Kompas.id Brief

ICE Kian Brutal, Apa Saja Catatan Buruk Mereka dan Bagaimana Sikap Warga AS?

Wajah Amerika Serikat sebagai negara yang dibangun para imigran dan berkembang menjadi negara demokratis tercoreng.

14 Jan 2026 08:00 WIB · Internasional

AFP/TIMOTHY A. CLARY

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Dengan dalih melaksanakan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat, Petugas Penindakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat bertindak brutal. Saat menangkap atau mengejar orang yang diduga imigran ilegal, petugas tak segan-segan menggunakan kekerasan.

Wajah AS sebagai negara yang dibangun oleh para imigran dan berkembang menjadi negara demokratis pun tercoreng. Lalu, apa yang dapat dipelajari dari artikel ini?

  1. Apa bentuk kebrutalan petugas ICE, siapa saja korban mereka?
  2. Mengapa ”kebrutalan itu” dapat terjadi?
  3. Apa yang menjadi pemicunya?
  4. Bagaimana gambaran operasi perburuan imigran di AS?
  5. Bagaimana sikap warga AS?

Catatan hitam petugas ICE

copy title

Efek pengetatan kebijakan imigrasi Amerika Serikat era Presiden Donald Trump berdampak panjang, sekaligus ”mematikan”.

Dalam sebuah operasi di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, Petugas Penindakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menembak mati seorang perempuan warga negara AS, Renee Nicole Macklin Good (37). Ia ditembak dari jarak dekat saat tampaknya mencoba menyelamatkan diri dari agen ICE yang mengerumuni mobilnya. Menurut petugas, mobil itu menghalangi jalan mereka.

Akan tetapi, korban ICE tidak hanya Good. Dalam 10 hari pertama 2026, empat migran meninggal saat berada dalam tahanan imigrasi Amerika Serikat. Mereka adalah 2 warga Honduras, 1 warga Kuba, dan 1 warga Kamboja. Pada 2025 tercatat pula rekor kematian tertinggi di tahanan imigrasi AS dalam 20 tahun terakhir, dengan 32 orang tewas.

Menurut penelusuran media Inggris, The Guardian, sebanyak 32 korban tewas di tahanan imigrasi AS pada 2025 berasal dari setidaknya 23 negara. Meksiko mencatat jumlah korban terbanyak, yakni enam orang.

Negara yang masing-masing mencatat dua korban adalah Honduras, China, Haiti, dan Vietnam. Sementara itu, masing-masing satu korban berasal dari Nikaragua, Eritrea, Republik Dominika, Kolombia, Kuba, Kanada, Ukraina, Etiopia, dan El Salvador. Adapun asal negara dari sembilan kematian lainnya tidak dicantumkan secara jelas dalam data yang dipublikasikan.

Dari sisi penyebab, mayoritas kematian dinyatakan akibat sakit. Sekitar 21 orang disebutkan karena kondisi medis, seperti serangan jantung, stroke, pneumonia, komplikasi diabetes, dan kegagalan organ.

Bunuh diri disebutkan sebagai penyebab terbesar kedua dengan delapan kasus. Sementara itu, kekerasan atau insiden yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan serta kelalaian fatal tercatat tiga kasus.

Akar kebrutalan petugas ICE

copy title

Kondisi ”berkuasa”, di atas angin lantaran mendapat dukungan penuh dari Presiden AS Donald Trump, dinilai menjadi akar kebrutalan petugas ICE. Dengan dalih menerapkan aturan, mereka merasa ”kebal hukum”.

Penggunaan masker saat bertugas menjadi refleksi sikap tersebut. Para petugas Badan Imigrasi dan Cukai AS atau ICE berseliweran menangkap orang-orang yang dianggap melanggar hukum. Ada satu benda penanda mereka saat bertugas: masker dan penutup wajah.

Tak hanya itu, para petugas ICE juga melengkapi penampilan mereka dengan topi dan kacamata hitam. Wajah mereka jadi terlindungi sempurna, entah untuk privasi, keamanan diri, atau menghindari akuntabilitas.

MINNEAPOLIS, MINNESOTA - JANUARY 12: A pedestrian walks past poster of Renee Good January 12, 2026 in Minneapolis, Minnesota. Good was shot and killed by federal agents during a brief altercation with federal agents on July 7, in Minneapolis.   Scott Olson/Getty Images/AFP (Photo by SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Dalam kasus penembakan Renee Nicole Macklin Good, rekaman kejadian menunjukkan seorang agen ICE dengan masker menembak tiga kali ke arah mobil yang ditumpangi Good. Mobil yang melaju di jalanan bersalju itu lantas tak terkendali sehingga menabrak hidran dan kendaraan yang terparkir. Para saksi mata yang ketakutan pun meneriaki para petugas ICE.

Menurut organisasi berita ProPublica, terdapat lebih dari 170 insiden selama sembilan bulan pertama kepresidenan Trump. Petugas ICE kerap menahan warga AS yang melawan kehendak mereka.

Penggunaan kekerasan oleh ICE diatur oleh kombinasi Konstitusi AS, hukum AS, dan pedoman kebijakan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Direktur Program Peradilan Pidana di Fakultas Hukum Universitas Vanderbilt, Chris Slobogin, kepada BBC, mengatakan, berdasarkan Konstitusi AS, penegak hukum hanya dapat menggunakan kekuatan mematikan jika seseorang menimbulkan bahaya serius bagi mereka atau orang lain, atau orang tersebut telah melakukan kejahatan kekerasan.

Yang menjadi pemicu aksi brutal petugas ICE

copy title

Selain kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump, dukungan dan pembelaan oleh otoritas sebagaimana ditunjukkan oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristy Noem membuat ICE menjadi ”kebal”.

Pemerintah AS dengan cepat membela tindakan agen ICE dan menyebutnya pembelaan diri. Mereka mengklaim Good mencoba membunuh para agen. Terkait penembakan terhadap Good, Noem mengatakan, perbuatan yang dilakukan Good adalah terorisme domestik. Ia mengatakan, Good telah menguntit dan menghalangi pekerjaan ICE sepanjang hari.

Di saat yang sama, pemerintahan Trump justru membatasi pengawasan legislatif terhadap ICE. Pada Kamis (8/1/2026), Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (US Department of Homeland Security/DHS) menerbitkan kebijakan baru yang melarang inspeksi mendadak (sidak).

Petugas imigrasi federal bersejata lengkap memblokir jalan selama penggerebekan di kawasan pertanian Camarillo, California, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025).

Aturan itu mewajibkan anggota Kongres menjadwalkan inspeksi ke fasilitas detensi imigrasi setidaknya tujuh hari sebelumnya. Setiap pengecualian atas aturan tersebut harus disetujui langsung oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristy Noem. Noem menandatangani langsung memo kebijakan baru tersebut.

Sebelumnya, tiga anggota DPR dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, Angie Craig, dan Kelly Morrison, mengatakan, mereka ditolak masuk ke sebuah fasilitas ICE di Minneapolis. Dalam memo itu, Noem beralasan kebijakan itu diperlukan demi keselamatan dan kelancaran kerja ICE. ”Kunjungan tanpa pemberitahuan mengharuskan penarikan petugas ICE dari tugas rutin mereka,” katanya.

Kebijakan ini dinilai mengakali putusan pengadilan federal pada Desember 2025. Putusan pengadilan itu memblokir pembatasan pengawasan ke ICE yang terus berusaha diterapkan oleh pemerintahan Trump sejak Juni 2025.

Gambaran operasi harian perburuan imigrasi di AS

copy title

NewsNation yang diundang untuk mengamati operasi para petugas badan penegak hukum federal melaporkan, para agen menggunakan truk tanpa tanda dan helikopter untuk mengepung gedung apartemen lima lantai tersebut. ”Para agen turun dari helikopter Black Hawk. Para agen itu kemudian mendatangi rumah ke rumah, membangunkan warga, dan menggunakan tali pengikat untuk menahan mereka,” demikian bunyi laporan NewsNation.

Para aktivis, warga, dan pejabat Illinois mengatakan, penggunaan taktik agresif oleh petugas imigrasi federal dalam operasinya semakin meningkat. Langkah itu memicu kekerasan dan meningkatkan ketegangan di lingkungan sekitar di kota terbesar ketiga di negara itu.

”Mereka menjadikannya zona perang,” kata Gubernur Negara Bagian Illinois JB Pritzker, Minggu (5/10/2025), seperti dikutip di CNN.

”Mereka menembakkan gas air mata dan granat asap, dan mereka membuatnya tampak seperti zona perang,” ujar Pritzker.

Warga membasuh matanya dengan susu untuk menghilangkan pengaruh gas air mata yang ditembakkan petugas imigrasi federal ke arah pengunjuk rasa dalam penggerebekan di area pertanian Camarillo, California, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025).

Operasi petugas imigrasi federal di South Shore Chicago tidak hanya mengakibatkan kerusakan pada gedung apartemen. Operasi yang agresif itu juga meninggalkan trauma bagi warga di South Shore Chicago. Pritzker menyerukan dilakukan penyelidikan atas operasi dan penangkapan oleh petugas imigrasi federal itu.

Salah satu operasi keras yang dijalankan sejak bulan lalu adalah operasi di Chicago. Operasi itu bernama Operasi Midway Blitz. Setiap hari terjadi bentrokan yang semakin agresif dan berani di berbagai lingkungan di Chicago. Bentrokan paling banyak terjadi di wilayah pinggiran kota berpenduduk 2,7 juta jiwa itu.

Petugas imigrasi sudah menangkap lebih dari 1.000 imigran sejak operasi pada September 2025 di wilayah Chicago. Warga negara AS, imigran berstatus legal, ataupun anak-anak termasuk di antara mereka yang ditahan dalam operasi itu. Para demonstran pun terus-menerus berunjuk rasa di luar pusat pemrosesan dan penahanan imigran di Broadview, Illinois.

Tanggapan warga AS

copy title

Warga AS memprotes keras aksi petugas ICE dan operasi imigrasi yang sembrono. Terkait kasus penembakan Renee Nicole Macklin Good, Rakyat Amerika Serikat turun ke jalan untuk memprotes kematian Good.

Sebelumnya, pada Juni 2025 Warga Los Angeles berunjuk rasa menentang kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, Trump kerap menanggapinya dengan pengerahan lebih banyak petugas federal.

Terkait hal itu, warga pun tidak surut. Mereka meneriakkan ”malu” dan ”pulanglah” kepada anggota Garda Nasional. Seruan serupa juga muncul kembali menanggapi kebrutalan ICE di Minneapolis.

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey mengecam keras tindakan aparat ICE dan menyebutnya melanggar hukum. ”Omong kosong kalau mereka bilang itu tindakan pembelaan diri oleh aparat,” kata Frey. Ia mendesak ICE segera meninggalkan kota itu.

”ICE Out for Good” atau ICE Keluar Selamanya. Kalimat itu menjadi slogan sekaligus tuntutan ribuan pengunjuk rasa yang turun ke jalan memprotes pembunuhan warga Amerika Serikat di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, dan dua imigran Venezuela di Portland, Negara Bagian Oregon.

Unjuk rasa anti-ICE meluas ke New York City, Texas, Kanada, New Mexico, Ohio, Florida, dan negara-negara bagian lainnya. Pola kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para petugas ICE dinilai sudah kelewatan. Ini memicu kemarahan rakyat AS, termasuk dari kalangan pendukung Presiden AS Donald Trump.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra