Inspirasi Resolusi Kota Kosmopolitan Global dari Bongal

Kota global tak selalu kota kosmopolitan. Pun demikian sebaliknya. Namun, belajar dari masa lalu, dari Bongal, kota ideal adalah yang mampu mewujudkan keduanya.

02 Jan 2026 14:00 WIB · Kolom

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Neli Triana

Di balik vitrin kaca salah satu ruang pamer di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, ada berbagai fragmen artefak dari situs Bongal di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ada koin Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, keramik Dinasti Tang, tembikar Persia, manik-manik kaca, hingga alat penyulingan minyak wangi. Bongal pada abad ke-7 hingga antara abad ke-9 atau ke-10 Masehi itu telah menjadi kota kosmopolitan tempat pengaruh global melebur.

Jejak kota kuno Bongal disebut lebih tua dua abad dari situs Lobu Tua di Barus. Dari tinggalan yang ada, termasuk manik kaca tertentu, membuktikan aktivitas perdagangan hingga Mediterania. Sisa perahu kayu dengan teknik tambuku terikat menunjukkan warga sudah akrab dengan teknologi dan menjadi pelaku aktif perdagangan antarbangsa. Komoditas seperti kapur barus dan kemenyan sudah diolah menjadi minyak. Sebuah transfer teknologi yang dikuasai lewat pertukaran pengetahuan antara pedagang Timur Tengah, India, China, dan masyarakat lokal.

Menyelisik koleksi lain yang dipamerkan di Museum Nasional didukung laporan dari Kompas.id sejak 2020, pola serupa ternyata tampak pula di kota kuno lain di Nusantara. Selain Barus dengan keramik dan barang dari bangsa lain abad ke-8-11, ada Palembang yang diyakini bagian pusat kerajaan Sriwijaya yang antara lain dibuktikan dengan adanya Prasasti Kedukan Bukit (682 M).

Biksu China I-Tsing menulis, ”Di Foshi (Sriwijaya), saya tinggal selama enam bulan untuk mempelajari Sabdavidya (bahasa Sanskerta)” (Kompas.id, 20 November 2025).

Muaro Jambi (salah satu situs tinggalan Kerajaan Sriwijaya lainnya) juga sebagai perguruan tinggi dengan Panca Widya yang meliputi tata bahasa, pengobatan, logika, seni dan kerajinan, pengelolaan batin, hadir lebih awal dari Universitas Bologna (1088 M) di Eropa (Kompas.id, 25 Desember 2022). Pada abad ke-9, Bukit Siguntang di Palembang menjadi tempat para biksu Asia berguru kepada Mahaguru Suvarnadvipa Dharmakirti (Kompas.id, 10 April 2021).

Ada karakter kosmopolitan kuat di kota-kota kita di masa lalu. Namun, apakah Bongal, Barus, dan Palembang juga kota global pada zamannya?

Peneliti di Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cut Rizlani, Aswandi, dan Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengambil sampel dari botol parfum kuno dari abad ke-7 sampai ke-10 temuan dari Situs Bongal, di Museum Sejarah Al Quran Sumatera Utara, Medan, Sabtu (16/12/2023).

Untuk menjawab hal tersebut mungkin dibutuhkan riset-riset mendalam lagi. Akan tetapi, dari temuan yang ada, bisa dibilang sebagian ciri kota global dan kosmopolitan telah ada di kota-kota kuno Nusantara.

Saskia Sassen lewat bukunya, The Global City (1991), menyebutkan bahwa ciri utama kota global adalah menjadi simpul penting keuangan, perdagangan, dan jasa profesional global.

Infrastruktur penanda yang wajib ada di kota global antara lain adalah bandara internasional hingga telekomunikasi paling modern pada masanya. Secara umum, kota global dipahami sebagai mesin sistem kapitalisme global.

Sementara kota kosmopolitan memiliki ciri utama keberagaman etnis, budaya, bahasa, dan agama hidup berdampingan. Warga terbiasa berinteraksi lintas identitas sehingga identitas mereka nasional sekaligus juga global. Kota dipahami sebagai simpul kehidupan sosial dan budaya.

Dalam teorinya, sebuah kota bisa menjadi kota global, tetapi tidak otomatis kosmopolitan, pun demikian sebaliknya. Namun, akan menjadi lebih ideal jika keduanya mewujud dalam kota karena berarti kemajuan ekonomi berkorelasi pula dengan kemajuan kehidupan sosial dan budaya warganya.

Menyimak lagi Bongal di Museum Nasional di jeda waktu menjelang tahun baru ini, ada pelajaran lain yang cukup menyentak. Kota kuno itu disinyalir lenyap karena diduga disapu tsunami pada abad ke-10. Meskipun tidak separah di masa lalu, pada awal Desember 2025 Bongal bersama puluhan situs arkeologis lain di Sumatera bagian utara ikut terdampak bencana banjir bandang.

Bencana yang terindikasi berulang menunjukkan tantangan alam inheren bagi Indonesia. Kini, dengan pemanasan global yang memicu perubahan iklim, potensi bencana makin besar dan masif. Jadi, resiliensi seperti apakah yang diharapkan atas kota-kota masa kini? Hanya perlu bersandar pada infrastruktur fisik atau butuh didukung solidaritas sosial diiringi inovasi pengetahuan juga strategi hidup di tengah ancaman bencana di iklim kota kosmopolitan?

Resolusi

Dari Bongal, Barus, dan jejak di Palembang, ada hal positif yang mungkin dapat menjawab pertanyaan di atas. Suatu hal yang dapat dirumuskan menjadi resolusi di tahun baru ini.

Semangat keterbukaan sebagai modal sosial dapat diadopsi untuk mengiringi berbagai strategi ekonomi. Kemajuan kota masa lalu dipicu penerimaan keberagaman dengan interaksi erat dengan banyak bangsa.

Di masa kini, kita bisa menggunakan pengetahuan masa lalu itu dengan menyeimbangkan program pembangunan kawasan ekonomi ramah untuk investasi asing diiringi kepastian adanya fasilitas publik inklusif bagi semua warga, khusunya warga kota yang rentan. Kesetaraan dalam menerima orang lain menciptakan lingkungan kondusif untuk inovasi pasti masih berlaku pula untuk saat ini.

Di masa sekarang, investasi infrastruktur pelabuhan, jalan, bandara, konektivitas digital harus dirancang tidak hanya mempercepat aliran modal, tetapi juga menjamin perluasan akses warga terhadap peluang dan pengetahuan.

Pelajaran dari masa lalu lainnya adalah selalu ada nilai tambah untuk kesejahteraan bersama. Olahan kapur barus menjadi minyak aromatik, menunjukkan pentingnya diversifikasi ekonomi dan penciptaan nilai tambah. Kota dan negara berkelanjutan tidak bisa lagi terus mengekstraksi sumber daya, tetapi butuh mengembangkan industri pengolahan yang meminimalkan eksploitasi sumber daya alam dengan tetap memberikan lapangan kerja berkualitas bagi warganya.

Pendidikan membentuk karakter kota. Dari pusat pendidikan di Palembang dan Muaro Jambi di masa lalu, diyakini ikut membentuk manusia Nusantara yang mampu berpikir lintas budaya, menghargai perbedaan, dan berkontribusi pada pengetahuan universal. Kota masa kini perlu terus memprioritaskan pendidikan berkualitas yang mengajarkan keterampilan teknis dan menumbuhkan kemampuan hidup bersama dalam perbedaan.

Resiliensi berbasis solidaritas, bukan hanya teknologi. Kasus tsunami Bongal dan banjir bandang terkini mengingatkan pentingnya perencanaan kota tangguh. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dan rentan terhadap bencana alam. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa mitigasi risiko, tata ruang bijak, dan sistem peringatan dini adalah penting. Namun, kota yang lebih baik adalah yang warganya hidup berdampingan, saling menjaga dalam situasi krisis.

Di 2026 ini, kota Indonesia berlomba memasuki jaringan kota global dengan gedung pencakar langit, zona ekonomi khusus, taman publik bertema kawasan regional antarnegara, hingga bandara-bandara internasional. Mengacu pada upaya menumbuhkan watak kosmopolitan di tengah mengejar status kota global, semua pembangunan itu perlu diimbangi dengan jaminan kepentingan umum dan perlindungan warga atas hak-haknya, termasuk hak hidup layak.

Sejarah kota kuno seperti Bongal memberikan pengetahuan bahwa yang terbaik adalah menjadi yang selalu terhubung dengan dunia. Meskipun demikian, kota terbaik itu tetap harus membumi dengan memegang prinsip nilai kesetaraan dan keterbukaan. Karena keterbukaan pasti mengalahkan eksklusivisme. Akan ada inovasi-inovasi lahir dari pertukaran gagasan dari pergaulan terbuka dan setara itu. Dari sana, resiliensi atau ketahanan akan terbangun bertahap, apalagi jika didasari perencanaan bijak dan ikatan sosial kuat.

Artefak masa lalu selalu menjadi sumber informasi dan inspirasi. Yang jauh lebih penting kini adalah adanya kebijaksanaan untuk mengolah dan menerapkan pelajaran itu demi kehidupan bersama yang lebih baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji