Di tengah sengitnya perlawanan Teheran yang juga menutup negosiasi, belum jelas bagaimana Trump bisa terlibat dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran.
06 Mar 2026 11:30 WIB · Internasional
AP
WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, AS harus terlibat dalam penentuan pemimpin Iran berikutnya. Trump menyamakan langkah itu dengan campur tangannya di Venezuela. Padahal, AS-Israel belum mampu meredam perlawanan sengit Iran.
”Kami akan harus memilih orang itu bersama Iran. Kami akan harus memilih orang itu,” kata Trump di Washington dalam wawancara telepon dengan Reuters, Kamis (5/3/2026) waktu setempat atau Jumat WIB.
Trump menolak putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Ia menilai Mojtaba sebagai figur kelas ringan.
”Putra Khamenei tidak bisa saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” katanya dalam wawancara di hari yang sama dengan media AS, Axios.
Pernyataan ini mengindikasikan perubahan sikap Trump. Sebelumnya, Trump menghasut rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang ada dan menentukan sendiri kepemimpinan baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/3f5793e469f8a7c434844ab9031b03ed-Iran_US_Mojtaba_Khamenei_Profile_136626482.jpg)
Trump mengatakan, Washington ingin ikut menentukan sosok yang akan memimpin Iran ke depan agar tidak perlu kembali berperang di negara itu beberapa tahun lagi.
”Kami ingin terlibat dalam proses memilih orang yang akan memimpin Iran ke masa depan sehingga kami tidak harus kembali setiap lima tahun dan melakukan ini lagi dan lagi. Kami ingin seseorang yang hebat bagi rakyat, hebat bagi negara,” ujar Trump.
Trump tak menutup kemungkinan putra shah Iran terakhir yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, sebagai pemimpin Iran. ”Semua orang masuk dalam pertimbangan. Ini masih sangat awal,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/29d046be750a2fafc3825747f08d27f5-wires_photo_239.jpg)
Penerus Khamenei nantinya akan dipilih oleh sebuah dewan terpilih Iran, Majelis Ahli. Dewan ini beranggotakan 88 tokoh terkemuka Iran. Selain Mojtaba Khamenei, calon kuat penerus Khamenei adalah Hassan Khomeini, cucu pemimpin Revolusi Islam 1979, Ruhollah Khomeini. Kandidat kuat lain adalah ulama terkemuka Alireza Arafi.
Sejumlah laporan media Israel dan AS menyebut Majelis Ahli sedang menggelar rapat untuk memilih pemimpin tertinggi Iran saat serangan terjadi. Namun, Iran membantah klaim itu. Teheran menyatakan, gedung tersebut kosong dan jadwal pemilihan pemimpin baru belum ditetapkan.
Trump membandingkan peran AS di Iran dengan Venezuela. Trump menyebut penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Januari lalu membuat Delcy Rodriguez, orang nomor dua Maduro, memegang kendali. ”Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti halnya dengan Delcy,” katanya.
Penekanan Trump pada model Venezuela ini bertentangan dengan seruan awalnya tentang kebebasan di Iran.
Sebelumnya, ia mengatakan sudah memiliki kandidat yang menurut dia cocok mengambil alih posisi Khamenei. Akan tetapi, mereka semua tewas dalam gelombang serangan pembuka AS-Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/3750be0a4aabba5fba4eafc2a80b43e1-wires_photo_3_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/cab26961f5eade09dbea9808fba86d7a-20260302_AFP_Lokasi_Kediaman_Ali_Khamenei_mumed.png)
Di tengah sengitnya perlawanan Iran yang juga menutup negosiasi dengan AS, belum jelas bagaimana Trump bisa terlibat dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran.
Sebelumnya, para pejabat Iran juga menyatakan tak ada negosiasi dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, Kamis, mengecam serangan AS-Israel ke Iran sebagai agresi biadab, tanpa provokasi, dan sama sekali tidak beralasan.
Dalam pernyataan di akun X, Baqaei mengatakan, agresi itu tidak berhenti di medan perang, tetapi juga menjalar ke pasar global dengan mendorong harga energi, mengguncang mata uang, serta menggerus daya beli masyarakat dunia.
”Namun, bagi kami orang Iran, biayanya jauh lebih tinggi. Rakyat kami dibantai secara brutal ketika agresor sengaja menargetkan kawasan sipil dan lokasi mana pun yang mereka yakini dapat menimbulkan penderitaan dan korban jiwa semaksimal mungkin,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/72c1994f77f334688a82b671e286e7de-wires_photo.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/d758d2fb6779a08037555201306860ec-wires_photo_1_.jpg)
Pemerintahan Trump sendiri belum satu suara. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, Washington tidak memperluas tujuan militernya di Iran. Pernyataan itu disampaikan saat ia ditanya mengenai komentar Trump yang ingin ikut menentukan pemimpin Iran berikutnya.
Ketua DPR Mike Johnson, sekutu dekat Trump, juga mengatakan bahwa AS punya cukup banyak masalah di dalam negeri dan tidak akan masuk ke bisnis membangun bangsa.
Selain itu, ada perbedaan besar antara Iran dan Venezuela. Penculikan Maduro merupakan operasi militer yang cepat dan terbatas. Adapun perlawanan Pemerintah Iran terus meluas. Serangan AS-Israel belum mampu meredamnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/5ca4036e7bef30e9b90868262e8c190f-AP26047673728469.jpg)
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute Trita Parsi menilai Trump pada dasarnya menginginkan Iran menyerah. Menurut dia, Trump tidak keberatan Iran dipimpin figur simbolik selama sosok itu menjalankan keinginan Trump, seperti yang ia nilai terjadi pada Rodriguez di Venezuela.
Menurut Parsi, Trump tidak menginginkan penerus Khamenei yang tidak bersedia tunduk pada tuntutan kebijakan Trump. ”Ia tidak keberatan figur simbolik mengambil alih Iran selama orang itu menjalankan preferensi kebijakan Trump, seperti yang dilakukan Delcy,” kata Parsi, dikutip dari Al Jazeera.
Parsi menilai, Trump akan sulit menemukan orang yang ia inginkan di Iran saat ini. ”Tampaknya ia tidak akan menemukan orang itu dari dalam sistem Iran yang ada saat ini,” ujarnya.
Selisih tipis dalam dua voting beruntun di Kongres AS menunjukkan lemahnya dukungan politik kepada Trump untuk perang Iran. Beberapa senator Republik sendiri menentang langkah Trump.
Dewan Perwakilan Rakyat AS, Kamis (5/3/2026), menolak resolusi war powers untuk menghentikan serangan Trump ke Iran dengan hasil 219 berbanding 212. Sehari sebelumnya, Senat juga menggagalkan langkah serupa dengan hasil 53 lawan 47.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/95345af766bf81ced1ec5630d5f43d6e-wires_photo.jpg)
Di DPR AS, kritik keras datang dari Gregory Meeks, anggota senior Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR. ”Donald Trump bukan raja, dan jika ia percaya perang dengan Iran adalah kepentingan nasional kita, maka ia harus datang ke Kongres dan menyampaikan alasannya,” katanya.
Yassamin Ansari, anggota DPR dari Arizona yang merupakan putri imigran Iran, mengatakan, dirinya menentang rezim di Teheran. Namun, ia menilai transisi demokratis bagi rakyat Iran tidak menjadi prioritas Trump.
”Perang membawa konsekuensi yang mendalam dan mematikan bagi pasukan kita, bagi rakyat Amerika, dan bagi seluruh dunia,” kata Ansari.
Dari kubu Republik, Thomas Massie, anggota DPR dari Kentucky, menyerang pemerintahan Trump yang didukung partainya sendiri. Ia menilai pemerintah gagal memberi alasan yang jelas atas perang itu. ”Pemerintahan ini bahkan tidak bisa memberi kami jawaban yang lurus tentang mengapa kami meluncurkan perang preemptif ini,” ujarnya.
Dari kubu pendukung Trump, Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Brian Mast membela langkah Gedung Putih. Ia mengatakan, Trump menggunakan kewenangan konstitusionalnya sendiri untuk melindungi AS dari ancaman dari Iran. Menurut Mast, resolusi war powers itu pada dasarnya meminta presiden tidak melakukan apa pun.
Kekhawatiran atas perang yang lebih panjang terus tumbuh. Enam personel militer AS tewas pada akhir pekan lalu dalam serangan pesawat nirawak (drone) di Kuwait. Ribuan warga AS di luar negeri berebut penerbangan keluar dari Timur Tengah dan membanjiri kantor anggota Kongres di Washington dengan permintaan bantuan.
Trump juga belum menutup kemungkinan pengerahan pasukan AS ke Iran. Selain itu, ia juga tengah mendorong kelompok Kurdi yang berbasis di Irak untuk melakukan serangan darat di Iran.
Dalam wawancara dengan Reuters, Trump menyebut akan sangat baik jika pasukan Kurdi menyeberang ke Iran untuk menyerang aparat keamanan di negara itu.
Saat ditanya apakah AS akan memberi perlindungan udara, Trump menolak menjawab. ”Saya tidak bisa memberi tahu soal itu,” tetapi menambahkan, tujuan pasukan Kurdi itu adalah untuk menang.
Di Iran, korban tewas telah melampaui 1.230 orang. Di Lebanon, jumlah korban tewas telah mencapai 123 orang. Adapun di Israel, sedikitnya 11 orang tewas. Di kawasan Teluk, korban sipil yang terverifikasi sejauh ini empat orang tewas, yakni satu di Kuwait dan tiga di Uni Emirat Arab. Sementara Qatar melaporkan 16 orang terluka.
(AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti