AS dan Iran hampir sampai di pertengahan periode 60 hari perjanjian sementara. Dengan ditutupnya kembali Selat Hormuz, tampaknya perundingan terancam gagal.
13 Jul 2026 12:01 WIB · Internasional
AFP/AFPTV
TEHERAN, SENIN — Baku serang Amerika Serikat dan Iran semakin intensif. Iran memperluas serangan ke target-target milik AS di negara-negara Teluk dan kembali menutup Selat Hormuz. Intensitas saling serang memicu keraguan tentang perdamaian permanen yang sedang dirundingkan.
Harga minyak pun kembali naik akibat siklus terbaru serangan AS-Iran. Perdagangan minyak pada Senin (13/7/2026) dibuka lebih tinggi. Minyak mentah Brent naik 3,75 persen menjadi 78,86 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate naik 3,65 persen menjadi 74,02 dolar AS per barel.
Iran memperluas serangan ke Qatar yang selama ini menjadi mediator perundingan dan tidak pernah diserang sejak April. Uni Emirat Arab, yang tidak pernah diserang sejak Mei, menyatakan, sistem pertahanan udaranya mencegat rudal dan pesawat nirawak (drone) dari Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/cffc877d299203f412a33d6db81ab1c4-Peta_Pelayaran_hormuz.jpeg)
Iran mengatakan, Selat Hormuz ditutup sampai keadaan tenang kembali. Sementara militer AS dan Trump menegaskan, selat itu tetap terbuka.
Iran terus berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya di Selat Hormuz, yang sebelum perang bebas dilintasi kapal-kapal niaga. Setelah pecah perang, Teheran juga memperingatkan kapal-kapal untuk tidak berlayar di selat itu tanpa izinnya.
Sepanjang akhir pekan lalu, Iran melepaskan tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang berlayar di jalur yang tidak diizinkan. Selanjutnya Iran melumpuhkan kapal kedua.
India mengatakan, salah satu warganya hilang setelah serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman. Oman menyebutkan, sebanyak 23 awak kapal diselamatkan. Akibat memanasnya situasi di selat pada akhir pekan, Qatar menyarankan semua kapal, termasuk kapal rekreasi, kapal nelayan, dan jet ski menangguhkan aktivitas.
Serangan Iran yang meluas di Teluk membalas serangan AS pada Minggu. Komando Tengah AS (Centcom) dalam pernyataan yang diunggah di X menyebutkan, rangkaian serangan ke Iran bertujuan mengurangi kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/10/ee81ed11682d63fabc886feae923feef-wires_photo_96_.jpg)
Juru bicara Centcom, Tim Hawkins, kepada CNN mengatakan, pesawat AS menembak jatuh sebuah rudal jelajah Iran dan sebuah pesawat nirawak serang satu arah. Dalam wawancara per telepon singkat dengan Reuters, Minggu, Presiden AS Donald Trump menyoroti serangan akhir pekan terhadap Iran. ”Kami mengalahkan mereka,” katanya.
Media Iran melaporkan, terjadi serangan rudal dan ledakan di sekitar kota-kota pelabuhan Sirik dan Bandar Abbas. Serangan AS juga menyasar fasilitas militer di Pulau Qeshm di dekatnya.
Ketua Parlemen Iran, yang juga negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, era kesepakatan sepihak sudah berakhir. ”Kami sudah katakan: tepati janji kalian atau bayar akibatnya. Kenyataan akan segera terjadi,” tulisnya di X.
AS dan Iran hampir sampai di pertengahan periode 60 hari perjanjian sementara yang disepakati pada Juni menuju perdamaian permanen. Dengan ditutupnya kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur utama pasokan minyak dan gas alam global, tampaknya perundingan terancam gagal.
”Kembalinya permusuhan skala penuh akan menimbulkan konsekuensi bencana,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dalam pernyataan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/0113be689bdbc169ee2a1edd95a99281-wires_photo_1_.jpg)
Perang yang dilancarkan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah mengguncang stabilitas Teluk, terutama karena Iran menyerang negara-negara yang menampung pangkalan militer AS. Sementara blokade efektif Iran terhadap Selat Hormuz sebagai balasan telah mendorong harga energi lebih tinggi dan memicu inflasi global.
Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk oleh Iran menyatakan, jalur melalui Selat Hormuz saat ini tidak dimungkinkan karena adanya ”pergerakan ilegal” pasukan militer AS. ”Izin akan dikeluarkan segera setelah stabilitas dan ketenangan pulih kembali,” kata otoritas itu.
AS menyatakan, pasukannya diposisikan untuk menjaga kebebasan navigasi karena ada yang disebutnya sebagai agresi, ancaman, dan pernyataan sewenang-wenang Iran. ”Iran tidak mengendalikan selat itu. Lalu lintas lancar,” sebut pernyataan Washington.
Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS kembali menegaskan panduan bahwa meski ada ancaman keamanan, rute selatan yang telah diperluas di dekat Oman tersedia untuk lalu lintas dua arah.
Negara-negara Teluk menanggapi serangan terbaru Iran ke wilayah mereka. Qatar mengatakan tidak akan bertindak sebagai mediator selama masih diserang. Doha menyebut tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan proyektil. Qatar meminta Iran bertanggung jawab penuh secara hukum.
Uni Emirat Arab mengatakan telah mendeteksi ancaman rudal di luar perbatasannya, sementara Bahrain mencegat beberapa serangan udara Iran. Jordania melaporkan adanya serangan rudal dan Kuwait mengungkap kerusakan dan satu pekerja terluka akibat serangan terhadap anjungan pengeboran minyak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/06/725024ca3cc2be0d75af3809f441c9d0-Iran_War_Strait_of_Hormuz.jpeg)
Oman juga menjadi sasaran pesawat nirawak. Oman memanggil Duta Besar Iran untuk memprotes serangan drone di dua wilayah.
Pakistan, mediator AS dan Iran, menyerukan deeskalasi kekerasan. ”Dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk menyelesaikan perselisihan dan mencapai perdamaian abadi,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar seusai menelepon Menlu Iran Abbas Araghchi, Minggu. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Nur Adji