AS dan Israel berencana mengakhiri potensi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Nuklir Iran dianggap sumber instabilitas, meniadakan postur hegemonik Israel.
17 Feb 2025 13:00 WIB · Internasional
TEL AVIV, SENIN — Iran dan Poros Perlawanan akan menjadi target penghancuran Amerika Serikat dan Israel setelah perlawanan Hamas di Jalur Gaza. AS dan Israel berencana mengakhiri potensi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Rezim baru Suriah di bawah Hayat Tahrir al-Shams (HTS), yang tengah mencoba mendekati sejumlah negara, juga tidak dipandang sebelah mata. AS dan Israel tetap menilai mereka sebagai kekuatan destabilisasi.
Hal ini disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat keduanya bertemu di Jerusalem, Minggu (16/2/2025) waktu setempat. Ini kunjungan pertama Rubio ke Israel setelah dilantik sebagai menteri luar negeri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/17/ad0bf7676aea08474bcfeedf42e0314f-000_36XX2DE.jpg)
”Kami sepakat bahwa para ayatollah tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kami juga sepakat agresi Iran di kawasan harus dihentikan,” kata Netanyahu. Dia menegaskan, kerja sama Israel dan AS di bawah Presiden Donald Trump akan ”menyelesaikan pekerjaan” tersebut.
Netanyahu tidak menjelaskan lebih detail apa yang dimaksud dengan ”menyelesaikan pekerjaan” di Iran. Apakah itu berarti mengeliminasi Iran secara keseluruhan atau sebatas melucuti kemampuan pengembangan nuklirnya.
Sejak beberapa tahun terakhir, Iran berupaya meningkatkan kemampuan pengembangan nuklir. Negara-negara Barat menyebut Iran terus berupaya mengembangkan kemampuan persenjataan nuklirnya meski Pemerintah Iran membantahnya. Iran menyatakan, kemampuan nuklir yang dikembangkan untuk kepentingan sipil dan bertujuan damai.
Akan tetapi, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) saat inspeksi menemukan hal sebaliknya. Temuan terakhir tim inspeksi IAEA di Iran, menurut Kepala IAEA Rafael Grossi, memperkirakan Iran mampu memiliki sekitar 250 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen dalam beberapa pekan mendatang. IAEA meyakini Iran dalam proses meningkatkan produksi uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebanyak tujuh kali lipat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/10/14/dbc502e9-cc0e-4eab-aed9-502ad2ca0271_jpg.jpg)
Menurut tolok ukur IAEA, jika diperkaya lebih lanjut hingga 90 persen, bahan itu cukup untuk memproduksi enam bom nuklir.
Rubio menganggap kekuatan nuklir Iran mengancam keberadaan Israel. Dia menyebut Iran satu-satunya sumber ketidakstabilan terbesar di kawasan.
”Di balik setiap kelompok perlawanan, setiap tindakan kekerasan, aktivitas yang menimbulkan ketidakstabilan, dan segala sesuatu yang mengancam perdamaian bagi jutaan orang yang menyebut wilayah (Timur Tengah) sebagai rumah adalah Iran,” katanya.
Secara spesifik Rubio menyebut ayatollah, gelar tertinggi ulama Syiah, yang saat ini disandang oleh Ayatollah Ali Khamenei dan pemerintahannya sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan.
Rubio mengatakan, sumber ketidakstabilan itu harus ditangani. Dia berjanji AS tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada Iran untuk memiliki kemampuan pengembangan senjata nuklir. ”Hal itu tidak akan pernah terjadi. Presiden telah menjelaskan hal itu dengan tegas,” kata Rubio.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/13/20210413-ADI-Nuklir-Iran-mumed_1618324084.png)
Rubio ataupun Netanyahu tidak menegaskan akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Namun, dua media AS, yakni The Washington Post dan Wall Street Journal, Kamis (13/2/2025), mengutip intelijen AS mengungkap, Israel kemungkinan akan menyerang fasilitas nuklir Fordow dan Natanz dalam enam bulan pertama tahun 2025.
Laporan tersebut merujuk dua opsi serangan potensial. Keterlibatan AS dalam serangan itu berupa dukungan berbentuk pengisian bahan bakar udara, intelijen, pengawasan, dan pengintaian.
Jika serangan benar-benar terjadi, hal itu justru berbeda dengan keinginan Trump. Trump tampaknya lebih menginginkan tekanan maksimum untuk menghasilkan kesepakatan dibandingkan dengan penghancuran.
”Saya ingin kesepakatan dengan Iran tentang non-nuklir. Saya lebih suka itu daripada mengebom habis-habisan,” kata Trump kepada New York Post pada Jumat. ”Jika kita membuat kesepakatan, Israel tidak akan mengebom mereka.”
Menanggapi pernyataan Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang dikenal moderat menyatakan, jika fasilitas nuklir mereka dihancurkan, Iran akan membangun lebih banyak lagi fasilitas yang sama. ”Jika Anda menghancurkan seratus (fasilitas nuklir), anak-anak kami akan membangun seribu,” katanya.
Keberadaan Iran sebagai sponsor Poros Perlawanan juga menjadi salah satu alasan AS melemahkan Iran. Rubio meyakini Iran berada di balik keberadaan Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, kekerasan di Tepi Barat Palestina, hingga destabilisasi Suriah.
”Menurut saya penting untuk selalu menekankan, baik kita berbicara tentang Hamas, Hizbullah, kekerasan di Tepi Barat, destabilisasi Suriah, milisi di Irak, maupun masalah-masalah lainnya, semuanya memiliki satu tema umum di baliknya, yaitu Iran,” ujar Rubio.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/09/e06f4b9e-3876-4427-b442-a3a3beb467d0_jpg.jpg)
Rubio bersikap hati-hati terhadap masalah Suriah, yang kini dikendalikan pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Ahmed al-Sharaa. Ini mengingat latar belakangnya yang dulu terkait Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dan terafiliasi Al Qaeda meski sudah melepaskan diri.
”Meskipun jatuhnya (Bashar) Assad tentu saja menjanjikan dan penting jika Suriah mengganti satu kekuatan destabilisasi dengan kekuatan lain, itu bukanlah perkembangan positif,” kata Rubio.
Suriah selama ini dipandang sebagai jalur penghubung Iran dan kelompok anggota Poros Perlawanan, seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina. Berlokasi tepat di persimpangan jalur di Timur Tengah, Suriah merupakan penghubung geografis penting yang memungkinkan Iran memindahkan senjata dan perlengkapan lainnya ke Lebanon.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/09/7e06a9a6-ce68-4c0d-8e8d-2ebbc123a167_png.png)
Pada Januari, militer Israel mengonfirmasi mereka menyerang lokasi manufaktur rudal di daerah Masyaf, Suriah, yang diyakini didanai oleh Iran. Operasi itu dilakukan pada September 2024. Berdasarkan data Syrian Observatory for Human Rights, 27 orang tewas dalam serangan tersebut.
Militer Israel (IDF) dalam pernyataan menyebut pabrik manufaktur bawah tanah itu merupakan jalur perakitan yang dirancang untuk memproduksi rudal berpemandu presisi dan roket jarak jauh. Produknya tidak sebatas untuk Hizbullah, tetapi juga proksi Iran di kawasan.
Smith Alhadad, penasihat Indonesian Society for Middle East Studies, Jumat (14/2/2025), mengatakan, pembatasan program nuklir Iran oleh AS dan Israel disebabkan dua negara itu tidak menginginkan ada negara lain yang memiliki kemampuan nuklir serupa. ”Jika Iran memiliki supremasi karena nuklirnya, nilai Israel tidak ada,” katanya. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .