Dampak demonstrasi beberapa waktu belakangan ini menyebar hingga ke sektor pariwisata dan industri pameran. Dampak itu berupa pembatalan pesanan dan kegiatan.
01 Sep 2025 15:58 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Ekosistem industri yang mencakup perhotelan serta pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau MICE hingga pariwisata terdampak ketidakpastian keamanan yang sedang terjadi. Banyak kunjungan turis dan berbagai kegiatan yang dibatalkan lantaran situasi yang dinilai belum kondusif. Perlu ada upaya untuk memberikan rasa aman ke seluruh lapisan masyarakat.
Demonstrasi yang berlangsung sejak Senin (25/8/2025) hingga saat ini telah menimbulkan kerugian bagi beberapa pihak. Aksi yang dipicu perilaku pejabat publik, baik eksekutif maupun legislatif, itu telah memakan korban. Kompas mencatat setidaknya tujuh orang meninggal atas dampak dari kerusuhan tersebut mulai dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Makassar.
Selain korban nyawa, perusakan infrastruktur juga terjadi di mana-mana. Gubernur Jakarta Pramono Anung merinci, kerusakan infrastruktur MRT Jakarta menimbulkan kerugian sekitar Rp 3,3 miliar dan fasilitas Transjakarta hingga Rp 46,1 miliar. Adapun kerusakan CCTV (kamera pemantau) serta infrastruktur pendukung lainnya ditaksir Rp 5,5 miliar (Kompas.id, 1/9/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/06/d5c17f08-35ce-4ddd-a4c7-9d5e9c1788fb_jpg.jpg)
Rentetan aksi itu berdampak ke banyak hal, termasuk pada ekosistem MICE dan pariwisata. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (Asppi) Bahriyansyah mengungkapkan, dampak dari kerusuhan di sejumlah daerah itu sudah mulai dirasakan pelaku pariwisata dengan pembatalan atau penundaan kedatangan wisatawan. Menurut dia, sejumlah turis mancanegara dan lokal merasa tidak aman untuk berwisata di tengah situasi seperti ini.
”Seharusnya ada imbauan bahwa lokasi pariwisata itu aman dari lokasi-lokasi kerusuhan karena memang begitu faktanya. Bisa dilihat di Bali baik-baik saja, Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timu) atau di Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah) juga aman,” ungkap Bahriyansyah, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (1/9/2025).
Bahriyansyah bahkan menunjukkan beberapa pesan singkat dari calon tamu yang membatalkan pesanan mereka untuk berwisata. Dalam isi pesan-pesan itu, para tamu khawatir akan keselamatan mereka karena menilai situasi di Indonesia sedang tidak aman.
”Kami berharap semoga dapat disampaikan oleh media dan berharap kementerian terkait menyampaikan bahwa kegiatan wisata terkhusus di area yang jauh dari pusat pemerintahan tidak terdampak karena ini menyangkut perekonomian daerah juga,” ungkapnya.
Dalam sektor wisata, lanjut Bahriyansyah, faktor keamanan merupakan yang utama. Tamu dari berbagai tempat tidak akan mau melancong jika keamanan tidak terjamin. Untuk itu, berbagai pihak perlu menjamin keamanan mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/04/010f224a-af87-41cb-bee6-819321877617.jpeg)
Hal serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Hosea Andreas Runkat. Menurut Andreas dalam rilis yang diterima Kompas, industri pameran terdampak oleh situasi saat ini. Banyak agenda atau kegiatan yang ditunda, bahkan dibatalkan. Kondisi ini memperburuk situasi industri yang sejak awal tahun telah tertekan akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah ataupun korporasi.
”Industri pameran merupakan penggerak ekonomi strategis, menciptakan lapangan kerja, sekaligus membuka peluang perdagangan, pariwisata, dan investasi. Tanpa situasi yang kondusif, ekosistem usaha ini akan semakin sulit berkembang,” ujar Andreas.
Asperapi yang merupakan wadah resmi pelaku industri pameran memiliki visi untuk mengembangkan ekosistem event nasional dan internasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di situasi seperti ini, pihaknya betul-betul terdampak dan berharap bisa kondusif kembali.
”Keselamatan rakyat dan keutuhan bangsa tetap menjadi prioritas utama. Kami percaya, semakin cepat Indonesia kembali kondusif dan aman, semakin cepat pula pemulihan ekonomi dapat terwujud, termasuk bagi industri pameran,” katanya.
Meskipun demikian, lanjut Andreas, pihaknya mendukung kebebasan berpendapat sebagai bagian dari demokrasi. Ia juga menyampaikan doa serta empati terhadap para korban yang meninggal dunia ataupun yang terluka atas situasi ini.
Asperapi, kata Andreas, mengajak seluruh pihak menjaga persatuan dan stabilitas nasional. ”Kami mendorong terciptanya solusi bersama yang menguntungkan semua pihak agar Indonesia tetap dipercaya dunia internasional sebagai destinasi investasi, perdagangan, dan pariwisata,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/8c64243ecec2c1d18c5e619200efbd48-20241107_130324.jpg)
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi mengungkapkan, situasi saat ini tentunya begitu memengaruhi keberlangsungan usaha dan ekonomi mikro di berbagai sektor. Imbasnya ke masyarakat sebagai konsumen.
Untuk itu, lanjut Tulus, pihaknya mengimbau agar pemerintah memberikan kepastian keamanan demi roda perekonomian tetap berjalan. Ia juga mengimbau agar kepastian rantai pasok dalam keadaan aman dengan harga terjangkau sehingga masyarakat, baik konsumen maupun pelaku usaha, bisa jauh lebih tenang di situasi yang serba tak pasti.
”Khususnya untuk bahan pangan dan energi, seperti BBM (bahan bakar minyak) dan elpiji. Harga harus terkendali secara normal dan wajar. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus lebih ketat lagi mengawasi pasar untuk memitigasi potensi distorsi pasar, baik pasokan maupun harganya,” kata Tulus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/15cbab557b8772e05117aab6820e32b1-WhatsApp_Image_2025_09_01_at_14.02.50.jpeg)
Untuk pelaku usaha, lanjut Tulus, jangan menjadikan situasi ini sebagai momen untuk menaikkan harga yang tinggi di luar harga pasar, apalagi menimbun barang pokok yang jadi kebutuhan masyarakat.
”Untuk konsumen harus bisa berkonsumsi secara wajar, melakukan pembelian secara wajar sehingga tidak panic buying, apalagi melakukan pembelian secara ugal-ugalan,” ungkap Tulus.
Tulus menilai, panic buying bisa terjadi di situasi saat ini dan bakal mendistorsi pasar. Distorsi itu berupa terganggunya rantai pasok dan kenaikan harga yang signifikan. ”Panic buying itu juga merugikan konsumen secara keseluruhan,” ujarnya.
Penulis:
Dionisius Reynaldo TriwibowoEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati