Hari Kedua Terakhir 2024, IHSG Bergerak Terbatas

Jelang tutup tahun, IHSG bergerak terbatas di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, tekanan pasar global, dan penguatan harga komoditas tertentu.

27 Des 2024 14:51 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS - Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan akan terpengaruh oleh sejumlah sentimen, termasuk dinamika pasar saham global, kenaikan harga komoditas, serta nilai tukar rupiah yang terbatas dan cenderung melemah. Faktor-faktor tersebut diprediksi membatasi pergerakan indeks saham Indonesia hingga penutupan perdagangan pada Jumat (27/12/2024).

Selepas libur Natal, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di harga 7.065. Sampai pukul 11.30, IHSG telah bergerak di rentang 7.049- 7.100. Sejauh ini sebanyak 313 harga saham alami kenaikan daripada 238 harga saham yang terkoreksi dan 229 lainnnya stagnan.

Analis Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi, menyebutkan, pergerakan IHSG yang cenderung positif dipengaruhi fenomena santa slaus rally atau reli sinterklas di penutupan bursa Amerika Serikat pada Kamis (26/12) kemarin. Bursa Dow Jones tumbuh positif 0,07 persen, Bursa S&P 500 negatif 0,04 persen, dan Nasdaq minus 0,05 persen.

"Investor secara umum merespon positif potensi santa claus rally yang umumnya akan terjadi dalam lima hari terakhir di akhir tahun dan dua hari pertama di awal tahun. Investor masih melihat rally yang positif untuk pasar AS di 2025," kata Reydi.

Bursa Asia juga mengalami pergerakan variatif, pagi ini. Bursa Jepang tumbuh 0,68 persen, Hongkong 0,00 persen, Shanghai naik 0,14 persen dan Singapura minus 0,21 persen.

Ada juga faktor positif dari sektor komoditas. Harga emas menguat 0,45 persen, harga minyak Brent melemah 0,43 persen, imbal hasil obligasi AS turun 0,6 basis poin ke level 4.583. Harga baja naik 5,73 persen, didorong oleh lonjakan ekspor baja Tiongkok yang melebihi 100 juta ton hingga November. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 2016, seiring pabrik baja beralih ke klien asing untuk memenuhi target penjualan.

"Untuk hari ini, kami memperkirakan IHSG akan menguat, didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah, valuasi indeks yang lebih murah dibandingkan dengan global peers dan rata-rata 5 tahun terakhir, serta positifnya harga komoditas di hari ini," kata Reydi.

Samuel Sekuritas membaca pasar saham AS yang ditutup relatif datar menandakan pasar tersebut kesulitan untuk memperpanjang reli sinterklas secara signifikan setelah libur Natal. "Kami memperkirakan IHSG bergerak menguat, didorong sentimen menguatnya pasar asia dan komoditas," kata tim analis Samuel Sekuritas.

Layar LED yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 19 Desember 2024. Pada hari itu, harga indeks saham bergerak melemah ke level 7.000.

Sementara itu, beberapa analis lainnya memproyeksikan IHSG akan melemah di akhir perdagangan hari ini. CGS International Sekuritas Indonesia membaca, hal ini difaktori melemahnya mayoritas indeks di Wall Street, aksi jual bersih saham asing yang kembali berlanjut, serta tekanan fluktuasi rupiah terhadap dollar AS diprediksi dapat menjadi katalis negatif.

Adapun, mereka juga menilai, menguatnya beberapa harga komoditas berpotensi menjadi katalis positif unutk perdagangan hari ini. "IHSG hari ini diprediksi akan bergerak bervariatif cenderung melemah terbatas dengan kisaran support 7.014 / 6.931 dan resist 7.118 / 7.196," kata laporan CGS International Sekuritas Indonesia pagi ini.

Pelemahan IHSG juga kemungkinan besar dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Rupiah dibuka melemah ke level Rp 16.216 per dollar AS, Jumat (27/12). Pada saat yang sama, indeks dolar menguat tipis 0,02 persen ke posisi 108,148.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya hari ini, mengatakan nilai mata uang rupiah terus alami pelemahan signifikan, berlawanan dengan prediksi penguatan di akhir tahun. Ia mengatakan, secara eksternal banyak faktor yang membuat pelemahan ini.

Pertama, investor tetap berhati-hati dengan kenaikan dollar menyusul kebijakan moneter Federal Reserve AS yang tidak longgar dalam menurunkan suku bunga, bahkan berpeluang menaikkan kembali suku bunga. Kemudian, pengetatan perdagangan karena kebijakan Donald Trump yang akan segera resmi menjadi Presiden AS.

Faktor lainnya adalah konflik geopolitik di Eropa hingga Timur Tengah yang masih memanas. Kemudian, faktor kondisi ekonomi China yang sampai saat ini masih bermasalah membuat kondisi perekonomian di kawasan Asia ikut melemah.

"Di sisi lain, investor saat ini masih tertuju dengan PPN 12 persen yang jadi suatu blunder. Undang-Undang ini menganjurkan kebijakan dijalankan di Januari dalam kondisi global ekonomi yang bermasalah dan kelas ekonomi menengah ke bawah alami permasalahan, perlu ada penundaan," kata Ibrahim.

Faktor politik seperti penangkapan tokoh politik PDIP juga dinilai menjadi faktor. Perpolitikan di Indonesia yang kurang stabil dinilai membuat investor enggan kembali masuk ke pasar finansial dalam negeri. "Artinya, stabilitas politik dalam negeri ini sangat dibutuhkan agar investor asing kembali masuk ke pasar dalam negeri," tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .