Indonesia kembali tanpa gelar di Indonesia Terbuka 2026. Kecepatan Raymond/Joaquin berbalik jadi ancaman.
07 Jun 2026 21:31 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Bermain cepat membutuhkan ketepatan dan keyakinan. Raymond Indra/Nikolaus Joaquin punya itu semua dari awal turnamen sampai enam poin menuju kejayaan. Karena ketepatan dan keyakinan hilang, kecepatan Raymond/Joaquin justru jadi bumerang.
Pengembalian kok dari Nikolaus Joaquin yang membentur net mengakhiri perjuangan ganda putra Indonesia itu di final Polytron Indonesia Terbuka 2026, Minggu (7/6/2026). Di hadapan penonton yang memenuhi Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Raymond/Joaquin kembali kalah dari Goh Sze Gei/Nur Izzudin (Malaysia), dengan skor 21-13, 18-21, 10-21.
Harapan Indonesia meraih gelar juara setelah sekian lama sirna sepenuhnya. Sebelumnya, Jonatan Christie juga kalah pada pertandingan final tunggal putra dari Victor Lai (Kanada), 19-21, 8-21.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/07/0c5b6927-3fab-4f74-8116-7a347cab727a.jpg)
”Mohon maaf karena kami gagal meraih gelar untuk ganda putra di Indonesia Open. Ini menjadi pelajaran penting buat kami,” kata Joaquin.
Kekalahan Raymond/Joaquin terlihat lebih kejam dari lima bulan lalu di final Indonesia Masters 2026. Bukan hanya karena kali ini sudah mampu mencuri satu gim dari Goh Sze Gei/Nur Izzudin, melainkan juga karena mereka juga sempat unggul di gim kedua berkat permainan cepat.
Kecepatan menjadi ciri khas sekaligus kekuatan utama Raymond/Joaquin. Sejak semifinal, semesta bahkan mendukung tipe permainan itu lewat penempatan lapangan, kondisi angin, dan kok.
Lawan melihat kami bingung dan mengambil momentum itu. Mereka sadar kalau kami masih mencari cara kenapa kehilangan poin terus.
Namun, kecepatan justru berbalik jadi ancaman. Bumerang itu dimulai saat Raymond/Joaquin dalam kondisi unggul enam angka pada kedudukan 14-8 di gim kedua. Kejayaan dari gelar pertama di turnamen level Super 1000 hanya berjarak enam poin lagi.
Saat itu tiba, pukulan-pukulan Raymond/Joaquin, yang pada gim pertama begitu akurat dan meyakinkan, menjadi sering membentur net. Ketika mengembalikan kok lawan, mereka juga tampak tak yakin sehingga memudahkan lawan menyerang balik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/56f8b09d9cc1a480f36f5f752fe845d6-MYE_7338.jpg)
Goh/Izzudin melihat keyakinan yang mulai goyah tersebut. Pasangan nomor tujuh dunia tak segan beradu drive atau melakukan lob untuk dihantam lawan. Mereka pun bermain di Istora seolah tampil di rumah mereka sendiri.
”Lawan melihat kami bingung dan mengambil momentum itu. Mereka sadar kalau kami masih mencari cara kenapa kehilangan poin terus. Mereka jeli sekali dan memanfaatkan momentum,” ucap Joaquin.
Ketika memilih bermain cepat, ketepatan dan keyakinan harus mengikuti karena tempo permainan tinggi. Jika kedua komponen itu absen, Raymond/Joaquin menanggung akibat dari permainan mereka sendiri.
Sepanjang Indonesia Terbuka, Raymond/Joaquin selalu berhasil menghadirkan kecepatan lengkap bersama ketepatan dan keyakinan. Hal itu pula yang mengantarkan mereka ke final, bahkan sampai separuh gim penentu partai puncak.
Kekalahan Raymond/Joaquin memastikan Indonesia kembali tanpa gelar di Indonesia Terbuka. Tuan rumah terakhir meraih gelar di Indonesia Terbuka pada edisi 2021 lewat ganda putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Saat itu, turnamen digelar di Bali ketika pandemi Covid-19.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/ee77385a13af9d68eaa45909d43cbe15-MYE_7444.jpg)
Gelar juara pada 2021 itu menjadi yang ketiga beruntun bagi Kevin/Marcus di Indonesia Terbuka setelah 2018 dan 2019. Selain ganda putra berjuluk ”Minions” itu, Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga tampil di final Indonesia Terbuka, tetapi kalah dari Nami Matsuyama/Chiharu Shida.
Raymond/Joaquin dan Jonatan Christie menyamai upaya Anthony Sinisuka Ginting dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani yang bisa menembus final, masing-masing pada 2023 dan 2025. Namun, hanya itu langkah terjauh dan terdekat Indonesia untuk kembali berjaya.
Terlepas dari itu, Raymond/Joaquin menandai pencapaian terbaik mereka di turnamen level Super 1000 dengan mencapai final. Sebelumnya, langkah terjauh mereka di turnamen level paling tinggi dan prestisius dalam BWF World Tour adalah semifinal.
Dalam setahun terakhir, Raymond/Joaquin menunjukkan perkembangan pesat sejak memasuki persaingan dunia. Di turnamen BWF, partisipasi mereka dimulai dari level International Series/Challenge yang menghasilkan empat gelar juara. Setelah itu, level turnamen mereka naik ke Super 100 hingga Super 500.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/fa01fc6155ef698d4a9c28dcd1c0930c-MYE_7197.jpg)
Mereka mencapai final dan atau menjuarai setiap level tersebut dengan gelar dari Australia Terbuka 2025 Super 500 sebagai hasil tertinggi. Dalam turnamen itu, Raymond/Joaquin menyingkirkan tiga ganda putra peringkat 10 besar dunia, salah satunya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di final.
”Perkembangan mereka drastis, permainannya bagus dan banyak memenangi pertandingan melawan ganda putra yang bagus. Kami saja tertekan karena mereka bermain sangat bagus di Istora kali ini,” ujar Izzudin yang bersama Goh ke final setelah mengatasi pasangan nomor satu dunia asal Korea, Kim Won Ho/Seo Sung Jae.
Indonesia mengirimkan total 21 wakil dari seluruh sektor ke Indonesia Terbuka 2026. Namun, hanya ganda putri, ganda putra, dan tunggal putra yang bisa menempatkan wakilnya hingga semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/5870e8b23dc02e343a811cd81b360399-MYE_5371.jpg)
Ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi kalah dalam pertarungan melawan sesama wakil Indonesia, Raymond/Joaquin. Adapun langkah ganda putri Rachel Allesya Rose/Febi Setianingrum terhenti setelah dikalahkan peringkat satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning (China), 17-21, 16-21.
Liu/Tan akhirnya gagal mempertahankan gelar setelah takluk dari ganda putri Jepang, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto, 21-15, 18-21, 21-18. Sektor ganda campuran memiliki juara baru dengan kemenangan Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark) atas Cheng Xing/Zhang Chi (China), 21-19, 23-21.
Pada sektor tunggal putri, An Se-young (Korea Selatan) berhasil mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan Akane Yamaguchi (Jepang), 23-21, 21-12. Ini trofi keempat An Se-young pada lima turnamen Tur Dunia BWF tahun ini. Hanya di All England 2026, peringkat satu dunia ini keluar sebagai runner-up.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto