Ingin Menurunkan Hipertensi? Cobalah Ikuti Lari Maraton

Pelari pemula dapat menurunkan tekanan darah dan pengerasan aorta atau pembuluh darah apabila berhasil menyelesaikan maraton sejauh 42 km.

17 Des 2024 20:53 WIB · Olahraga

Oleh Pradipta Pandu Mustika

Sudah tidak ada yang perlu dibantah bahwa olahraga lari memiliki banyak manfaat kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Manfaat kesehatan ini pun bisa diperoleh dengan melakukan lari jarak jauh seperti maraton yang mencapai 42 kilometer.

Mengikuti lomba lari maraton memang sangat menantang bagi para pelari pemula. Alih-alih memperoleh manfaat kesehatan, mengikuti ajang lari maraton bisa berakibat fatal apabila tidak dilakukan dengan persiapan yang matang. Umumnya, seorang pelari pemula terlebih dahulu harus pernah mengikuti lari kategori 5 km, 10 km, atau 21 km sebelum melakukan maraton.

Terlepas dari persiapannya, ternyata berlari maraton untuk pertama kalinya dapat memberikan beberapa manfaat kesehatan bagi para pelari pemula. Manfaat kesehatan dengan mengikuti maraton bagi pelari pemula ini terangkum dalam hasil studi yang terbit di Journal of the American College of Cardiology tahun 2020.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pelari pemula dapat menurunkan tekanan darah dan pengerasan aorta atau pembuluh darah bila berhasil menyelesaikan maraton sejauh 42 km. Manfaat kesehatan ini setara dengan penurunan usia pembuluh darah selama empat tahun.

Para pelari mengikuti lomba lari Astra Half Marathon 2024 di Astra Biz Center BSD, Tangerang, Banten, Minggu (10/11/2024). Sekitar 5.000 pelari mengikuti lomba dalam tiga kategori jarak, 5 kilometer, 10 kilometer, dan 21 kilometer (separuh maraton). KOMPAS/HERU SRI KUMORO 10-11-2024

Pengerasan arteri merupakan bagian normal ketika seseorang bertambah usia. Namun, hal ini juga bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada individu yang sehat karena peningkatan tekanan nadi dan kelebihan beban ventrikel. Kondisi ini juga berkaitan dengan demensia dan penyakit ginjal meskipun tidak adanya plak di arteri.

Quote

Studi kami menyoroti pentingnya perubahan gaya hidup untuk memperlambat risiko yang terkait dengan penuaan.

Kondisi tersebut tidak bisa hanya diatasi dengan meminum obat. Sebab, obat tekanan darah dapat mengubah kekakuan arteri pada penyakit jantung yang sudah ada.

Manfaat kesehatan terbesar saat mengikuti maraton terlihat pada pelari pria dengan usia yang cukup tua dan memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi. Dengan kata lain, mengikuti maraton juga bisa meremajakan kembali jaringan tubuh manusia.

Peneliti dari Institute of Cardiovascular Science di University College London, Charlotte H Manisty mengemukakan, dokter acap kali merekomendasikan resolusi tahun baru bagi pasien dengan latihan fisik seperti mengikuti maraton atau lari santai. Rekomendasi ini merupakan motivasi yang baik untuk tetap aktif.

Pelari melintasi kebun saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024

”Studi kami menyoroti pentingnya perubahan gaya hidup untuk memperlambat risiko yang terkait dengan penuaan. Memang tidak ada kata terlambat sebagaimana dibuktikan oleh pelari kami yang dengan usia lebih tua,” ujarnya dikutip dari situs resmi American College of Cardiology, Selasa (17/12/2024).

Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 138 pelari maraton sehat yang baru pertama kali mengikuti Maraton London tahun 2016 dan 2017. Peneliti kemudian memeriksa peserta sebelum latihan dan setelah menyelesaikan maraton untuk menentukan apakah kekakuan aorta akibat bertambahnya usia dapat dipulihkan dengan latihan dan olahraga.

Peserta tidak memiliki riwayat medis atau jantung yang signifikan dan tidak berlari lebih dari dua jam per minggu pada awal penelitian. Peserta berusia rata-rata 37 tahun dan 49 persen merupakan laki-laki. Waktu lari maraton rata-rata adalah 5,4 jam untuk wanita dan 4,5 jam untuk pria.

”Studi kami menunjukkan adanya kemungkinan untuk meremajakan pembuluh darah kita dengan latihan fisik dalam waktu enam bulan. Manfaat ini diamati pada individu yang sehat secara keseluruhan di berbagai rentang usia. Waktu tempuh maraton mereka menunjukkan bahwa latihan fisik dapat dicapai pada pelari pemula,” kata Manisty.

Ockben Sinaga (53), pelari master saat ditemui disela-sela latihan, Senin (24/10/2022) di lintasan atletik, Stadion Madya Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Ockben akan mengikuti Philippines Masters International Athletics Championship 2022 pada 11 sampai 12 November mendatang.

Aman untuk lansia

Lomba lari maraton yang semakin populer menarik partisipasi dari berbagai kalangan, termasuk para lansia. Selama ini pun banyak perdebatan terkait dengan dampak mengikuti lari maraton bagi lansia mengingat kemampuan fisik mereka yang sudah menurun.

Dampak mengikuti maraton memang beragam bagi setiap kalangan tergantung dari berbagai faktor mulai dari persiapan, pelatihan, hingga kondisi fisik sebelum perlombaan. Namun, hasil studi yang dilakukan University of Manitoba, Kanada, menunjukkan bahwa lari maraton secara umum aman diikuti oleh lansia tanpa riwayat kesehatan yang buruk.

Dijelaskan dalam studi yang terbit di Journal of Cardiovascular MRI ini, efek mengikuti maraton bagi peserta berusia lebih dari 50 tahun serupa dengan pelari berusia antara 18 dan 40 tahun. Berbagai efek maraton terhadap jantung juga tidak ditemukan kembali dan menghilang dalam waktu seminggu setelah menyelesaikan perlombaan.

”Tidak ada bukti kerusakan jantung permanen akibat lari maraton berulang pada individu berusia di atas 50 tahun,” kata Davinder Jassal, penulis utama studi tersebut yang juga profesor di kedokteran, radiologi, dan fisiologi di University of Manitoba.

Para pelari master pria tercepat dari nomor marathon dalam gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, di Borobudur, Magelang, Jateng, Minggu (1/12/2024). Pelari master adalah pelari yang berusia lebih dari 40 tahun.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti menggunakan tes darah, ekokardiografi (USG jantung), pemindaian tomografi (CT scan), dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk menguji peserta maraton dengan kondisi sehat yang berpartisipasi dalam Manitoba Full Marathon tahun 2010 dan 2011.

Peneliti menemukan bahwa pelari maraton lansia berusia di atas 50 tahun mengalami efek sementara pada jantung mereka setelah melakukan maraton. Akan tetapi, semua fungsi jantung para pelari lansia tersebut kembali normal satu minggu setelah perlombaan.

Dengan berbagai manfaat kesehatan tersebut, apakah para pelari pemula maupun lansia sudah siap untuk mengikuti maraton tahun depan?


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata