Pertemuan daring akan digelar pada beragam tingkatan, mulai dari kelompok kerja, pejabat senior, hingga tingkat menteri.
27 Mar 2026 20:11 WIB · Internasional
AP Photo/Aaron Favila
MANILA, JUMAT — Kabut gelap akibat perang di Teluk kini mengimbas Asia Tenggara. Selain memicu kekurangan pasokan minyak dan gas, efek sosial dan politik dari perang tersebut kian terasa. Mengacu pemberitaan situs berita independen terkemuka di Filipina, Rappler.com, Jumat (27/3/2026), pertemuan persiapan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akan beralih ke daring. Tahun ini, Filipina adalah ketua bergilir ASEAN.
Dalam pernyataan yang dikutip Rappler, Pelaksana Tugas Sekretaris Eksekutif dan Ketua Komite Penyelenggara Nasional ASEAN Ralph Recto mengatakan, pihaknya memastikan diskusi akan berlangsung produktif serta membahas hal-hal substansial. Pertemuan daring akan digelar pada beragam tingkatan, mulai dari kelompok kerja, pejabat senior, hingga tingkat menteri.
”Kegiatan ASEAN yang diperkecil masih dapat mencapai tujuannya untuk memperkuat persatuan regional dan membentuk respons bersama terhadap tantangan global yang semakin meningkat,” kata Recto. Terkait KTT ASEAN yang akan digelar pada Mei dan November tahun ini, konferensi itu dijadwalkan tetap akan digelar secara langsung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/27/3b3d8449-8b61-491e-b864-00606946bded.jpg)
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan The Straits Times, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan, KTT ASEAN yang akan diselenggarakan pada Mei akan berlangsung secara sederhana. Fokus utama pertemuan itu adalah membahas upaya menangani guncangan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.
”Ini adalah KTT ASEAN yang sangat ringkas. Kita akan membahas tiga subyek utama—tentang pasokan minyak bumi dan produk minyak bumi, tentang pasokan dan harga pangan, serta pekerja migran,” kata Marcos Jr. ”Yang benar-benar kita butuhkan saat ini adalah agar para pemimpin berbicara tentang apa yang harus kita lakukan, bagaimana kita dapat saling membantu dan apa posisi ASEAN mengenai semua guncangan yang akan datang,” ucapnya.
Marcos mengatakan, sebelumnya ia telah berkonsultasi dengan para pemimpin ASEAN tentang gagasan menunda KTT ASEAN lantaran krisis energi yang telah melanda kawasan. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkannya.
Sebagaimana dikutip Kantor Berita Anadolu, Marcos mengatakan, konsensus yang dicapai para pemimpin ASEAN adalah, justru saat inilah ASEAN mengoordinasikan upaya bersama untuk merespons dampak perang di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/27/e74edb6bab7c824da2ad2031cbe564b8-Philippines_Politics_137077909.jpg)
Pada Selasa (24/3/2026), Marcos mendeklarasikan keadaan ”darurat energi nasional”. Pemicunya adalah risiko terhadap pasokan dan kebutuhan bahan bakar domestik Filipina, imbas perang di Teluk. Filipina mengimpor 90 persen pasokan domestiknya dari Timur Tengah. Eskalasi regional di Teluk akibat serangan AS-Israel ke Iran dan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran membuat pasokan ke Asia, termasuk Filipina, tersendat.
Hingga saat ini situasi di Teluk masih sangat fluktuatif. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengundur lagi tenggat serangan atas instalasi energi Iran, saling balas serangan justru terjadi antara Israel dan Iran.
Israel mengklaim, serangan yang digelar pada Jumat pagi menghancurkan pusat produksi rudal balistik Iran. Serangan tersebut juga menghancurkan sistem peluncur rudal dan gudang penyimpanan di Iran bagian barat. Sebaliknya, selain menghunjam Israel, drone dan rudal Iran juga menyasar sejumlah sasaran di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Situasi itu meningkatkan keraguan tentang peluang deeskalasi perang. Dampaknya, harga minyak mentah di bursa Brent kembali naik menjadi 107 dolar AS per barel. (AP/REUTERS)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati