Bumi telah hancur, tersisa satu kota yang dipimpin oleh raja yang sedang sakit. Gereja yang seperti kultus itu menguasai segalanya.
11 Mar 2025 08:02 WIB · Hiburan
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/e52d704e69528162b2356771566699a6-Credit_Constantin_Films_3_.jpg)
Sutradara spesialis film fantasi Paul W.S. Anderson kembali dengan film tentang dunia apokaliptik lewat In the Lost Lands. Film ini menceritakan kisah petualangan penyihir Gray Alys (Milla Jovovich) bersama pengembara Boyce (Dave Bautista) ketika dunia mengalami apokalips.
In the Lost Lands diadaptasi dari cerita pendek tahun 1982 karya pengarang George R. R. Martin. Film dibuka oleh karakter Boyce yang berjanji akan bercerita tentang ‘kisah sihir dan penyihir, pencarian dan monster, tentang kebaikan dan kejahatan’.
Premis yang ingin dihadirkan Anderson lewat film ini adalah bumi telah hancur, tersisa satu kota yang dipimpin oleh raja yang sedang sakit, sementara gereja yang seperti kultus itu menguasai segalanya. Rakyat pun diperlakukan sebagai budak yang setiap hari harus bekerja kasar tiada henti.
Namun, di antara segelintir kegelapan, ada satu musuh utama gereja, yakni sang penyihir Gray Alys. Walau ia berhasil kabur dari hukum tiang gantung, ia yang bilang tidak bisa lepas dari permintaan setiap orang yang datang kepadanya. Alys akan melakukan apapun asal dibayar dengan setimpal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/f3ae29bdcbf1651eaf31bf3434bd15be-Credit_Constantin_Films_1_.jpg)
Tantangan yang lebih berat segera datang, yakni ketika sang ratu muda Melange (Amara Okereke) meminta Alys untuk memberinya kekuatan, berubah menjadi serigala agar bisa bersama kekasih gelapnya. Akan tetapi, pengawal setia sang ratu yang sekaligus simpanannya, Jerais (Simon Lööf) meminta Alys untuk menggagalkan keinginan ratu.
Maka, untuk mendapatkan kekuatan tersebut, Alys mesti mencari manusia serigala yang tinggal di Sungai Tengkorak (Skull River) yang letaknya di tanah yang tertinggalkan (Lost Lands). Untuk menuju ke sana, ia membutuhkan pemandu. Boyce lah teman perjalanannya.
Mengutip Reuters, Senin (10/3/2025), Anderson mengatakan ia berfokus pada aspek sinematik dengan mengambil elemen seperti intrik drama, latar yang gelap, dan monster. Usahanya dalam menambahkan bumbu intrik drama cukup berhasil, tapi sayang cerita menjadi tidak karuan.
Menjadi seorang penyihir, Alys selalu menekankan bahwa dirinya itu terkutuk. Ia kekeuh bahwa ia harus melakukan perjalanan mematikan ke Lost Lands. Namun, sepanjang film, teka-teki mengenai kutukan ini tidak diceritakan. Selama perjalanan mereka, ada saja hal-hal yang tidak masuk akal.
Contohnya adalah jika Lost Lands adalah tempat yang memang tidak lagi dihuni manusia dan sudah ‘mati’, mengapa masih ada aliran listrik? Kemudian, ketika Boyce mengacau di dalam istana, mengapa tidak banyak pengawal yang menyerangnya?
Anderson mengatakan ia berfokus pada aspek sinematik dengan mengambil elemen seperti intrik drama, latar yang gelap, dan monster.
Jika monster adalah suatu kepastian dalam film fantasi, maka In the Lost Lands tidak berhasil membuat cerita monster yang menjanjikan. Hal ini terjadi karena dalam satu alur kronologis cerita, terlalu banyak musuh antagonis yang ditambahkan oleh Anderson.
Monster itu datang menyergap Alys dan Boyce di tengah perjalanan menuju Sungai Tengkorak. Saat Alys berhadapan langsung dengan ketua monster, bum bam bum! Mereka berdua ternyata sudah saling kenal sejak lama.
Selain monster, musuhnya adalah gereja yang sudah memburunya sejak lama. Namun, lagi-lagi, Anderson tidak memberikan penonton sedikit petunjuk untuk mengenal masa lalu Alys.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/1f970fd421a419b3a1c880bf185a832d-Credit_Constantin_Films_2_.jpg)
Satu kerapuhan yang pasti dari film ini adalah dialog yang tidak menguatkan cerita. Selama bertualang bersama, penonton digoda untuk melihat kemungkinan terjadinya sekelebat kisah romantis antara Alys dan Boyce. Sayang, andai keduanya pun menjadi sepasang kekasih, dialog terasa singkat dan dangkal.
In the Lost Lands pun meninggalkan tanda tanya kepada penonton yang sangat penasaran dengan karakter penyihir yang memukau. Di sisi lain, Bautista yang memerankan Boyce, memiliki porsi cerita yang jelas. Memang sepatutnya film fantasi tetaplah menjadi fantasi yang menghibur agar penonton tidak perlu berpikir apakah kisah dan adegan-adegannya masuk akal atau tidak.
Selain fantasi, In the Lost Lands juga menawarkan adegan penuh aksi menegangkan. Salah satu yang paling berkesan adalah pertempuran antara Alys dan Boyce dengan pasukan gereja di dalam stasiun yang terbelangkalai, serta di atas bus. Ketegangan itu diperkaya dengan latar musik berirama cepat.
Grafis efek visual In the Lost Lands pun menakjubkan. Memperlihatkan antara lain istana kerajaan yang mewah, reruntuhan kota, dan masih banyak lagi. Anderson terlihat sangat fokus dalam pembangunan VFX di film ini. Untuk menambah kesan petualangan, film ini juga memberikan petunjuk peta Lost Lands. Banyak adegan dengan filter sepia yang tebal, yakni filter yang membuat gambar berwarna kuning.
Saat laga keduanya sedang panas, sering kali terlihat adegan slow motion saat peluru ditembakkan. Selain itu, ditampilkan pula Alys yang bisa menyihir orang menggunakan matanya. Adegan proses sihir ini akan dibuat menggunakan efek glitch di mana gambar terputus-putus dan efek visual yang terdistorsi.
Film yang berdurasi 1 jam 41 menit ini tergopoh-gopoh mencapai akhir cerita yang padat. Walau alurnya relatif cepat dan durasinya cukup lama, perkembangan konflik sebenarnya agak lambat.
Meski demikian, cara Anderson menuntaskan In The Lost Lands dengan cara tidak terduga. Penonton setidaknya tidak perlu kecewa dengan ending yang seru dan membuat penasaran dengan kisah Gray Alys dan Boyce selanjutnya.
Catatan : Artikel merupakan kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, Giofanny Sasmita, jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara.
Penulis:
Moh. Hilmi FaiqEditor:
Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .