Demi ambisi Indonesia Emas pada 2045, pertumbuhan ekonomi Indonesia setidaknya harus konsisten 5,4 persen selama 20 tahun ke depan. Kerja ekstra keras dibutuhkan.
01 Mei 2025 09:00 WIB · Ekonomi
Demi menuju cita-cita Indonesia Emas 2045, negara ini butuh lompatan dan upaya konsisten. Hal itu tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui proses panjang. Butuh andil banyak pihak untuk mengerek perekonomian dan produktivitas tenaga kerja Indonesia.
Berdasarkan laporan McKinsey Global Institute bertajuk ”The Enterprising Archipelago: Propelling Indonesia’s Productivity”, Indonesia perlu membangun iklim kondusif yang mendorong pertumbuhan produktivitas. Iklim yang mendukung juga dapat membantu perusahaan besar untuk maju sekaligus berkembang melalui pendalaman modal.
Menurut Senior Fellow McKinsey Global Institute Kevin Russell, produk domestik bruto (PDB) Indonesia harus tumbuh pada level 5,4 persen secara tahunan selama 20 tahun ke depan. Produktivitas juga memakinkan peran penting sehingga perlu didorong agar tumbuh 1,6 kali lipat.
”Negara lain dengan PDB per kapita yang dapat dibandingkan mencapai status berpendapatan tinggi mereka dalam 15-30 tahun,” kata Russell di Jakarta, Rabu (30/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/30/3deb43f1b2d221f8a12cd02663634cee-20250430_143539.jpg)
Kesenjangan ekonomi dari daerah berpendapatan tertinggi dan terendah masih tergolong besar dibandingkan dengan negara-negara lain. Di Indonesia, gap (selisih) terbesar mencapai 13,7 kali, yang terjadi antara Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.
Gap lebih rendah ditunjukkan negara tetangga, seperti Malaysia yang membandingkan Kuala Lumpur dan Kelantan sebesar 7,9 kali. Ada juga China dengan perbandingan Beijing dan Gansu (4,3 kali), Korea Selatan dengan membandingkan Ulsan dan Daegu (2,9 kali), serta Amerika Serikat melalui perbandingan New York dan Mississippi (2,3 kali).
Selain itu, proporsi produktivitas dan pekerja Indonesia di perusahaan medium-besar tergolong rendah. Hampir 80 persen pekerja Indonesia bekerja dalam produktivitas rendah dengan ekosistem pengupahan yang rendah pula.
Guna mengatasi ketertinggalan, Russel melanjutkan, status berpenghasilan tinggi mesti diraih dengan mendorong perusahaan dan pendalaman modal yang lebih produktif. Caranya, jumlah perusahaan berukuran menengah dan besar harus bertambah tiga kali lipat dari sekarang.
Artinya, setidaknya 50 persen pekerja nonagrikultur mesti bekerja di perusahaan menengah-besar. Sementara, saat ini, baru 23 persen pekerja nonagrikultur yang berkecimpung di perusahaan terkait.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/21/094eed21-0b33-45b3-83a1-16faca7fecb6_jpg.jpg)
Dalam kesempatan yang sama, Partner and Leader of McKinsey’s People & Organizational Performance Practice McKinsey and Company Indonesia, Phillia Wibowo, mengemukakan, nilai tambah justru akan ditopang sektor jasa. Sektor ini disebut-sebut akan menyumbang 70 persen PDB pada 2045.
”Memperluas nilai tambah sektor jasa dapat menciptakan pekerjaan formal dan produktivitas,” kata Phillia.
Pertumbuhan pasar domestik dan rekonfigurasi rantai global turut membantu berbagai subsektor di Indonesia menjadi lebih kompetitif. Beberapa subsektor tersebut adalah minyak nabati, makanan dan minuman, farmasi, serta mineral dan bijih (ores).
Dengan kondisi sekarang, Indonesia Emas yang dicita-citakan pada 2045 membutuhkan upaya yang ambisius. Namun, dalam kondisi apa pun, pekerjaan selalu akan terbuka, bahkan ketika banyak orang menganggur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/6f1f9026-e64c-49d1-9773-5c79f4183891_png.png)
Phillia mengatakan, ada pergeseran utama dalam keahlian, termasuk digitalisasi. Sebab, kini perlu diakui, manusia tidak dapat hidup tanpa digitalisasi. Namun, seseorang tidak dapat memanfaatkan potensinya jika tidak memiliki keahlian untuk menuntaskan permasalahan.
