Ikat Pinggang Warga Semakin Ketat demi Hidup Hemat (1)

Warga terpaksa berhemat saat biaya pengeluaran yang semakin tinggi tidak sesuai dengan gaji yang terbatas. Hidup hemat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

09 Mar 2025 17:06 WIB · Investigasi

Oleh Margaretha Puteri Rosalina, Albertus Krisna, M Paschalia Judtih J, Pandu Wiyoga

Gelombang pemutusan hubungan kerja, lonjakan harga kebutuhan pokok, dan penghasilan pas-pasan memaksa warga berhemat. Momen Lebaran yang dianggap sebagai pendorong ekonomi bisa jadi hanya tinggal harapan.

Kalau sudah begitu, hidup frugal alias hidup hemat bukan lagi sebuah pilihan hidup. Hal itu menjadi kebutuhan yang harus dijalani warga dari semua kelas ekonomi.  

Hasil analisis tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, selama 15 tahun terakhir, daya beli warga semakin melemah di tengah menipisnya penghasilan warga. Warga memprioritaskan membeli kebutuhan makan sehari-hari dibandingkan dengan kebutuhan lain.

Badan Pusat Statistik mencatat, selama 10 tahun terakhir, proporsi pengeluaran makanan naik rata-rata 0,3 persen poin per tahun, dari 47,5 persen pada tahun 2015 menjadi 50,1 persen pada 2024.  

Sementara itu, warga mengetatkan ikat pinggang untuk pengeluaran aneka barang dan jasa, barang tahan lama, dan pakaian. Selama 10 tahun terakhir, proporsi pengeluaran untuk aneka barang dan jasa turun 1 persen poin, barang tahan lama 3,5 persen poin, dan proporsi pengeluaran pakaian turun 0,9 persen poin.  

Keinginan berbelanja warga saat Lebaran pun tertahan karena daya beli mereka yang rendah. Selama 2021-2024, konsumsi rumah tangga dalam struktur produk domestik bruto (PDB) periode Lebaran (triwulan II) tumbuh melambat. Tahun 2021 tumbuh 5,96 persen dan 2024 melambat menjadi 4,93 persen.  

Deretan lapak pedagang pakaian eceran di pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (12/4/2023). Sebelum Ramadhan, pasar Cipulir ramai dengan pembeli dari luar kota yang berbelanja secara grosir untuk dijual lagi, sedangkan jelang Lebaran, pasar ini diserbu oleh pembeli eceran yang akan dipakai sendiri atau pun pedagang eceran di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Daya beli warga yang melemah dirasakan oleh semua kelas ekonomi, dari kelas bawah hingga menengah atas. Hal ini tecermin dari data penjualan di sejumlah pelaku ritel dengan segmentasi konsumen mayoritas di kelas atas, menengah, dan bawah. 

Selain fakta-fata di atas, dalam seri liputan ini, Kompas menyajikan bagaimana strategi warga menengah atas yang memilih untuk hidup frugal. Selain menetapkan tujuan hidup frugal, juga harus membuat perencanaan anggaran keuangan, serta yang paling penting harus disiplin dan komit.  

Ke depan, di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, apakah warga bisa tetap yakin perekonomian semakin membaik? Bagaimana pemerintah dapat mengantisipasi situasi ini agar tidak berdampak negatif terhadap perekonomian nasional?   

Aparatur Sipil Negara (ASN) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) saat pulang kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Senin (3/2/2025). DPD menjadi salah satu lembaga negara yang terkena efisiensi belanja anggaran dalam pelaksanaan APBN tahun anggaran 2025. Pagu anggaran DPD di tahun 2025 ini mencapai Rp 1,3 triliun dan diharapkan ada efisiensi anggaran sekitar Rp 511 miliar. Kompas/Hendra A Setyawan

Liputan ini dikerjakan untuk menggugah para pihak, terutama pemerintah, untuk mengambil langkah-langkah strategis agar perekonomian tetap terjaga baik. Gambaran persoalan yang dihadapi warga di seri liputan ini diharapkan menjadi pijakan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Jika tidak ada langkah-langkah strategis, masa depan perekonomian nasional dipertaruhkan. Lalu, bagaimana dengan cita-cita pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen per tahun dapat diwujudkan?  

Kompas akan mengulas lebih dalam mengenai daya beli warga yang melemah dalam laporan lengkap mulai Senin, 10 Maret 2025, di Harian Kompas dan Kompas.id  

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengklik tautan link ini.

Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei berikut ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Margaretha Puteri Rosalina, Albertus Krisna, M Paschalia Judtih J, Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji