Indonesia harus bisa meningkatkan kapasitas produksi susu dan daging sapi, masing-masing 4,9 juta ton dan 0,83 juta ton.
15 Feb 2025 07:00 WIB · Ekonomi
Pemerintah telah menerbitkan persetujuan impor 117.000 ton daging sapi dan kerbau. Pemerintah juga membuka peluang swasta mengimpor 2 juta sapi perah dan sapi indukan pedaging secara bertahap pada 2025-2029.
Di tengah kabar itu, perusahaan Vietnam menjajaki investasi di sektor peternakan sapi perah dan industri susu. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah lokasi investasi peternakan sapi berskala besar dan bahakan siap memberikan sejumlah insentif bagi para investor di sektor industri susu serta peternakan sapi perah dan pedaging.
Dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Ramadhan Lebaran pada 12 Januari 2025, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iqbal Shofan Shofwan menyatakan, persetujuan impor 117.000 ton daging sapi dan kerbau telah diterbitkan. Namun, ia tidak merinci volume impor kedua jenis daging itu.
Impor itu merupakan bagian dari kuota impor 280.000 ton daging sapi dan kerbau pada 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 100.000 ton berupa daging kerbau dan 180.000 ton daging sapi.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, impor 117.000 ton daging sapi dan kerbau diperlukan untuk menstabilkan stok dan harga komoditas tersebut, terutama pada Ramadhan-Lebaran. Indonesia akan mengimpor daging sapi dari Brasil dan daging kerbau dari India.
Impor itu merupakan bagian dari kuota impor 280.000 ton daging sapi dan kerbau pada 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 100.000 ton berupa daging kerbau dan 180.000 ton daging sapi.
”Perum Bulog dan ID Food diberikan kuota impor daging sebesar 200.000 ton, sedangkan swasta 80.000 ton,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/24/24140be1-72e1-4186-922e-09fd998c2d86.png)
Selain itu, guna menopang kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Indonesia berencana mengimpor 1,2 juta sapi perah dan 800.000 indukan sapi pedaging pada 2025-2029. Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang swasta untuk mendatangkan sapi-sapi itu, bahkan berinvestasi di sektor peternakan sapi dan industri susu.
Pada 2025, Kementan menargetkan investor dapat mendatangkan 250.000 sapi perah dan indukan sapi pedaging. Kementan juga berharap para investor tersebut dapat bermitra dengan peternak lokal.
Gayung bersambut. TH Group Vietnam menjajaki peluang investasi di sektor industri susu Indonesia. Pada Kamis (13/2/2025) sore, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menerima kunjungan Chairman TH Group Vietnam Thai Huong.
Dalam kesempatan itu, Amran mengatakan, kebutuhan susu dan daging sapi di Indonesia cukup besar. Saat ini, produksi susu segar dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/04/16/a0afd1b4-8a9b-4dc3-a2f4-fcb372929f1c.jpg)
Neraca produksi-konsumsi susu segar nasional defisit sebanyak 4,9 juta ton. Program MBG bakal menambah defisit itu karena kebutuhan susu segar nasional bakal bertambah sebesar 3,6 juta ton menjadi 8,5 juta ton.
Demikian juga dengan kebutuhan daging sapi nasional. Dengan berjalannya program MBG, Indonesia mengalami kekurangan produksi daging sapi sebanyak 0,88 juta ton.
Indonesia harus bisa meningkatkan kapasitas produksi susu segar dan daging sapi masing-masing 4,9 juta ton dan 0,83 juta ton.
Untuk itu, Amran melanjutkan, Indonesia harus bisa meningkatkan kapasitas produksi susu segar dan daging sapi masing-masing 4,9 juta ton dan 0,83 juta ton. Guna menjawab tantangan itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung investasi luar negeri di sektor industtri susu, serta peternakan sapi perah dan pedaging.
”Pemerintah Indonesia siap memberikan berbagai insentif kebijakan, mulai dari pembebasan bea impor untuk ternak dan peralatan industri susu, hingga skema pendanaan dengan bunga kompetitif serta asuransi usaha peternakan,” katanya melalui siaran pers di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/f8084c90c457104b0bb4394376fc1305-03fa2b69_33ea_48a9_8351_f325b717b822_png.png)
Amran juga menyatakan, Kementan telah menyiapkan sejumlah lokasi strategis bagi para investor. Lokasi itu berada di Sidrap, Wajo, Sulawesi Selatan; Barito Utara dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah; dan Lembah Napu di Poso, Sulawesi Tengah.
Penyediaan lahan itu juga didukung dengan penyediaan infrastruktur pendukung, seperti akses jalan, listrik, dan air bersih yang baik. Hal itu juga ditopang dengan penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan bagi pekerja di kawasan peternakan.
”Kami berharap kerja sama investasi antara Indonesia dan TH Group Vietnam dapat segera terealisasi sehingga mampu meningkatkan produksi susu dalam negeri dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Amran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/80731cbe6889548f4fc3db97dc571cf8-9bc04ede_6bc9_48e9_b31a_eeb1d26c626b_png.png)
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .