Indonesia Perluas Pasar dan Investasi ke Rusia

Salah satu percakapan dalam pertemuan Indonesia dan Rusia adalah terkait kerja sama dan investasi di bidang migas.

15 Apr 2025 20:45 WIB · Ekonomi

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS – Di tengah perang tarif Trump, Indonesia semakin gencar melakukan perjanjian dagang untuk memperluas peluang pasar. Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia menjajaki perjanjian perdagangan dan investasi dengan Rusia.

Indonesia dan Rusia menandatangani kesepakatan perdagangan, ekonomi, dan kerja sama investasi di Kementerian Perekonomian, Selasa (15/4/2025), di Jakarta. Pada hari yang sama, Dewan Ekonomi Nasional juga bertemu dengan Parlemen Uni Eropa untuk mempercepat perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) atau kesepakatan kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa. 

Kesepakatan tersebut langsung ditandatangani oleh Menteri Koordinator Ekonomi Airlangga Hartarto dan First Deputy of Russian Federation HE Denis Manturov. Penandatanganan dilanjutkan oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya N Bakrie dan Deputy CEO Far East and Arctic Development Corporation (FEDC) Kirill Kamenev.

Menurut Anindya, perjanjian Indonesia dengan Rusia merupakan bentuk special economic zone atau bilateral ekonomi secara khusus. Perjanjian itu juga sebagai upaya Indonesia mencari pasar dan mitra untuk saling berinvestasi. Indonesia dan Rusia memiliki sejarah panjang dalam menjalin kerja sama. Melalui perjanjian itu, Indonesia memiliki ruang besar untuk menyeimbangkan neraca perdagangan.

”Tadi kami bicara mengenai perdagangan. Salah satu yang ingin kita tingkatkan ialah bagaimana dari perdagangan menjadi investasi. Sekarang ini tahun yang penuh ujian dengan berbagai macam dinamisme di perekonomian dunia, sehingga kalau kita bisa meningkatkan perdagangan dan bersamaan juga bisa meningkatkan investasi di Indonesia, ini sangat besar (dampaknya),” tutur Anindya.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

Sebelumnya, dalam siaran pers Kemenko Bidang Ekonomi pada Senin (14/4/2025), Deputi Pertama Perdana Menteri Federasi Rusia Denis Manturov menyampaikan harapan untuk dapat bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang strategis seperti pertanian dan energi.

”Untuk mendukung keberlanjutan kerja sama, perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) diharapkan dapat segera terwujud dan ditandatangani pada tahun ini,” kata Manturov.

Masih dalam siaran pers, Airlangga menekankan, peluang kerja sama dengan Rusia yaitu kerja sama investasi di sektor teknologi siber, pariwisata, kesehatan, pendidikan terutama untuk mengirim lebih banyak mahasiswa belajar di Rusia.

”Saya berharap pertemuan kali ini akan menghasilkan pemahaman dan kesepakatan business-to-business yang lebih mendalam, menambah kesempatan akses pasar, dan prospek investasi baru antara Indonesia dan Rusia. Pertemuan ini diharapkan juga akan menghasilkan kesepakatan awal yang memanfaatkan kekuatan kedua negara, membuka jalan bagi investasi nyata di bidang energi terbarukan, teknologi, dan manufaktur,” kata Airlangga.

Salah satu strategi utama Pemerintah Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yaitu melalui hilirisasi industri, khususnya di sektor-sektor unggulan seperti nikel, tembaga, bauksit, kelapa sawit, dan petrokimia. Kebijakan hilirisasi diharapkan mampu memberikan nilai tambah dalam negeri yang lebih besar, meningkatkan daya saing global, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Presiden Prabowo Subianto mengantar Wakil Perdana Menteri Pertama Federasi Rusia Denis V Manturov seusai berbincang sekitar satu jam di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Anindya menjelaskan, nilai ekspor Indonesia ke Rusia hampir mencapai 1 miliar dollar AS melalui minyak sawit, mesin, karet, alas kaki, hingga kopi dan teh. Sementara nilai ekspor Rusia ke Indonesia mencapai 2,4 miliar dollar AS melalui minyak, fertilizer atau pupuk, dan berbagai macam produk laut, seperti ikan dan krustasea.

Salah satu percakapan dalam pertemuan Indonesia dan Rusia terkait kerja sama dan investasi di bidang migas. Indonesia memiliki keinginan untuk meningkatkan lifting minyak atau volume produksi minyak.

”Dengan kerja sama ini, saya yakin bukan saja bisa seimbang (nilai ekspor), tapi juga bisa lebih besar,” ujar Anindya.

Dalam diskusi, Anindya melanjutkan, ada harapan selain perdagangan yang meningkat, tetapi juga investasinya karena Rusia sangat kuat di bidang minyak dan gas, pertahanan seperti pesawat, penelitian, dan edukasi.

Di acara yang sama, Ketua Komite Bilateral Rusia-Belarus Kadin Indonesia Didit Ratam berharap pada akhir semester 2025 Indonesia bisa menandatangani free trade agreement (FTA) atau perjanjian perdagangan bebas barang dan jasa dengan Rusia. Dengan begitu, tarif perdagangan Indonesia dengan Rusia diharapkan akan turun. Tarif ini masih dalam negosiasi tahap akhir.

Dari kelanjutan perjanjian itu, ucap Anindya, Pemerintah Indonesia akan mengikuti forum ekonomi di Saint Petersburg, Rusia, yang menurut rencana akan diikuti langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam forum itu, Kadin juga akan ikut dan membuat agenda CEO Forum. Indonesia juga akan menghadiri pertemuan BRICS di Brasil pada Juli mendatang.

Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan meluncurkan Katalog Elektronik Versi 6 di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/12/2024). Hadir dalam acara ini kepala lembaga tinggi negara, menteri Kabinet Merah Putih, kepala lembaga-lembaga negara, dan penjabat kepala daerah. Kompas/Hendra A Setyawan

Penyelesaian

Sementara itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa pagi menerima delegasi Komite Perdagangan Internasional (INTA) dari Parlemen Uni Eropa yang dipimpin oleh Hon Bernd Lange. Dalam pertemuan itu, Luhut didampingi Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu dan anggota DEN Septian Hario Seto, serta beberapa direktur eksekutif DEN.

Pertemuan tersebut dinilai menjadi bagian penting dari upaya mempercepat penyelesaian IEU-CEPA, sebuah perjanjian strategis yang bertujuan membuka akses pasar, memperkuat investasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Uni Eropa merupakan mitra dagang dan investasi utama Indonesia yang juga membuka akses ke pasar global yang lebih luas.

”Di tengah ketidakpastian perdagangan global akibat kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat, percepatan IEU-CEPA kami pandang sebagai langkah strategis untuk mendiversifikasi mitra dagang dan mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu,” ujar Luhut dalam keterangan resmi.

Negosiasi IEU-CEPA telah berlangsung hampir satu dekade, melalui 19 putaran pembicaraan. Perjanjian ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor Indonesia, terutama di sektor-sektor unggulan, seperti tekstil, alas kaki, pertanian, dan perikanan.

Pertemuan ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam menavigasi lanskap perdagangan global yang semakin kompleks serta menunjukkan kesiapan Indonesia untuk menjadi aktor utama dalam membangun kemitraan ekonomi internasional yang adil, terbuka, dan berorientasi masa depan.

”Indonesia siap terus berdialog dan mencari solusi yang saling menguntungkan untuk menyelesaikan negosiasi IEU-CEPA,” ujarnya.

Luhut menegaskan, Indonesia berkomitmen terhadap reformasi dan deregulasi kebijakan perdagangan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo. Pemerintah Indonesia saat ini tengah melakukan penyederhanaan prosedur dan penurunan biaya ekonomi untuk menciptakan iklim usaha yang lebih efisien dan kompetitif.

Infografik riset Skor B-Ready Indonesia dan Sejumlah Negara Sekitar untuk artikel Tarif Trump dan Momentum Peningkatan Investasi di Indonesia

Pekerjaan rumah

Sementara itu, menurut Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin, Indonesia masih memilik banyak pekerjaan rumah untuk menyelesaikan berbagai perjanjian dengan berbagai negara. Salah satunya penyelesaian perjanjian IEU-CEPA  yang tidak kunjung selesai atau dimulai sejak sembilan tahun lalu dengan melalui 19 putaran perundingan. 

Menurutnya, penyelesaian perjanjian IEU CEPA begitu sangat terlambat dan baru belakangan Indoesia tancap gas untuk menyelesaikannya karena kebijakan tarif resiprokal AS. Oleh karena itu, Indonesia tidak boleh lagi menunda penyelesaian perjanjian termasuk terus menindaklanjuti kerja sama dengan Rusia dan perjanjian-perjanjian lainnya yang belum selesai. 

Adapun finalisasi kesepakatan perdagangan bebas oleh Indonesia, yakni Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA); Indonesia-Peru CEPA; Indonesia-EU CEPA; Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA); dan Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (II-PTA).

”Resiprokal tarif Trump ini menjadi momentum bagi berbagai negara termasuk Indonesia untuk membangun kerja sama dagang. Momentum ini semoga juga terjadi pada IEU-CEPA (yang belum selesai),” kata Wijayanto, saat dihubungi. 

Menurutnya, kerja sama dengan Uni Eropa menjadi sangat penting di tengah dinamika geopolitik, perang dagang China-Amerika Serikat, dan tarif resiprokal AS kepada banyak negara. Uni Eropa merupakan pasar potensial bagi produk-produk Indonesia mulai dari tekstil, alas kaki, elektronik, minyak sawit, dan banyak produk unggulan lainnya. 

”Indonesia kalah bersaing dari Vietnam dan negara lainnya yang sudah punya FTA dengan EU. Perjanjian dengan EU akan sangat membantu penetrasi produk Indonesia,” tutur Wijayanto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul