Mirra Andreeva ingin melangkah lebih baik dari semifinal Perancis Terbuka 2024. Dia punya banyak motivasi untuk tampil lebih baik.
27 Mei 2025 22:39 WIB · Olahraga
Mirra Andreeva bagai punya ikatan khusus dengan Paris, ibu kota Perancis yang memiliki julukan ”kota cinta”. Memori-memori baiknya di Paris dibawa saat petenis remaja itu tampil dalam turnamen Grand Slam Perancis Terbuka.
Datang ke Roland Garros, Paris, pada 2025, Andreeva berstatus sebagai unggulan keenam. Tunggal putri peringkat keenam dunia itu untuk pertama kalinya bertanding dalam persaingan Grand Slam sebagai petenis peringkat sepuluh besar dunia.
Dia menjalani babak pertama Perancis Terbuka 2025 di Lapangan Suzanne Lenglen, Selasa (27/5/2025), melawan Cristina Busca (Spanyol). Tampil pada laga awal di lapangan yang namanya diambil dari mantan petenis Perancis itu—Suzanne Lenglen juga dijadikan nama trofi juara tunggal putri—Andreeva kesulitan menemukan ritme permainan pada awal hingga pertengahan set pertama.
Berkali-kali, petenis berusia 18 tahun itu mengomel sambil melihat ke arah tribune, tempat pelatihnya, Conchita Martinez, dan anggota tim pelatih yang lain duduk. Setelah tertinggal 2-4, Andreeva memenangi set pertama dan tampil lebih baik pada set kedua hingga menang dengan skor 6-4, 6-3.
Sisi remaja dari petenis termuda di peringkat 100 besar dunia itu memang masih terlihat. Seperti sering diakuinya, dia masih mudah marah dan mengeluarkan kekesalan apa adanya, termasuk kepada Martinez.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/27/3e338867-695d-48bb-aa2e-8db905f81e65_jpg.jpg)
Dalam wawancara dengan mantan petenis, Alex Corretja, di hadapan penonton di stadion setelah memenangi babak pertama, Andreeva menjelaskan kegiatannya sebelum pertandingan yang berlangsung mulai pukul 11.00 waktu setempat. Dia bagaikan murid yang menjawab pertanyaan guru dengan detail.
”Hari ini, saya bangun pukul 06.40. Lalu, saya punya waktu 35 menit untuk mengemas barang-barang dalam tas dan bersiap. Setelah itu, sarapan dalam waktu 25 menit, lalu 30 menit di perjalanan menuju ke sini. Setelah 11 menit di ruang ganti, saya melakukan pemanasan, lalu ke lapangan. Semuanya lakukan dengan teratur sesuai rencana,” tutur petenis Rusia tersebut.
”Di lapangan, kami melakukan pemanasan 30-40 menit dengan partner latih tanding. Sesi itu kami akhiri dengan latihan bersama Conchita. Latihannya tergantung suasana hati dia. Jika sedang baik, dia tidak membuat saya banyak bergerak. Sebaliknya, saat dia kesal, saya harus banyak berlari,” ujar Andreeva yang tanpa ragu bercerita tentang pelatihnya yang merupakan finalis Perancis Terbuka 2000 itu.
Meski karakter lugu sebagai remaja tetap terlihat, penampilan Andreeva saat bertanding kian matang. Apalagi, dia berpegang pada prinsip ”selalu selangkah lebih maju” seperti yang ditulis dalam profil di akun Instagram-nya.
Langkah maju itu dia perlihatkan setiap tampil di Paris, khususnya di lapangan tanah liat Roland Garros. Andreeva menjalani debut di Perancis Terbuka pada 2023 yang juga menjadi pengalaman pertamanya bertanding di panggung Grand Slam. Bertanding sejak babak kualifikasi, dia bertahan hingga babak ketiga sebelum dikalahkan Cori Gauff.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/27/4083415f-645d-4784-9c86-8d1d9ba7cc48_jpg.jpg)
Kembali ke Perancis Terbuka pada 2024, dia sudah bisa bertanding langsung pada babak utama. Kali ini, perjalanannya lebih jauh dengan mencapai semifinal. Dengan kedewasaannya berada di bawah tekanan, Andreeva menyingkirkan unggulan kedua, Aryna Sabalenka, di perempat final dengan skor 6-7 (5), 6-4, 6-4.
Andreeva yang berusia 17 tahun saat itu menjadi semifinalis Grand Slam termuda pada kategori tunggal putri setelah Martina Hingis di Amerika Serikat Terbuka 1997. Meskipun kalah dari Jasmine Paolini di semifinal, Andreeva telah menunjukkan potensinya menjadi kompetitor bagi petenis-petenis top dunia.
Saya punya banyak memori indah di Roland Garros.
Berselang dua bulan setelah menjadi semifinalis Perancis Terbuka, Andreeva kembali ke tempat yang sama, kali ini dalam ajang Olimpiade Paris 2024. Bagaikan bertanding di rumahnya sendiri, Andreeva kembali mendapat pengalaman berharga di Roland Garros. Dia mendapat medali perak ganda putri saat berduet dengan Diana Shnaider.
Di luar Paris, Andreeva memberi kejutan kepada petenis-petenis top dunia ketika menjuarai dua turnamen WTA 1000 secara beruntun pada 2025, di Dubai, Uni Emirat Arab dan Indian Wells, AS. Dia menyingkirkan Iga Swiatek pada dua turnamen tersebut. Gelar di Indian Wells bahkan didapatnya setelah mengalahkan Swiatek dan Sabalenka di semifinal dan final.
Dengan rangkaian hasil tersebut, kedatangannya ke Paris pada tahun ini mendapat sorotan yang lebih besar. Apalagi, persaingan tunggal putri cukup terbuka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/3f2029e2-fdad-40c3-a04c-7c8b7a75528f_jpg.jpg)
Jika bisa mempertahankan performa baiknya, ditambah dengan ikatan spesial dengan Paris, Andreeva memiliki peluang sama seperti Sabalenka, Coco, dan Swiatek yang juga telah melangkah ke babak kedua.
”Saya punya banyak memori indah di Roland Garros. Semifinal Perancis Terbuka 2024 menjadi salah satu turnamen pertama saya bersama Conchita. Saya tak sabar bertanding kembali di sini dan ingin berbuat lebih baik dibandingkan tahun lalu karena saya memiliki banyak motivasi ekstra,” kata Andreeva. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra