Igor Tudor tidak punya banyak waktu untuk memenuhi target Juventus finis empat besar di akhir musim. Hasil imbang kontra AS Roma sedikit merugikan Tudor.
07 Apr 2025 11:17 WIB · Olahraga
ROMA, SENIN — Setelah menuai hasil manis di laga debutnya, perjuangan Igor Tudor sebagai pelatih baru Juventus mulai menemui jalan terjal saat ditahan imbang AS Roma, 1-1, pada laga kedua. Pada saat Liga Italia tinggal menyisakan tujuh laga, Tudor mau tak mau harus berpacu dengan waktu mengingat masih banyak pekerjaan rumah Juventus yang harus diselesaikannya.
Rendahnya produktivitas gol Juventus menjadi satu dari sekian banyak hal prioritas yang harus diselesaikan Tudor. Untuk itulah, ia menerapkan gaya bermain yang sedikit berbeda dengan pendahulunya, Thiago Motta. Bila Motta membimbing Juventus menjadi tim yang kuat dalam penguasaan bola, Tudor mengubahnya dengan gaya bermain yang lebih direct (langsung menyerang).
Alasan utama perubahan pendekatan Tudor itu adalah untuk memaksimalkan efisiensi serangan. Tudor bermaksud mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan Juventus dalam fase-fase build up. Akan tetapi, perubahan yang dibawa Tudor tidak bisa tercipta secara instan. Para pemain Juventus nyatanya masih membutuhkan waktu lebih lama untuk mengadopsi gaya bermain seperti yang diinginkan Tudor.
Dua gol dalam dua laga awal Tudor menjadi buktinya. Pada laga debutnya sebagai pelatih, Tudor membawa Juventus bangkit dengan mencetak kemenangan 1-0 atas Genoa. Hanya saja keran gol Juventus masih belum mengalir deras seiring hasil imbang 1-1 menghadapi tuan rumah Roma di Stadion Olimpico, Senin (7/4/2025) dini hari WIB, meski Tudor meminta para pemainnya bermain agresif sejak awal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/1c2ec8f3-b13a-4c81-bde4-d914f5d0a1ff_jpg.jpg)
Hasilnya, Juventus mampu unggul lebih dulu melalui sepakan keras mendatar Manuel Locatelli pada menit ke-40. Ini merupakan momen istimewa bagi Locatelli yang mencatatkan gol perdananya bersama Juventus musim ini.
Akan tetapi, kegembiraan Juventus hanya berlangsung sekejap setelah Eldor Shomurodov mencetak gol penyeimbang sembilan menit berselang memanfaatkan kemelut dari situasi sepak pojok. Gol tersebut memperlihatkan betapa klinisnya Shomurodov ketika mendapat kesempatan tampil. Penyerang berpaspor Uzbekistan itu mencetak gol setelah tiga menit berada di lapangan sebagai pemain pengganti.
”Saya sangat menyukai babak pertama, di mana kami berusaha keras dan melakukan beberapa hal menarik. Roma mengubah sistem setelah jeda. Mereka mencetak gol lewat tendangan sudut, tetapi saya merasa kami mengakhirinya dengan baik dan seharusnya bisa menang. Kami selalu ingin menang, tetapi mengingat performa terkini kami dan Roma yang juga meraih tujuh kemenangan berturut-turut, hasil imbang tetap memberi kami kepercayaan diri. Kami berada di jalur yang benar,” tutur Tudor dikutip dari Football Italia.
Untuk mendukung gaya menyerang direct yang diusungnya, Tudor kerap menginstruksikan dua bek Juventus, Lloyd Kelly dan Pierre Kalulu, membantu lini serang saat diperlukan. Berbeda dengan Motta yang gemar dengan formasi 4-2-3-1, Tudor sejak masih menangani Lazio dan Olympique Marseille menggilai formasi 3-4-2-1.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/d1e25b18-467b-41c1-95c7-ff7a77934209_jpg.jpg)
Penyesuaian dari sebelumnya menggunakan sistem empat bek ke tiga bek ini juga tidak bisa langsung bisa dijalankan para pemain Juventus. Mereka perlu waktu sedikit lebih lama untuk menjalankan sistem baru.
Kondisi tersebut justru sangat mengkhawatirkan bagi Tudor yang tidak punya banyak waktu membawa Juventus memenuhi target finis di posisi empat besar pada akhir musim. Meski begitu, target tersebut tidak mustahil. Hasil imbang dengan Roma membuat Juventus kini mengoleksi 56 poin dari 31 laga. Koleksi poin ”Si Nyonya Besar” sama dengan Bologna di peringkat keempat. Namun, Bologna berpeluang memperlebar jarak dari Juventus lantaran masih memiliki satu laga yang belum dimainkan.
”Saya baru bekerja di sini selama 10 hari, jadi ini luar biasa. Namun, kami harus fokus pada pekerjaan kami dan menikmatinya semaksimal mungkin. Pekerjaan ini bisa jadi sulit karena Anda selalu memperhatikan detail dan fokus, Anda tidak punya banyak waktu untuk menikmatinya,” kata Tudor.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/190867d9-6b3f-4d1f-9d37-137dfa524bd2_jpg.jpg)
Sementara itu, Locatelli merasa Juventus lebih bisa menampilkan intensitas menyerang yang lebih besar sejak ditangani Tudor. ”Saat pelatih datang, dia langsung meminta kami untuk (bemain) lebih agresif,” ucap Locatelli.
Bermain lebih direct dan agresif memang menjadi satu-satunya pilhan bagi Tudor yang tengah berkejaran dengan waktu. Memainkan penguasaan bola yang bertele-tele sebagaimana pada era Motta dipandang tidak relevan lagi di saat Juventus lebih mementingkan hasil dibandingkan dengan permainan indah. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .