Jalan layak menuju perdamaian abadi di kawasan adalah dengan menyelesaikan akar penyebab konflik. Akar itu adalah pendudukan Israel.
05 Feb 2025 20:30 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia kembali bersuara terkait usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Gaza. Indonesia menolak gagasan pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza.
Kementerian Luar Negeri RI mengeluarkan sikap itu pada Rabu (5/2/2025) malam. Pernyataan tertulis disampaikan tak sampai sehari selepas Trump kembali menyampaikan pandangannya soal Gaza.
”Indonesia dengan tegas menolak segala upaya untuk secara paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis Wilayah Pendudukan Palestina,” demikian pernyataan Kemenlu RI.
Dalam pernyataan itu disebutkan, pemindahan warga Palestina dari Gaza akan menghambat terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Padahal, kemerdekaan Palestina dengan perbatasan sesuai kondisi 1967 merupakan bagian perwujudan Solusi Dua Negara.
”Indonesia menyerukan kepada komunitas internasional untuk memastikan penghormatan terhadap hukum internasional, khususnya hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta hak mendasar untuk kembali ke tanah air mereka,” lanjut Kemenlu RI dalam pernyataannya.
Kemenlu RI menegaskan, satu-satunya jalan layak menuju perdamaian abadi di kawasan adalah dengan menyelesaikan akar penyebab konflik. Akar itu adalah pendudukan ilegal dan berkepanjangan oleh Israel atas wilayah Palestina.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa AS ingin mengambil alih Jalur Gaza dan membangun kembali wilayah itu setelah warga Palestina dipindahkan keluar. ”AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami akan berbuat sesuatu dengan itu,” ujar Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Selasa (4/2/2025) siang waktu Washington DC atau Rabu dini hari WIB.
Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan mengirim tentara AS ke Gaza. Selama ini, pemerintahan AS dari kubu mana pun, termasuk Trump pada periode pertama 2017-2021, menolak pengerahan tentara ke Gaza. ”Selama Gaza jadi perhatian, kami akan melakukan hal yang dibutuhkan,” ujarnya, Selasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/aa892759ab970f5748e6752656e7ea18-1000000154.jpg)
Ketika ditanya siapa nanti yang akan tinggal di Jalur Gaza, ia menjawab, tempat itu bisa menjadi tempat tinggal ”warga dunia”. Namun, dalam kutipan yang dilansir kantor berita AFP, Trump memberi kesan bahwa wilayah itu tidak dibangun untuk rakyat Palestina.
”(Langkah) ini seharusnya tidak dilakukan melalui proses pembangunan kembali dan ditempati oleh rakyat yang sama. ... yang pernah tinggal di sana dan meninggal di sana, serta hidup dalam kondisi mengerikan di sana,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
Sebelum pernyataan itu, Trump sudah membuat kejutan. Ia mengusulkan pemindahan secara permanen warga Palestina dari Gaza ke negara-negara tetangga. Trump telah menyebut Mesir dan Jordania sebagai tujuan penempatan warga Gaza.
Trump bertaruh bahwa Mesir dan Jordania akan menuruti kemauannya. Sebab, kedua negara itu penerima bantuan AS dalam jumlah sangat besar.
Sebagian pengkritik mengatakan, retorika-retorika ekspansionis dari Trump mendengungkan kembali imperialisme gaya lama. Retorika semacam itu bisa menjadi afirmasi invasi Rusia di Ukraina dan justifikasi bagi China untuk menginvasi Taiwan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Kris Mada, Iwan Santosa, Muhammad Samsul HadiEditor:
Kris Mada