”Kedua, expertise juga berkaitan erat. Dalam tiga tahun terakhir, terkadang orang cenderung berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Kita kehilangan kemampuan untuk menjadi ahli pada suatu hal. Di era sekarang menjadi sangat baik dalam suatu hal itu sangat berarti,” tutur Phillia.
Tidak ketinggalan, kemampuan untuk bekerja dengan orang lain serta memahaminya. Selain itu, kemampuan untuk mengelola dan menghadapi aktivitas fisik juga hal penting.
Proyeksi ekonomi RI semakin suram akhir-akhir ini imbas penerapan tarif resiprokal AS.
Transformasi lima jenis modal pun akan menentukan pertumbuhan produktivitas perusahaan-perusahaan di Indonesia. Indikatornya dilihat dari modal finansial, manusia, kelembagaan, infrastruktur, dan kewirausahaan.
”Jika produktivitas perusahaan adalah mesin, maka apa bahan bakarnya? Kami menemukan bahwa aspek yang paling menonjol adalah modal finansial, tetapi tidak hanya dalam satu bentuk,” ujar McKinsey & Company Managing Partner and Senior Partner Indonesia Khon Tee Tan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/1ebb5d3e-30eb-47c5-b114-62132fed3f18_jpg.jpg)
Pertama, modal finansial dapat dilihat dari indikator kredit swasta melalui dana deposit perbankan, aset pensiun, dan inklusivitas finansial. Kedua, modal kemampuan manusia yang diukur dari jumlah peneliti dalam ranah penelitian dan pengembangan serta pencapaian di atas pendidikan sekunder. Ketiga, modal institusi kelembagaan yang diukur dari biaya dan durasi pembukaan bisnis baru.
Keempat, modal infrastruktur yang diukur dari masa jenis jalan, kecepatan mengunduh broadband seluler, serta waktu median di pelabuhan untuk pengiriman kontainer. Kelima, modal kewirausahaan yang dilihat dari tingkat pekerjaan informal serta tingkat kepadatan bisnis baru per 1.000 populasi usia pekerja.
Dalam laporan McKinsey disebutkan pula, untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi dengan pendapatan per kapita 14.000 dollar AS pada 2045, ekonomi Indonesia perlu tumbuh riil sebesar 5,4 persen per tahun. Sebagai perbandingan, dalam sedekade ini, pertumbuhan ekonomi RI rata-rata hanya 4,29 persen per tahun, sedangkan dalam 20 tahun terakhir tumbuh 4,97 persen.
”Melihat proyeksi bahwa kita akan tumbuh 4,7 persen (atau lebih rendah) di tahun 2025 dan 2026, maka mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 merupakan pekerjaan yang sangat menantang. Diperlukan kerja cerdas, kerja keras, kerja jujur, dan keberuntungan besar,” tutur ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin secara tertulis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/8330b34d53c154567b5211d543ca3031-30213dfc_f8ca_4ec5_84f6_76ca0470aea2_png.png)
Ia menilai, di tengah ketidakpastian ekonomi, peluang mencapai ambisi Indonesia Emas 2045 tetap ada walau relatif kecil. Saat ini, belum ada tanda-tanda ekonomi Indonesia akan melejit. Entah itu dilihat dari bauran program pemerintah, kualitas kabinet, kualitas pemerintah daerah, kapasitas fiskal, dan kondusivitas iklim usaha. Situasi global yang serba tidak menentu membuat keadaan lebih menantang.
Demi memenuhi ambisi Indonesia Emas 2045, pekerjaan rumah yang mendesak dan utama dilakukan adalah memberikan kepastian hukum. Saat ini, Indonesia belum memenuhi aspek ini, bahkan menunjukkan tren pemburukan.
”Sisanya memperbaiki kualitas kebijakan, kapasitas dan soliditas kabinet, sustainabilitas fiskal, dan memastikan Indonesia menjadi bagian dari supply chain ekonomi global,” kata Wijayanto.
Sebelumnya, beberapa lembaga internasional memproyeksikan ekonomi Indonesia masih akan stagnan untuk jangka waktu pendek. Bank Dunia memperkirakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh rata-rata 5,1 persen pada 2024-2026.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024-2029 akan berkutat pada level 5 persen per tahun, yakni 5 persen pada 2024, naik tipis menjadi 5,1 persen pada 2025 dan 2029 (Kompas.id, 19/3/2025).
Proyeksi itu semakin suram akhir-akhir ini. Imbas tarif resiprokal yang diterapkan Presiden AS Donald Trump, IMF telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen. Jalan menuju Indonesia Emas 2045 semakin berliku.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
FX Laksana Agung Saputra, Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .