.
Untuk jangka panjang, situasi ini memicu reorientasi dunia dari petrodolar ke cadangan lain, seperti yuan, rupee, atau bahkan euro. Jika isu transisi energi dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan membuat negara-negara kian mandiri, tekanan pada petrodolar kian mendalam.
Apabila saat ini Iran telah mengisyaratkan penggunaan yuan untuk jaminan ”meloloskan” tanker dari Selat Hormuz, dunia tampaknya perlu mulai berbenah. Setidaknya, perang yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran ternyata menguji pula kekuatan fondasi petrodolar.
Apalagi, Arab Saudi tidak hanya mulai menggunakan yuan untuk transaksi energi. Riyadh juga memakai yuan untuk transaksi proyek infrastruktur. (REUTERS)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra