Mengapa PM Israel Netanyahu tiba-tiba berubah sikap, dari sebelumnya selalu ngotot dalam perundingan-perundingan, dengan bersedia melunak dan menerima kesepakatan gencatan senjata di Gaza?
17 Jan 2025 07:30 WIB · Opini
Perdana Menteri, yang sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani dalam konferensi pers pada Rabu (15/1/2025) malam di Doha, Qatar, mengumumkan secara resmi bahwa telah tercapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza antara Hamas dan Israel. Kesepakatan gencatan senjata akan mulai berlaku pada Minggu, 19 Januari 2025.
Qatar bersama Mesir dan AS selama ini dikenal sebagai mediator dalam perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel untuk mencapai gencatan senjata di Jalur Gaza. Pengumuman gencatan senjata itu diharapkan mengakhiri perang Gaza yang telah berlangsung 15 bulan dan menelan korban tewas lebih dari 46.700 warga Palestina di Gaza.
Transaksi gencatan senjata di Gaza berlangsung tiga tahap. Setiap tahap berlangsung selama 42 hari.
Dalam tahap pertama akan dibebaskan 33 sandera warga Israel di Gaza dengan imbalan Israel membebaskan 2.000 tawanan Palestina. Pada tahap pertama itu pula, Israel akan mundur dari pintu gerbang Rafah dan Koridor Netzarim, koridor yang memisah Jalur Gaza Utara dan Jalur Gaza Selatan. Tak hanya itu, Israel juga mundur secara bertahap dari Koridor Philadelphi sepanjang sekitar 14 kilometer antara Mesir dan Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/17/98c4db1a-df7c-48b6-997d-d01c1277c6d1.jpg)
Pada tahap pertama akan masuk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dengan volume 600 truk per hari. Pada tahap kedua akan dilanjutkan tukar-menukar pembebasan tawanan antara Hamas dan Israel.
Kemudian pada tahap ketiga akan dimulai proses pembangunan kembali Jalur Gaza dan pembentukan pemerintah baru di Jalur Gaza.
Rakyat Palestina pun di Jalur Gaza pada Rabu (15/1/2025) malam turun ke jalan-jalan untuk merayakan kesepakatan gencatan senjata dan sekaligus berakhirnya penderitaan mereka selama 15 bulan perang berkecamuk.
Isu perang Gaza tampak berubah begitu cepat yang sama sekali tidak diduga sebelum ini. Faktor utamanya adalah perubahan sikap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang semula sangat keras menolak gencatan senjata di Gaza, tiba-tiba melunak dan bersedia mencapai gencatan senjata.
Bahkan, yang cukup mengejutkan, Netanyahu bersedia menarik pasukan Israel dari Koridor Philadelphi dan Koridor Netzarim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/a6ddf10307f2fe213d74eec83c7cf0b1-ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_126708716.jpg)
Perubahan sikap Netanyahu yang mengarah lebih lunak tersebut membuka jalan menuju tercapainya gencatan senjata di Jalur Gaza saat ini.
Padahal, Netanyahu sebelum ini bersikeras akan tetap menduduki Koridor Philadelphia dan Netzarim dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Sikap keras PM Netanyahu ini yang menggagalkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dalam perundingan-perundingan sebelumnya.
Tak pelak lagi perubahan sikap Netanyahu yang lebih melunak itu menjadi sasaran kritik sebagian anggota koalisi kabinetnya dan para pengamat Israel dari kelompok garis keras. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich—keduanya terkenal dengan sikap kerasnya—mengkritik keras sikap Netanyahu yang menerima transaksi gencatan senjata di Gaza.
Mengapa PM Netanyahu tiba-tiba berubah sikap dengan bersedia melunak? Harian Israel, Maariv, edisi Rabu, 15 Januari 2025, menyebut perubahan sikap Netanyahu dengan menerima transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza karena semata-mata tekanan dari presiden terpilih AS, Donald Trump, bukan pertimbangan kemanusiaan atau moral.
Menurut harian Israel, ’Maariv’, Netanyahu mendapat ancaman dari Trump, dan Netanyahu takut sama Trump.
Menurut Maariv, Netanyahu mendapat ancaman dari Trump, dan Netanyahu takut sama Trump. ”Netanyahu lebih takut kepada Trump daripada kepada kolega anggota kabinetnya yang selalu mengancam mundur dari kabinet,” tulis Maariv.
Harian Israel lainnya, Haaretz, edisi Rabu, 15 Januari 2025, juga menyebut faktor utama adanya transaksi gencatan senjata di Gaza adalah pengaruh Trump yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh Presiden Joe Biden. Netanyahu tiba-tiba berubah sikap lebih melunak setelah bertemu Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, Sabtu (11/1/2025) malam, di Jerusalem.
Menurut harian Israel, The Times of Israel, pertemuan Netanyahu dan Witkoff berlangsung cukup lama dan tegang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/9beb17ade4b9b0861341d3a33cc98774-Mideast_Wars_Negotiators_126767359.jpg)
Harian Israel tersebut mengungkap, Witkoff menekan Netanyahu agar menerima transaksi gencatan senjata dengan Hamas sebelum Trump dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari 2025.
Witkoff adalah teman dekat Trump yang berlatar belakang sebagai pengusaha properti asal New York. Trump menunjuk Witkoff sebagai utusan khususnya untuk Timur Tengah segera setelah Trump menang dalam pemilihan presiden AS bulan November 2024.
Witkoff yang berlatar belakang pengusaha saat bertemu Netanyahu sama sekali tidak menggunakan bahasa diplomasi. Ia langsung blak-blakan dengan nada mengancam menyampaikan keinginan Trump agar segera ada gencatan senjata di Gaza dan semua tawanan Israel yang disekap Hamas segera kembali ke keluarga mereka masing-masing.
Tanpa menggunakan bahasa diplomasi, Witkoff langsung blak-blakan dengan nada mengancam menyampaikan keinginan Trump agar segera ada gencatan senjata di Gaza.
Menghadapi ancaman Witkoff itu, Netanyahu segera menyerah dan menerima transaksi gencatan senjata di Gaza.
Segera setelah berhasil menekan Netanyahu, Witkoff langsung terbang lagi menuju Doha, Qatar, untuk ikut terlibat langsung dalam perundingan gencatan senjata di Jalur Gaza di ibu kota Qatar itu.
Sebelumnya, Witkoff tiba di Doha pada hari Jumat, 10 Januari 2024, atas instruksi Trump untuk terlibat dalam perundingan antara Hamas dan Israel tentang gencatan senjata di Gaza. Kemudian Witkoff hari Sabtu terbang ke Israel untuk menekan langsung Netanyahu agar menerima transaksi gencatan senjata di Gaza, dan setelah itu Witkoff lalu terbang lagi ke Doha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/101e91bdda1e60e409cfb3a9fa9669d0-Israel_Palestinians_Trump_126604001.jpg)
Netanyahu tampak tak berdaya menghadapi tekanan Trump. Sikap lemah Netanyahu di hadapan Trump mungkin secara politik karena Netanyahu dan Israel sangat berhutang budi kepada Trump.
Netanyahu tentu tidak akan lupa kebijakan Trump yang mengakui kota Jerusalem yang bersatu sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember 2017 dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada 22 Maret 2019.
Adalah Trump juga yang membatalkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 pada 9 Mei 2018. Israel menganggap Iran adalah musuh terbesarnya di Timur Tengah.
Maka, di mata Netanyahu, Trump terlalu banyak berjasa kepada Israel. Ini yang membuat Netanyahu patuh kepada Trump.
Tentu Netanyahu berharap Trump berbuat lebih banyak lagi untuk Israel pada periode jabatan presiden kedua 2025-2029 selepas pelantikan Trump sebagai presiden, 20 Januari 2025.
____________
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd RahmanEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .