Teheran Nyaris Lumpuh, Korban Tewas Bertambah

Gelombang unjuk rasa semakin membuat harga kebutuhan meroket dan akses komunikasi terputus. Korban jiwa diperkirakan bertambah.

12 Jan 2026 09:31 WIB · Internasional

AFP/UGC

Oleh Helena Fransisca Nababan

DUBAI, SENIN — Memasuki minggu kedua demonstrasi di Iran, masyarakat Iran kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan dasar dan akses internet masih terputus. Pada saat yang sama, gelombang unjuk rasa terus memakan korban jiwa. Aparat pemerintah Iran disebut melakukan tindakan keras demi meredam aksi.

Dari Teheran, jurnalis AFP pada Minggu (11/1/2026) melaporkan, ibu kota Iran itu nyaris lumpuh. Aksi unjuk rasa awalnya dipicu oleh kemarahan atas meningkatnya biaya hidup sebagai protes atas runtuhnya mata uang rial Iran yang diperdagangkan dengan nilai lebih dari 1,4 juta terhadap satu dolar AS.

Protes tersebut semakin intensif dan berkembang menjadi seruan melawan sistem teokrasi yang berlaku di Iran sejak revolusi 1979.

Aksi protes itu menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei (86). Sebelum aksi ini, pada Juni 2025 Iran menghadapi perang 12 hari dengan Israel yang didukung Amerika Serikat.

Protes tersebut dimulai sejak 28 Desember 2025. Hingga kini demonstrasi sudah berlangsung selama dua minggu dan menggelora nyaris di semua wilayah Iran.

Unjuk rasa membuat toko-toko yang buka harus tutup sekitar pukul 16.00 atau 17.00. Penutupan itu dilakukan saat pasukan keamanan dikerahkan.

Unjuk rasa mendorong harga barang kebutuhan semakin meroket. Harga daging, misalnya, berlipat ganda sejak awal unjuk rasa.

Selain itu, warga masih dihadapkan pada akses internet yang diputus. ”Pemadaman internet sudah berlangsung lebih dari 72 jam,” kata pemantau Netblocks.

Para aktivis memperingatkan pemutusan internet selama tiga malam terakhir sudah melumpuhkan komunikasi normal dengan dunia luar. Warga Iran susah berkomunikasi melalui aplikasi pesan atau bahkan saluran telepon.

Pemutusan akses internet itu pula yang membuat kelompok hak asasi manusia ataupun jurnalis kesulitan memverifikasi video-video terkait aksi demonstrasi dan jumlah korban meninggal dalam demonstrasi.

Toko-toko ditutup selama protes di pasar utama Teheran yang berusia berabad-abad, Iran, Selasa (6/1/2026)

Korban tewas

Aksi protes telah meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kelompok hak asasi manusia Iran menyuarakan telah terjadi ”pembunuhan massal” oleh pihak berwenang Iran.

”Upaya itu menjadi cara pihak berwenang Iran menindak para demonstran yang melawan Republik Islam Iran. Demonstrasi itu juga merupakan protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Iran Human Rights (IHR), seperti dikutip AFP.

IHR yang berbasis di Norwegia menyebutkan, kelompok itu sudah mengonfirmasi adanya pembunuhan terhadap setidaknya 192 demonstran. Namun, jumlah korban tewas bisa jadi lebih banyak, mencapai beberapa ratus, atau bahkan lebih.

”Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan bahwa setidaknya beberapa ratus, dan menurut beberapa sumber, lebih dari 2.000 orang mungkin telah tewas,” kata IHR.

IHR mengecam tindakan itu sebagai ”pembunuhan massal” dan ”kejahatan internasional besar terhadap rakyat Iran”. IHR juga memperkirakan lebih dari 2.600 demonstran telah ditangkap sejak awal demonstrasi.

Sementara menurut kantor berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, penindakan pihak berwenang terhadap pelaku protes nasional di Iran sudah menewaskan sedikitnya 538 orang. Menurut sumber akurat pendukung kelompok itu di Iran, dari mereka yang tewas, sebanyak 490 adalah demonstran dan 48 adalah anggota pasukan keamanan.

Kelompok itu mengkhawatirkan ada lebih banyak lagi yang tewas. The Associated Press (AP) juga belum bisa memverifikasi jumlah korban tewas. Pemerintah Iran belum memberikan angka korban jiwa secara keseluruhan untuk demonstrasi tersebut.

This grab taken on January 2, 2026, from UGC images posted on social media on December 31, 2025, shows protestors attacking a government building in Fasa, in southern Iran on December 31, amidst spontaneous nationwide protests driven by dissatisfaction at the country's economic stagnation. (Photo by UGC / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /UGC / ANONYMOUS " - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Adapun mereka yang ditahan selama dua pekan aksi protes, menurut kelompok itu, diperkirakan jumlahnya sudah lebih dari 10.600 orang.

Sementara sebuah video yang berhasil diverifikasi oleh AFP pada hari Minggu menunjukkan puluhan mayat menumpuk di luar kamar mayat di selatan Teheran. Dari verifikasi diketahui, tumpukan mayat itu berasal dari kamar mayat di Kahrizak, tepat di selatan Teheran.

Video menunjukkan mayat-mayat yang terbungkus kantong hitam tergeletak di tanah di luar. Sementara kerabat yang berduka mencari orang-orang terkasih mereka terlihat di lokasi.

Selain video tersebut, terdapat juga video-video yang beredar di media sosial. Video itu menunjukkan protes pada hari Minggu setelah tiga hari aksi massa. Hanya saja video-video itu tidak bisa diverifikasi akibat pemutusan jaringan internet.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan ”terkejut” dengan laporan kekerasan terhadap para demonstran yang mengakibatkan ”puluhan kematian”. Sekjen PBB menyerukan kepada pihak berwenang Iran untuk menahan diri secara maksimal dan memulihkan komunikasi.

Dari Vatikan, Paus Leo XIV menyebut Iran sebagai tempat ”di mana ketegangan yang berkelanjutan terus merenggut banyak nyawa.” ”Saya berharap dan berdoa agar dialog dan perdamaian dapat dipupuk dengan sabar dalam mengejar kebaikan bersama seluruh masyarakat,” harap Paus Leo XIV.

Para pengunjuk rasa masih membanjiri jalan-jalan di ibu kota negara dan kota-kota di Iran pada Minggu pagi. Sebuah video yang tersebar luas menunjukkan para pengunjuk rasa kembali berkumpul di Distrik Pounak, Teheran. Mereka meneriakkan slogan-slogan yang mendukung monarki yang telah digulingkan.

Para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 29 Desember 2025.

Upaya Pemerintah Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah wawancara yang disiarkan media pemerintah pada hari Minggu berusaha meredakan demonstrasi. Ia menuduh, ”Musuh bebuyutan Iran berusaha meningkatkan kerusuhan dan membawa teroris dari luar negeri ke negara itu.”

Televisi pemerintah lantas menayangkan gambar-gambar bangunan yang terbakar, termasuk sebuah masjid. Televisi juga menayangkan upacara pemakaman untuk personel keamanan, dengan pihak berwenang mengatakan bahwa anggota pasukan keamanan telah tewas.

Dalam upaya meredakan demonstrasi, televisi pemerintah berusaha keras untuk menampilkan gambaran kembalinya ketenangan dengan menayangkan gambar lalu lintas yang lancar. Gubernur Teheran Mohammad-Sadegh Motamedian menegaskan dalam komentar yang disiarkan televisi bahwa ”jumlah protes menurun”.

Pemerintah Iran pada hari Minggu menyatakan tiga hari berkabung nasional untuk ”para martir”, termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas.

Pemerintah menggambarkan perjuangan melawan ”kerusuhan” sebagai ”pertempuran perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis”.

Pezeshkian mengajak masyarakat untuk bergabung dalam ”pawai perlawanan nasional” pada Senin (12/1/2026). Pawai itu merupakan demonstrasi tandingan untuk mengecam kekerasan.

Unjuk rasa yang berujung kekerasan di Iran mengundang reaksi Presiden AS Donald Trump. Presiden Trump mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap otoritas Iran ”jika mereka mulai membunuh orang”.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, ”Iran akan membalas jika AS melancarkan aksi militer, dengan militer dan kapal AS sebagai ”target yang sah,” katanya dalam komentar yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

Sementara Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dan berbasis di AS, dan memainkan peran penting dalam aksi demonstrasi. Ia mengatakan bahwa ia siap untuk kembali ke negara itu. Ia menyatakan akan memimpin transisi menuju pemerintahan demokratis.

”Saya sudah merencanakannya,” katanya kepada Fox News pada hari Minggu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto