PERANG

Iran Kaji Penerapan Tarif Tol di Selat Hormuz

Pungutan menimbulkan pertanyaan bagi industri pelayaran. Kebebasan navigasi melalui jalur vital biasanya dijamin oleh hukum internasional.

26 Mar 2026 19:30 WIB · Internasional

AFP/NASA EARTH OBSERVATORY

Oleh Elsa Emiria Leba

TEHERAN, KAMIS - Parlemen Iran sedang menggarap rancangan undang-undang atas biaya tol terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Pada saat yang bersamaan, negara-negara terus mengatur strategi untuk mengantisipasi kelangkaan minyak dan gas selama selat ditutup.

Seorang anggota parlemen Iran mengatakan, rencana tersebut akan diselesaikan pada pekan depan. Langkah ini secara hukum juga akan mengakui pengawasan Iran atas Selat Hormuz, jalur perdagangan seperlima pasokan minyak dan gas global dari Teluk Persia ke seluruh dunia.

Menurut Press TV, Iran menetapkan lima syarat untuk menghentikan perang dengan AS-Israel. Salah satunya ialah pengakuan dan jaminan internasional mengenai hak kedaulatan Iran untuk menjalankan otoritas atas Selat Hormuz.

“Pada akhirnya, ini adalah pertanyaan apakah Anda akan memercayai Iran. Ini akan menghambat perdagangan global, di mana kita, selama seratus tahun terakhir, telah menikmati kebebasan navigasi,” kata Amanda Bjorn, Kepala Klaim di Cambiaso Risso Asia, perusahaan pialang asuransi maritim, di sela-sela konferensi maritim, Singapura, menurut Bloomberg edisi Kamis (26/3/2026).

Rencana Iran memberlakukan pungutan tol telah beredar di industri pelayaran. Kabarnya, Teheran mulai memasang tarif hingga 2 juta dolar AS bagi kapal-kapal sebagai pungutan tidak resmi. Para awak kapal telah diminta melalui perantara untuk memberikan detail staf, kargo, pelayaran, dan biaya, meski praktik ini belum berlangsung secara sistematis.

Sebuah kapal angkatan laut berlayar di Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). Dua kapal dilaporkan diserang di perairan strategis tersebut ketika Iran melancarkan hari kedua serangan balasan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Perahu-perahu kecil bermuatan barang melintas di depan kapal kontainer berbendera St Kitts dan Nevis, Marsa Victory, di perairan Selat Hormuz lepas pantai Khasab di Semenanjung Musandam, Oman, pada tanggal 25 Juni 2025.

Pungutan dan jaminan perjalanan yang aman menimbulkan pertanyaan bagi industri pelayaran. Kebebasan navigasi melalui jalur vital biasanya dijamin oleh hukum internasional. Selain itu, pungutan akan menciptakan preseden penggunaan jalur perdagangan sebagai senjata.

Produsen minyak dan gas di Teluk, yang sangat bergantung pada Selat Hormuz, keberatan atas pungutan tersebut. Akan tetapi, beberapa kapal telah melakukan pembayaran, meskipun mekanismenya tidak jelas, termasuk dengan mata uang apa.

Sejak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026, Teheran menutup hampir seluruh Selat Hormuz. Pada awal pekan ini, harga minyak Brent mencapai lebih dari 114 dolar AS per barel. Iran hanya melonggarkan pelayaran kepada kapal-kapal yang memiliki koneksi dengan Teheran, seperti China dan India. 

Pekan lalu, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, pelepasan stok minyak mentah sebanyak 400 juta barel tidak akan cukup untuk mengatasi krisis energi. IEA merekomendasikan negara-negara untuk mengurangi permintaan, seperti menghindari perjalanan udara, beralih ke kompor listrik, dan bekerja dari rumah.

Strategi Asia

Negara-negara yang terdampak penutupan Selat Hormuz melanjutkan strategi untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan gas. Sebagai pengimpor minyak, Asia paling terdampak. CNN mencatat, impor minyak dari Timur Tengah menyumbang sekitar 60 persen dari pasokan minyak di kawasan itu.

Filipina menjadi negara pertama yang menyatakan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026). Manila juga sudah memberlakukan bekerja dari rumah, menawarkan subsidi untuk operator transportasi umum, dan menunda penjualan listrik di Pasar Spot Listrik Grosir hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr sedang berupaya mengamankan sumber minyak baru. Manila akan membeli 1 juta barel minyak untuk menambah stok yang ada yang cukup untuk 45 hari.

“Kita akan memiliki aliran minyak. Bukan hanya satu pengiriman, bukan dua pengiriman, melainkan aliran produk terkait minyak. Tidak ada yang dikesampingkan. Kami sedang mempertimbangkan semua yang dapat kami lakukan, saran apa pun, ide apa pun,” ujar Marcos, menurut BBC.

Negara di Asia Tenggara mulai menghidupkan kembali wacana pembuatan pembangkit tenaga nuklir yang terbengkalai. Pekan ini, Vietnam-Rusia menandatangani kesepakatan pembangunan pembangkit tenaga nuklir.

“Lonjakan harga minyak mentah yang disebabkan oleh meningkatnya konflik telah meningkatkan motivasi bagi negara-negara untuk mempercepat upaya nuklir mereka,” kata Alvie Asuncion-Astronomo dari Institut Penelitian Nuklir Filipina.

Kapal berbendera Sierra Leone, Sara Sky, yang mengangkut minyak mentah dari Rusia terlihat berlabuh di Pelabuhan Limay, Provinsi Bataan, Filipina, Kamis (26/3/2026). Sebuah kapal yang membawa lebih dari 700.000 barel minyak mentah Rusia tiba di Filipina, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut, beberapa hari setelah negara itu menetapkan keadaan darurat energi akibat perang di Timur Tengah.
Sejumlah Kapal Tanker yang Bisa Melewati Selat Hormuz

Asia Tenggara akan menyumbang seperempat dari pertumbuhan permintaan energi global pada 2035, menurut IEA. Penyebabnya, menurut lembaga pemikir Ember, adalah keberadaan lebih dari 2.000 pusat data di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Banyak lagi pusat data dalam tahap perencanaan.

Jepang memulai pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah pada pekan ini. Korea Selatan meminta warga untuk mandi lebih singkat dan mengisi daya ponsel di siang hari untuk menghemat listrik. Sementara China membatasi pengiriman bahan bakar dan material lainnya ke luar negeri untuk melindungi persediaan domestik.

Kenaikan harga bahan bakar telah menyebabkan maskapai penerbangan di Asia, termasuk dari Vietnam dan Filipina, serta Australia dan Pasifik, menangguhkan atau mengurangi penerbangan. Ancaman kehabisan bahan baku dari produksi sampingan minyak, seperti nafta untuk pembuatan plastik, juga akan berdampak pada industri manufaktur Asia.

Kawasan lain

Eropa pun masih terdampak akibat perang, meski berusaha melepas ketergantungan eksternal sejak perang Ukraina-Rusia pada 2022. Sekitar kebutuhan 8 persen gas alam cair (LNG) di wilayah itu berasal dari Timur Tengah. Harga gas acuan Eropa telah naik lebih dari 60 persen sejak konflik dimulai, yaitu di atas 50 euro per megawatt jam.

Menteri Keuangan Perancis Roland Lescure, Kamis, mengatakan akan segera mengumumkan langkah-langkah untuk mengatasi lonjakan harga energi. Langkah itu termasuk dukungan untuk sektor-sektor yang terpukul, misalnya perusahaan truk dan perikanan.

Di Afrika, negara-negara turut meluncurkan langkah-langkah penghematan energi. Pada Rabu (25/3/2026), Pemerintah Mauritius menerapkan pembatasan daya listrik untuk penerangan dekoratif, pemanas kolam renang, dan air mancur.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.
Warga mengantre untuk mengisi bahan bakar di stasiun pengisian Bharat Petroleum di Varanasi, India, Selasa (10/3/2026). Lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran di sejumlah negara Asia yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil.

Menteri Energi Mauritius Patrick Assirvaden menyatakan, stok minyak tersisa untuk 15-20 hari setelah pengiriman gagal tiba pada 21 Maret 2026. Negara ini sedang menanti stok lainnya dari kargo Singapura pada 1 April 2026.

Sudan dan Sudan Selatan telah memberlakukan penjatahan listrik. Di Kenya, pemerintah mengimbau agar warga tidak panik membeli atau menimbun. Sementara Menteri Energi Uganda Ruth Nankabirwa menyatakan, sedang mengeksplorasi sumber pasokan alternatif mengingat stok BBM di negara itu hanya cukup untuk 20-an hari.

Aliko Dangote dari Nigeria, orang terkaya di Afrika, memperingatkan, gangguan yang berkepanjangan dapat memaksa penerapan bekerja dari rumah. Dia bertemu dengan Presiden Nigeria Bola Tinubu pada Senin (23/3/2026).

“Saya berdoa, dan semua orang perlu berdoa, agar hal ini mereda,” kata Dangote kepada surat kabar Punch.

Dampak tak terelakkan

Josh Kurlantzick, peneliti senior untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan di Council on Foreign Relations, memperingatkan, terlepas dari segala upaya, kemampuan pemerintah untuk mengurangi dampak karena krisis energi tetap terbatas. Ekonomi akan tetap terganggu.

“Anda bisa menurunkan suhu AC dan meminta orang-orang untuk menggunakan tangga, tetapi Anda tidak bisa membayar bahan bakar mereka selama berbulan-bulan,” kata Kurlantzcik

Perusahaan riset energi Wood Mackenzie memperkirakan, apabila perang berlanjut, harga minyak Brent dapat naik hingga 150 dolar AS per barel dalam beberapa bulan mendatang. Bahkan, harga rata-rata 125 dolar AS per barel pada tahun ini akan memicu resesi global.

“Dengan kebuntuan geopolitik, perang yang terus berlanjut, dan persediaan di luar Teluk yang semakin menipis, harga di seluruh minyak mentah dan produk akan naik,” tulis para analis di lembaga itu, pekan lalu.

Papan penunjuk di sebuah stasiun pengisian bahan bakar menunjukkan harga bensin reguler mencapai 188 yen per liter di Tokyo, Sabtu (14/3/2026). Kenaikan harga bahan bakar dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Harga bensin lebih dari 5 dollar AS per galon terpampang di stasiun pengisian ARCO di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2026). Harga bahan bakar melonjak di seluruh Amerika Serikat setelah hampir dua pekan perang dengan Iran, sementara minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 90 dollar AS per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Meskipun Presiden AS Donald Trump menggembar-gemborkan optimisme bahwa perang mungkin lekas berakhir, situasi tidak akan segera membaik. Para analis berpendapat, bahkan jika gencatan senjata terjadi, penderitaan ekonomi masih akan berlangsung selama berbulan-bulan, jika bukan bertahun-tahun.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Rabu waktu setempat, menyampaikan, AS memantau dengan “sangat cermat” cara melewati Selat Hormuz dengan kapal tanker minyak. Namun, ia mengatakan, tidak ada "jadwal waktu spesifik" kapan kapal tanker dapat bergerak bebas.

Pekan depan, para menteri keuangan, menteri energi, dan pejabat sentral negara G7 akan kembali membahas dampak perang di Timur Tengah. “Diskusi akan berfokus pada pelepasan cadangan strategis,” ujar Menteri Perdagangan Perancis Serge Papin, Kamis. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati