Tahun ini, Kementerian Pertanian menargetkan dapat mengimpor 200.000 sapi perah dan 200.000 sapi pedaging.
08 Jan 2025 17:21 WIB · Ekonomi
JAKARTA KOMPAS — Indonesia bakal mengimpor 2 juta sapi secara bertahap sepanjang 2025-2029. Langkah itu merupakan upaya menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus menopang program Makan Bergizi Gratis.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, 2 juta sapi yang akan diimpor pada 2025-2029 itu terdiri atas 1 juta sapi perah dan 1 juta sapi pedaging. Kedua jenis sapi itu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan reguler susu dan daging sekaligus program Makan Bergizi Gratis.
”Tahun ini kami menargetkan dapat mengimpor 200.000 sapi perah dan 200.000 sapi pedaging,” ujarnya melalui siaran pers, Rabu (8/1/2025).
Menurut Sudaryono, sapi-sapi yang akan diimpor itu berupa indukan sehingga dapat dikembangbiakkan di dalam negeri. Sapi indukan tersebut akan diberikan kepada para kelompok peternak berskala besar dan kecil melalui pola kemitraan.
Sebanyak 2 juta sapi yang akan diimpor pada 2025-2029 itu terdiri atas 1 juta sapi perah dan 1 juta sapi pedaging.
Pemerintah juga membuka ruang bagi investor untuk mendatangkan sapi indukan dan memperbanyak jumlahnya di dalam negeri. Investasi di sektor peternakan sapi itu diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di Indonesia dan mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis.
”Melalui kebijakan ini kami berharap produksi daging dan susu sapi di dalam negeri meningkat, ketergantungan terhadap impor pangan berkurang, dan peluang baru para pengusaha di sektor peternakan dapat tercipta,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/f8084c90c457104b0bb4394376fc1305-03fa2b69_33ea_48a9_8351_f325b717b822_png.png)
Pada Oktober 2024, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan sudah ada 112 perusahaan yang telah berkomitmen akan mendatangkan sapi impor. Dari jumlah itu, 55 perusahaan akan mengimpor sapi perah dan 57 perusahaan sapi pedaging.
Kementan memperkirakan kebutuhan susu segar hingga 2029 mencapai 8,5 juta ton. Dari jumlah itu, 4,9 juta ton merupakan kebutuhan susu reguler dan 3,6 juta ton untuk program Makan Bergizi Gratis.
Sementara berdasarkan Outlook Komoditas Peternakan Daging Sapi 2023, Kementan memperkirakan kebutuhan daging nasional pada 2025 mencapai 739.668 ton, sedangkan produksi nasional daging sapi dan kerbau 445.118 ton. Dengan begitu, Indonesia mengalami defisit daging 294.550 ton.
Dalam dua tahun berikutnya, yakni 2026 dan 2027, Indonesia juga diperkirakan masih defisit daging. Namun, defisit tersebut diproyeksikan turun masing-masing menjadi 288.324 ton pada 2026 dan 279.139 ton pada 2027.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/09/22/08a116de-9aac-452d-8113-0639a63f0ae2.jpg)
Sementara itu, pada awal tahun ini, pelaku usaha penggemukan sapi telah mendatangkan 2.797 sapi bakalan dari Australia. Saat ini, Badan Karantina Indonesia (Barantin) tengah mengarantina sapi-sapi impor itu tersebut untuk memastikan kesehatan ternak tersebut.
Kepala Barantin Sahat M Panggabean mengemukakan, sapi-sapi impor tersebut tengah dikarantina selama 14 hari. Tujuannya untuk memastikan sapi-sapi tersebut sehat atau tidak ada penyakitnya, seperti penyakit infeksi kulit (LSD) serta mulut dan kuku (PMK).
Importasi sapi hidup itu dilakukan secara hati-hati dan menyeluruh. Tahapan pengawasan dan pemeriksaannya mulai dari sebelum pengiriman (pre-border) atau di negara asal, saat tiba di kawasan plelabuhan(at border), dan setelah keluar dari kawasan pelabuhan (post-border).
”Untuk mengantisipasi PMK yang tengah merebak di sejumlah daerah di Indonesia, para pelaku usaha penggemukan sapi juga telah memvaksinasi ternak secara gratis di kawasan radius 3-5 kilometer dari instalansi karantina hewan (IKH),” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/24/24140be1-72e1-4186-922e-09fd998c2d86.png)
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto menambahkan, sebelum dikirim ke Indonesia, sapi-sapi tersebut dikarantina di Australia pada pertengahan 2024. Hal itu guna memastikan hewan tersebut berasal dari daerah yang bebas penyakit, dipelihara sesuai standar kesehatan, dan telah melalui analisis risiko yang mendalam.
Kemudian, setelah tiba di pelabuhan di Indonesia, pemeriksaan fisik, pengambilan sampel darah, serta kelengkapan dan keabsahan dokumen dilakukan. Setelah berada di IKH, pengamatan kesehatan sapi dilakukan secara lebih mendalam melalui pemeriksaan sejumlah sampel di laboratorium.
Barantin mencatat, pada 2024, Indonesia telah mendatangkan 487.452 sapi bakalan dari Australia. Sapi-sapi tersebut masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Pelabuhan Panjang di Lampung, Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara, dan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung Saputra