Inggris hanya berganti pelatih, tetapi senjata mereka tetap sama. Senjata mereka memang terlihat kurang berkesan, tetapi sangat berbahaya. Ghana patut waspada.
22 Jun 2026 11:40 WIB · Olahraga
AP Photo/Rebecca Blackwell
FOXBOROUGH, SENIN — Meskipun sudah berganti pelatih, dari Gareth Southgate ke Thomas Tuchel, Inggris masih saja mengandalkan bola mati di Piala Dunia. Realitas itu sulit dihindari karena skema bola mati yang sedang populer di Liga Inggris memang merupakan keunggulan utama ”Tiga Singa”.
Bola mati Inggris semakin mematikan. ”Seiring berjalannya waktu, saya merasa setiap kali saya memberikan umpan dari bola mati, baik tendangan sudut maupun tendangan bebas, itu akan menjadi asis atau menghasilkan sesuatu yang berbahaya,” kata gelandang Inggris, Declan Rice.
Senjata ampuh Tiga Singa sudah memakan satu korban pada laga pembuka, yaitu Kroasia. Inggris dipenuhi pemain dengan kreativitas dan teknik tinggi, seperti Jude Bellingham atau Harry Kane.
Namun, dua gol pembuka mereka ke gawang Kroasia justru berasal dari situasi bola mati.
Sepasang gol itu bermula lewat tendangan sudut yang dieksekusi Rice. Dalam gol pertama, kemelut di situasi tendangan sudut itu berujung penalti. Sementara dalam gol kedua, Kane langsung mencetak gol sundulan dari umpan Rice. Tim lawan tidak punya jawaban dari senjata tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/b67809dfa25a6a679412cfcb028aba4e-cropped_image.jpg)
Realitas itulah yang mesti diterima para pendukung Inggris. Mereka datang bukan untuk bermain indah, melainkan untuk menjuarai turnamen setelah paceklik selama 60 tahun. Kebetulan, senjata bola mati yang sudah diandalkan sejak edisi Qatar 2022 semakin mematikan kali ini.
Semua juara di tiga divisi teratas Inggris berprestasi berkat bola mati. Di Liga Inggris, Arsenal yang dikenal sebagai ”raja tendangan sudut” turut mengirim wakil mereka, salah satunya Rice. Sudah semestinya senjata itu dimanfaatkan.
”Fans Inggris akan menikmatinya,” kata Rice soal dominasi bola mati.
Fakta tersebut pula yang harus dihadapi oleh lawan Inggris selanjutnya, Ghana. Kedua tim itu akan bertarung memperebutkan posisi juara Grup L di Stadion Gillette, Foxborough, Massachusetts, AS, Rabu (24/6/2026) pukul 03.00 WIB. Mereka sama-sama sudah mengantongi satu kemenangan.
Kami harus siap berkorban karena harga kemenangan di Piala Dunia sangat mahal.
Ghana memiliki cukup banyak pemain dengan postur ideal. Bek tengah Jerome Opoku bisa mendominasi duel-duel bola atas dengan tinggi 194 sentimeter. Gelandang Thomas Partey yang pernah bermain di Arsenal selama lima musim juga sudah terbiasa menghadapi ancaman bola mati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/33b28cebd2a8fcb8a1a2f44e0a248530-20260622_DMS_Inggris_vs_Ghana_mumed.png)
Masalahnya, dominasi Inggris bukan hanya berkat keunggulan postur. Pemain dengan tubuh menjulang, seperti Kane (188 cm) dan Nico O’Reilly (193 cm), hanyalah pion dalam permainan catur kompleks ala Tiga Singa saat situasi bola mati. Mereka punya strategi saling blok untuk membuat kekacauan di kotak penalti.
Southgate, di turnamen sebelumnya, terlebih dulu memopulerkan strategi yang mirip dengan gerakan screen dalam permainan bola basket tersebut. Tuchel meningkatkan level strategi itu seiring dengan adaptasi yang semakin maju di klub-klub Inggris dalam dua tahun terakhir.
Lihat saja gol kedua Kane ke gawang Kroasia. Gol itu terlihat sederhana, hanya berasal dari umpan Rice yang disambut Kane. Namun, banyak detail yang berpengaruh besar. Peran terpenting dimainkan oleh bek John Stones yang menahan dua pemain sekaligus untuk membebaskan Kane.
Eksekusi tendangan sudut Rice juga patut diwaspadai. Dia sudah naik level sebagai pengumpan. Di level klub, sang gelandang biasanya hanya mengeksekusi umpan-umpan tendangan sudut inswinging atau ke arah dalam.
Di timnas Inggris, dia mengambil tendangan sudut dari dua sisi sekaligus. Asisnya di laga pembuka berasal dari umpan outswinging atau ke arah luar.
Terlepas dari itu, Inggris juga mesti waspada. Tiga Singa baru kalah dua kali sejak Tuchel menjabat pada Januari 2025. Namun, salah satu dari kekalahan itu dihasilkan dari tim Afrika, yaitu Senegal. Sama seperti Senegal, Ghana memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kekuatan fisik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/dc462d878151064722ead7a6285f7125-1000955785.jpg)
Ghana dipimpin oleh pelatih veteran, Carlos Queiroz. Tim ”Bintang Hitam” dikenal punya organisasi permainan yang rapi dan transisi cepat. Mereka mengandalkan Partey untuk menjaga keseimbangan di lini tengah.
Di lini serang, ada penyerang sayap Manchester City, Antoine Semenyo, yang bisa mengancam balik.
Ghana berambisi lolos ke babak gugur lagi setelah terakhir pada edisi 2010. Mimpi itu semakin dekat jika bisa menumbangkan Inggris.
”Untuk itu, kami harus mau menderita. Tidak ada cara lain. Kami harus siap berkorban karena harga kemenangan di Piala Dunia sangat mahal, tetapi anak-anak sudah siap untuk itu,” ucap Queiroz.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar