Serangan AS dan Israel yang menyasar kilang minyak Iran menimbulkan pencemaran serius bagi lingkungan dan berdampak bahaya pada kesehatan warga sipil.
12 Mar 2026 10:30 WIB · Internasional
AP/Vahid Salemi
GENEVA, RABU — Asap hitam menyelimuti langit Teheran, Iran, setelah serangan udara Israel menghantam kilang minyak di kota itu. Senyawa beracun beterbangan di udara. Serangan ini juga menyebabkan hujan berwarna hitam turun membawa partikel beracun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (10/3/2026), memperingatkan, hujan hitam dan senyawa beracun itu dapat membahayakan kesehatan. WHO menganjurkan warga Teheran tetap berada di dalam ruangan untuk menghindari dampak negatif dari polusi udara.
Laporan WHO menyebutkan, hujan hitam itu mengandung minyak. Serangan terhadap kilang minyak di Iran ini berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan warga. Pemerintah Iran juga telah menyarankan warganya untuk tidak beraktivitas di luar ruangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/09/e8d6bb09-429b-4586-8f69-d9dd5bd6bb74_jpg.jpg)
”Hujan hitam dan hujan asam yang menyertainya memang merupakan bahaya bagi penduduk, terutama bagi pernapasan,” kata juru bicara WHO, Christian Lindmeier, dalam konferensi pers di Geneva, Swiss.
Lindmeier mengatakan, serangan terhadap kilang minyak menyebabkan pelepasan besar-besaran hidrokarbon beracun, sulfur, dan senyawa nitrogen ke udara. Menghirup asap atau menyentuh partikel tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, iritasi kulit dan mata, serta kesulitan bernapas.
Paparan jangka panjang terhadap sejumlah senyawa beracun tersebut juga dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.
”Mengingat apa yang berisiko saat ini, fasilitas penyimpanan minyak, kilang yang telah dihantam, memicu kebakaran, menimbulkan kekhawatiran serius tentang kualitas udara,” ucapnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai apakah kewajiban proporsionalitas dan kehati-hatian berdasarkan hukum humaniter internasional telah dipenuhi dalam serangan ini. Lokasi serangan ini tampaknya bukan untuk penggunaan eksklusif oleh militer.
Lindmeier menambahkan, serangan Iran yang dilaporkan menyasar infrastruktur minyak di Bahrain dan Arab Saudi juga menimbulkan kekhawatiran akan paparan polusi udara regional. Dampaknya tidak cuma memengaruhi kesehatan pernapasan, tetapi juga mencemari air.
Juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Kantor HAM PBB (OHCHR), Ravina Shamdasani, mengkhawatirkan dampak kesehatan dan lingkungan dari serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap depot minyak di Teheran. Sebab, serangan itu mengakibatkan polutan beracun menyebar di udara.
”Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai apakah kewajiban proporsionalitas dan kehati-hatian berdasarkan hukum humaniter internasional telah dipenuhi dalam serangan ini. Lokasi serangan ini tampaknya bukan untuk penggunaan eksklusif oleh militer,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
Hukum humaniter internasional bertujuan membatasi dampak konflik bersenjata. Hukum ini melindungi orang atau pihak yang tidak terlibat dalam perang, salah satunya warga sipil.
Video yang diterima oleh Reuters dari seorang anggota staf WHO menunjukkan anggota staf lain sedang membersihkan cairan hitam di pintu masuk kantornya di Teheran. Para ilmuwan berpendapat, hujan hitam itu membawa partikel yang ada di udara. Partikel-partikel itu berasal dari serangan terhadap kilang minyak.
Peneliti di Universitas Reading, Inggris, Akshay Deoras, mengatakan, hujan hitam itu telah membuka mata banyak orang mengenai risiko polusi udara akibat serangan ke kilang minyak. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026 menyasar sejumlah tempat, termasuk fasilitas minyak.
Menurut Deoras, warga dapat mengindari risiko itu dengan tetap berada di dalam ruangan. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, disarankan mengenakan masker dan mengenakan pakaian yang memadai untuk menutupi seluruh permukaan kulit.
Data kualitas udara di Teheran saat ini belum tersedia. Namun, prakiraan cuaca menunjukkan kondisi di Teheran akan relatif kering hingga akhir pekan. Oleh sebab itu, kualitas udara di ibu kota Iran diharapkan berangsur membaik.
”Risiko paparan menurun asalkan kita tidak melihat serangan baru. Jika kita mendapatkan serangan baru, itu akan menjadi masalah,” katanya.
(Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra