Iran Melawan Konfrontasi Barat

Menlu Iran Abbas Araghchi menuding Barat telah mengubur diplomasi dan memilih perundungan. Kini relasi Iran dan Barat kembali ke jalur konfrontasi.

30 Sep 2025 07:10 WIB · Tajuk Rencana

Oleh REDAKSI

Atas desakan yang dimotori trio Inggris-Perancis-Jerman, PBB menjatuhkan lagi sanksi terhadap Iran terkait nuklir. Iran menuduh Barat mengubur jalan diplomasi.

Sanksi terhadap Iran itu kembali diberlakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu (28/9/2025) setelah upaya China dan Rusia melalui voting di sidang Dewan Keamanan PBB gagal menghadangnya. Uni Eropa telah mengumumkan untuk kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Perkembangan baru ini sangat kontras dengan 10 tahun silam ketika tujuh menteri luar negeri—termasuk dari AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa—berjabatan tangan dengan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif di Vienna, Austria, untuk mengumumkan kesepakatan nuklir yang bersejarah. Kesepakatan bertajuk Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPoA) ini dipuji banyak kalangan sebagai kemenangan diplomasi.

Kepercayaan dunia kepada jalan diplomasi, bukan konfrontasi dan konflik, dalam menyelesaikan sengketa meningkat. Keyakinan publik global pada jalur multilateralisme pun melonjak. Dengan ikatan JCPoA itu, Iran mengekang program nuklirnya dengan imbalan dibebaskan sanksi-sanksi ekonomi, Barat pun merasa lebih tenang.

FILE PHOTO: Chinese Foreign Minister Wang Yi, French Foreign Minister Laurent Fabius, German Foreign Minister Frank Walter Steinmeier, High Representative of the European Union for Foreign Affairs and Security Policy Federica Mogherini, Iranian Foreign Minister Mohammad Javad Zarif, British Foreign Secretary Philip Hammond and U.S. Secretary of State John Kerry (L-R) arrive for a family picture after the last plenary session at the United Nations building in Vienna, Austria July 14, 2015. Iran and six major world powers reached a nuclear deal on Tuesday, capping more than a decade of on-off negotiations with an agreement that could potentially transform the Middle East, and which Israel called an "historic surrender". REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Situasi berubah drastis setelah Donald Trump memenangi pemilu Presiden AS tahun 2016. Berselang setahun setelah bercokol di Gedung Putih, Trump secara unilateral mengumumkan mundur dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018. Sejak itu, AS menjatuhkan sanksi lagi terhadap Iran. Teheran membalas dengan peningkatan aktivitas program nuklirnya.

Hanya beberapa bulan setelah kembali berkuasa di Gedung Putih, menyusul kemenangannya di Pilpres AS 2024, Trump memerintahkan militer AS, bersama Israel, menyerang Iran. Lebih dari 1.000 orang tewas dalam agresi 12 hari, Juni lalu.

Quote

Berbeda dari para menlu pendahulu mereka pada 2015 di Vienna, pada 28 Agustus 2025 tiga negara (Inggris, Perancis, dan Jerman atau biasa disebut E3) memilih menggunakan mekanisme ’snapback’ di Dewan Keamanan PBB.

Berdasarkan kesepakatan JCPoA, semua sanksi terhadap Iran akan berakhir secara permanen pada 18 Oktober jika tak ada upaya negara-negara penanda tangan memulihkan sanksi sebelum tanggal itu. Secara teknis, upaya ini disebut dengan mekanisme snapback.

Berbeda dari para menlu pendahulu mereka pada 2015 di Vienna, pada 28 Agustus 2025 tiga negara (Inggris, Perancis, dan Jerman atau biasa disebut E3) memilih menggunakan mekanisme snapback di Dewan Keamanan PBB. Alasan mereka, Iran disebut terus-menerus melanggar komitmen dalam JCPoA. China dan Rusia berupaya menghadang, tetapi gagal setelah kalah 4-9 (dua abstain) dalam voting.

APTOPIX Iran Nuclear

Teheran mengajukan protes kepada PBB. Menlu Iran Abbas Araghchi menuding Barat telah mengubur diplomasi dan memilih perundungan. Kini relasi Iran dan Barat kembali ke jalur konfrontasi. Jelas, tak ada yang diuntungkan. Rakyat Iran akan kian menderita akibat sanksi-sanksi itu.

Seperti pola sebelumnya, Barat—terutama AS—berharap, dalam situasi itu Iran kembali ke meja perundingan. Jika tak mau, apalagi ditambah menolak pemeriksaan petugas Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) atas program nuklirnya, AS dan Israel bisa menyerang Iran lagi.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Marcellus Hernowo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto