Teheran bisa mendapat akses ke dana investasi swasta. Namun, sumber Reuters menegaskan bahwa dana ini bukanlah kompensasi akibat perang.
17 Jun 2026 16:45 WIB · Internasional
AFP
DUBAI, RABU — Detail kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran belum terungkap secara resmi. Namun, Teheran kemungkinan menerima ”uang damai” dalam bentuk akses ke dana investasi swasta sebesar 300 miliar dolar AS atau setara Rp 5.324 triliun.
Menurut seorang sumber kepada Reuters edisi Rabu (17/6/2026), kesepakatan atas Dana Rekonstruksi dan Pembangunan tertera dalam perjanjian kerangka kerja AS-Iran. Dana swasta sebesar 300 miliar dolar AS itu dibentuk dengan tujuan untuk memicu investasi ke Iran.
”Dana tersebut dirancang untuk memberikan insentif ekonomi kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan kesepakatan akhir,” kata sumber yang berbicara dengan syarat anonim.
AS dan Iran, dengan Pakistan sebagai mediator, mengumumkan kesepakatan damai pada Senin (15/6/2026) yang mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Washington dan Teheran akan menandatangani nota kesepahaman pada 19 Juni 2026 di Swiss. Dokumen ini diproyeksikan memberi waktu tambahan 60 hari agar kedua pihak mendiskusikan isu-isu yang masih mengganjal, termasuk program nuklir Iran.
Menurut sumber itu, pembahasan dana investasi terpisah dari jalur negosiasi mengenai pencabutan sanksi AS dan pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Dana juga tidak akan dibuat sampai kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran ditandatangani.
”Selama 60 hari, administrator dana akan bekerja sama dengan pihak Iran dan investor untuk menentukan ruang lingkup proyek,” ujar sumber itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/28/daa4047d-3e78-4ef7-9eed-76701127d9d1_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/28/4f633be2-91bd-49fd-aff0-db2398d0c2dc_jpg.jpg)
Lebih dari setengah jumlah dana itu telah dijanjikan oleh para investor atau perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Dari Asia, perusahaan yang sudah menyatakan ketertarikan berasal dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Malaysia. ”Investasi yang dijanjikan mencakup energi, logistik, manufaktur, dan transportasi,” tutur sumber itu.
Sumber Reuters tidak mengatakan bagaimana pengelolaan dana tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran dan Kemenlu Pakistan tidak segera menjawab permintaan komentar. Pada Selasa, seperti dilaporkan Al Jazeera, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menolak berkomentar tentang dana 300 miliar dolar AS itu untuk rekonstruksi.
Perang AS-Israel terhadap Iran menimbulkan kerugian sekitar 29 miliar dolar AS bagi Teheran. Kesepakatan atas dana akan membuka pintu investasi asing ke Iran.
Sebagai salah satu ekonomi terbesar di Timur Tengah, Iran hampir tidak menarik investasi asing langsung yang signifikan dalam empat dekade terakhir akibat gelombang sanksi AS dan internasional. Namun, Iran mampu bertahan karena memiliki aset dalam negeri yang kuat, yaitu cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia.
Iran juga mempunyai populasi muda berpendidikan lebih dari 92 juta orang. Potensi bisnis di Iran belum banyak tergali, mulai dari petrokimia, pertambangan, pertanian, hingga pariwisata.
Sumber Reuters itu menegaskan, dana tersebut adalah investasi swasta, bukan program rekonstruksi atau reparasi akibat perang. Selain itu, dana tidak akan mencakup uang atau hibah pemerintah.
Seorang sumber senior Iran lainnya mengatakan, Teheran awalnya meminta kompensasi atas kerusakan perang dari AS sebesar 400 miliar dolar AS. Namun, Washington tidak bersedia. Oleh sebab itu, gagasan untuk Dana Rekonstruksi dan Pembangunan kemudian muncul.
”Mekanisme itu memungkinkan negara-negara regional berkontribusi dengan berbagai cara. Hal ini termasuk menyediakan pinjaman, membangun jalur kredit, atau membiayai langsung rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat perang, termasuk fasilitas seperti kompleks baja Mobarakeh, kilang minyak, dan bandara,” ujar sumber Iran tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/f3456302-6603-4d9a-b9c3-62e4920ccb8d.jpg)
Seorang juru bicara Gedung Putih merujuk pada wawancara Wakil Presiden AS JD Vance dengan CBS, Senin, membantah Iran akan menerima ”aset senilai miliaran dolar AS” dalam kesepakatan tersebut. ”Yang benar adalah Iran akan memiliki masa depan yang jauh lebih baik dan lebih makmur jika memenuhi kewajiban dalam perjanjian ini,” tutur Vance.
Namun, Iran dapat memperoleh akses dana rekonstruksi 300 miliar dolar AS yang didukung negara-negara Teluk jika mematuhi perjanjian dengan AS. Washington ingin Teheran membongkar program nuklir, menghilangkan persediaan uranium yang diperkaya, dan menerima inspeksi ketat.
Menurut Vance, AS akan menyambut Iran kembali ke ekonomi dunia jika menyepakati kewajibannya. ”Meskipun uang AS tidak akan disuntikkan, peluang ekonomi dapat muncul setelah Iran memosisikan diri kembali dalam ekonomi global,” ujarnya.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, nota kesepahaman AS-Iran akan memberikan manfaat ekonomi bagi Iran. Namun, Teheran tidak akan bergantung pada manfaat tersebut untuk memenuhi semua kebutuhannya. ”Kita memiliki sejarah janji yang dilanggar, ketidakpatuhan, dan pembatalan perjanjian,” ujarnya.
Peneliti senior di Middle East Council on Global Affairs, Muhanad Seloom, mengatakan, pengaturan dana investasi tersebut merupakan solusi tanpa kerugian bagi Washington. Jika Iran berhasil melakukan reformasi, Pemerintah AS akan terlihat sebagai penjaga perdamaian.
Jika tidak, negara-negara Teluk yang menanggung risikonya. ”Selain itu, dana ini bisa menimbulkan masalah martabat. Teheran menganggap ini sebagai uang yang diawasi dan bersyarat, bukan bantuan kedaulatan,” tutur Seloom.
Seloom menduga, ide tentang dana investasi merupakan upaya untuk menghindari persepsi negatif bahwa kesepakatan damai hanya berfokus pada pencairan aset Iran di luar negeri. Jumlah pasti aset Iran itu tidak jelas. Laporan resmi dan estimasi para ahli menyebutkan jumlah total lebih dari 100 miliar dolar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/11/aba02a04-d9e7-45ef-8afe-7b8f32218489_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/7a5a4508-3b60-47e7-a35e-dc2872986796_jpg.jpg)
Pada Minggu (14/6/2026), kantor berita Mehr melaporkan bahwa draf nota kesepahaman AS-Iran mencakup 14 poin. Salah satu poin berisi kesepakatan pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai 24 miliar dolar AS. Namun, AS membantah.
”Meski kami terbuka terhadap banyak hal yang sedang dibahas, angka 24 miliar dolar AS tidak muncul dalam teks mana pun yang kami bicarakan dengan Iran. Kami bersedia untuk membicarakan pencairan aset, tetapi kesepakatan yang jauh lebih besar adalah pencabutan sanksi selama Iran membuat komitmen jangka panjang pada program nuklirnya,” ujar Vance.
Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk merilis teks lengkap perjanjian AS-Iran dalam beberapa hari. Gedung Putih ingin rakyat AS melihat sendiri dokumen tersebut.
”Kadang-kadang dengan perjanjian ini, ada beberapa protokol diplomatik, beberapa hal teknis yang harus diselesaikan. Namun, kami berencana untuk merilis teks lengkapnya pada minggu ini,” kata Vance. (REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan