Majelis Ahli telah menyepakati Pemimpin Tertinggi Iran baru. Namun, ”dia yang namanya tak boleh disebut” itu baru akan diumumkan nanti. AS pernah menyebut namanya.
08 Mar 2026 20:43 WIB · Internasional
AP
TEHERAN, MINGGU — Setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan Israel-Amerika Serikat, Iran sudah memiliki pemimpin tertinggi yang baru, Minggu (8/3/2026). Namun, namanya belum diumumkan.
Kabarnya, ”dia yang namanya tak boleh disebut” itu baru akan diumumkan “nanti” tetapi entah kapan. Semua masih serba rahasia. Kebijakan ini kemungkinan diambil karena Iran khawatir pemimpin baru itu akan diburu Israel dan AS.
Sebagaimana diketahui, Tel Aviv dan Washington DC pernah melontarkan ancaman akan menghabisi siapa pun pengganti mendiang Khamenei yang gugur pada 28 Februari lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/01/857c3181-5d98-4679-83bd-48c494297076_jpg.jpg)
Dari hasil pemungutan suara, mayoritas anggota Majelis Ahli—yang bertugas memilih pemimpin tertinggi Iran—menyepakati pengganti Khamenei itu karena ia dianggap paling cocok. Menambah rasa penasaran, nama pemimpin baru itu juga pernah disebut-sebut oleh AS.
”Pemungutan suara untuk menunjuk pemimpin sudah selesai dan sudah ada pemimpin yang terpilih,” kata anggota Majelis Ahli, Ahmad Alamolhoda, seperti dikutip oleh kantor berita Mehr, Minggu.
”Kandidat yang paling cocok dan disetujui oleh mayoritas Majelis Ahli sudah ditentukan,” kata Mohsen Heydari yang mewakili Provinsi Khuzestan dalam badan seleksi kepada kantor berita ISNA.
Anggota lain mengonfirmasi keputusan tersebut. Bahkan ada salah satu anggota yang menyebut putra mendiang Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang akan menjadi pemimpin yang baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/3f5793e469f8a7c434844ab9031b03ed-Iran_US_Mojtaba_Khamenei_Profile_136626482.jpg)
Jika benar Mojtaba Khamenei yang dipilih, itu akan jadi pesan ke AS-Israel bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh. Di Iran, Pemimpin Tertinggi sosok yang memiliki kewenangan politik dan agama tertinggi. Ia memiliki kuasa untuk membuat keputusan akhir atas segala urusan negara.
Presiden AS Donald Trump yang berkeras harus ikut berperan peran dalam memilih pemimpin Iran telah menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin. Trump menganggap ia orang yang tidak berpengaruh. Iran tegas menolak Trump.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menuding Trump berusaha meniru skenario yang digunakannya di Venezuela. Namun, Iran berbeda. Trump tak bisa dengan mudah menggulingkan rezim Iran seperti ia menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
”Mereka menganggap Iran seperti Venezuela. Mereka akan menyerang, mengambil kendali, dan semuanya akan berakhir. Keliru. Sekarang mereka terperangkap,” ujarnya.
Militer Israel di X, Minggu, mengancam akan menargetkan anggota Majelis Ahli yang memimpin pemimpin baru. ”Israel akan terus memantau setiap pengganti dan siapa pun yang menunjuknya. Kami tidak akan ragu untuk menyasar Anda,” tulis militer Israel.
Iran menjawab tantangan Israel. Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan Iran mampu menyerang AS dan Israel secara intensif setidaknya selama enam bulan. Pasukan elite Iran itu sudah menargetkan lebih dari 200 lokasi yang terkait dengan pangkalan dan fasilitas AS-Israel di seluruh Timur Tengah.
IRGC sejauh ini telah menggunakan rudal ”generasi pertama dan kedua”. Untuk rencana selanjutnya, Iran akan menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan. Rudal-rudal ini akan meluncur dalam beberapa hari mendatang.
”Kami sanggup melanjutkan perang intensif setidaknya selama enam bulan dengan kecepatan operasi saat ini,” kata juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, kepada kantor berita Fars, Minggu.
Menjelang pemilihan pemimpin baru Iran, Israel memperluas pengeboman ke Iran. Mereka menyerang depot bahan bakar di dekat Teheran.
Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran karena diduga digunakan untuk memproduksi dan mengembangkan senjata serta untuk mengoperasikan pangkalan militer.
Akibat serangan ini, empat orang tewas. Tak lama setelah serangan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel akan terus menyerang tanpa ampun. ”Kami punya rencana terorganisasi dengan banyak kejutan untuk menggoyahkan dan mengubah rezim. Kami punya lebih banyak sasaran,” ujarnya.
Militer Israel juga melancarkan serangan presisi yang menargetkan ”komandan kunci” di Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri IRGC, di sebuah hotel di daerah pusat Beirut yang populer di kalangan wisatawan.
Seiring itu, Pemerintah Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain melaporkan serangan pesawat nirawak Iran di negara mereka pada hari Sabtu dan Minggu pagi. Ada juga kebakaran masif di gedung perkantoran pemerintah di Kuwait dan menewaskan dua orang.
Bahrain mengatakan, serangan Iran telah merusak salah satu pabrik desalinasi mereka. Sabtu lalu, Iran mengatakan, serangan AS telah menghantam pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm. Akibatnya, pasokan air ke 30 desa terganggu.
Sementara itu, Arab Saudi telah memberi tahu Iran bahwa jika Iran masih menyerang Arab Saudi, terpaksa Riyadh akan membalas dengan cara yang sama. Untuk meredakan kemarahan negara-negara tetangganya di Teluk, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf. Namun, langkah itu justru memicu reaksi keras dari kelompok garis keras Iran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/e9750771efcb1f0febfd0b0e2a7d3b41-20260306_ANU_Biaya_Perang_Iran_mumed.jpg)
Para ahli memperingatkan masih belum ada jalan keluar yang jelas untuk mengakhiri konflik. Menurut para pejabat AS dan Israel, perang ini dapat berlangsung selama sebulan atau lebih. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan, perang di Timur Tengah seharusnya tidak pernah terjadi.
”Tinju yang kuat tidak berarti alasan yang kuat. Dunia tidak bisa kembali memakai hukum rimba,” ujarnya. China dan Rusia sampai saat ini belum ikut terlibat meski punya hubungan dekat dengan Iran. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan