Ironi Wacana Kurikulum AI dari Lawatan Wapres Gibran ke NTT

AI memunculkan dua sisi sama penting. Antara kebutuhan zaman dan fakta soal kesenjangan teknologi. Apakah para pemimpin serius mewujudkan wacana implementasi AI?

07 Mei 2025 20:24 WIB · Humaniora

Oleh Nino Citra Anugrahanto, Fransiskus Pati Herin

Saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5/2025), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengemukakan rencana pemerintah memasukkan kecerdasan buatan atau AI pada kurikulum pendidikan. Tetapi, wacana itu seolah menemui jalan terjal. Ironi soal kesenjangan infrastruktur pendidikan menyapanya di sela-sela kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Timur. 

Lawatan menuju daerah berjuluk ”Nusa Cendana” itu telah dilakoni Wakil Presiden (Wapres) Gibran sejak Selasa (6/5/2025). Hari pertamanya diisi serangkaian kegiatan pemberian bantuan di Kabupaten Sikka. Bukan cuma petani dan nelayan, anak-anak sekolah turut dijadikan sasaran penerima bantuan. 

SMAS Bhaktyarsa Maumere menjadi sekolah pertama yang didatangi Wapres Gibran. Bantuan yang disalurkannya antara lain buku, tas, sepatu, hingga komputer jinjing atau laptop.

Pada hari kedua kunjungan kerjanya, Rabu (7/5/2025), Wapres Gibran kembali mampir ke sekolah. Kali ini, ia mengunjungi SD Inpres Kaniti di Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Agendanya sama persis dengan sehari sebelumnya. Begitu juga jenis bantuan dan kemeriahan sambutan para murid.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) menyalami para siswa sekolah sewaktu menyerahkan bantuan, di SD Inpres Kaniti, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/5/2025). Beberapa bantuan yang diserahkan antara lain buku, tas, sepatu, hingga komputer jinjing. Sederet bantuan itu diharapkan mampu meningkatkan aktivitas pembelajaran murid.

Hal yang membedakan adalah secuplik curahan hati dari salah seorang guru, yaitu Silistri A Sina, yang disampaikan kepada Wapres Gibran melalui kepala sekolah. Keluh kesahnya menyoal kekurangan perangkat digital di tempatnya mengajar. 

Hingga sekarang, sebut Silistri, sekolahnya belum memiliki ruangan laboratorium komputer. Jumlah perangkat komputernya juga terbatas. Hanya terdapat enam atau tujuh komputer meja dan empat komputer jinjing.

”Harapan kami, kalau dapat, ada ruang laboratorium untuk siswa. Dan, kalau AMBK (Asesmen Madrasah Berbasis Komputer) itu, Pak, kami pakai komputer yang ada saja. Dengan laptop yang ada. Itu harapan kami,” kata Silistri, dikutip dari keterangan tertulis, yang diterima Kompas, Rabu siang.

Dalam era serba digital, situasi yang dialami Silistri dan murid-muridnya jauh dari ideal. Kenyataan semacam itu ditemui Wapres Gibran hanya lima hari setelah ia mengutarakan rencana dimasukkannya AI ke dalam kurikulum sekolah. Pernyataan itu dia sampaikan sewaktu menghadiri gelaran bertajuk ”Creative Job Opportunity with AI” di Jakarta, Jumat lalu. Momennya kebetulan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. 

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berfoto bersama para siswa sekolah sewaktu menyerahkan bantuan, di SD Inpres Kaniti, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/5/2025). Beberapa bantuan yang diserahkan antara lain buku, tas, sepatu, hingga komputer jinjing. Sederet bantuan itu diharapkan mampu meningkatkan aktivitas pembelajaran murid.

”Semua yang hadir di sini mungkin banyak yang belum tahu. Teman-teman media juga, beberapa hari lalu, kami ratas (rapat terbatas) bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan. Nanti di tahun ajaran baru kami mulai memasukkan kurikulum AI, pelajaran AI di SD, SMP, dan SMA atau SMK,” ucap Gibran dalam acara itu.

Berkaca dari pengalaman Silistri, wacana memasukkan AI sebagai kurikulum mendatangkan respons yang pesimistis dari sesama guru di NTT. Salah satu yang mengutarakannya ialah Marsel (44) yang mengajar di wilayah Maumere, Kabupaten Sikka. Keraguannya akan penerapan kurikulum itu didasari kondisi akses jaringan yang belum merata.

Buktinya, lanjut Marsel, bisa dilihat dari penerapan Kurikulum Merdeka yang berlaku sejak 2020. Ia menyatakan, kurikulum yang menekankan penggunaan media daring itu urung diterapkan pada semua sekolah. 

”Banyak sekolah di NTT masih susah jaringan internet. Jangankan itu, gedung saja banyak yang belum punya. Utamakan dulu infrastruktur dasar,” ujar Marsel. 

Siswa SMA Katolik Frateran membuat cerita bergambar dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya, Senin (10/6/2024). Dalam kesempatan tersebut pelajar yang hadir diberi pengetahuan dasar mengenai aplikasi-aplikasi yang menggunakan kecerdasan buatan. Selain itu pelajar juga diberi arahan untuk bijaksana dalam menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Kendati demikian, Marsel mengajak para guru agar senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Guru daerah tidak boleh terus-terusan mengeluh akan ketidakmampuan mereka menyesuaikan diri pada era digital. 

Ihwal wacana kurikulum AI, pengajar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Yohanes O Jagom, meresponsnya secara berbeda.

Menurut dia, perlu ada pembekalan literasi digital sebelum rencana itu diterapkan. Tanpa pembekalan lebih dahulu, pemanfaatan AI bisa menjadi bumerang. Terlebih untuk wilayah dengan literasi digital rendah seperti NTT. 

”Bahkan, level mahasiswa dan masyarakat berpendidikan tinggi pun belum semua terliterasi dalam hal digital,” katanya.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri) didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berbincang dengan para petani, di Sikka, NTT, Selasa (6/5/2025). Dalam kesempatan itu, ia menjanjikan kemudahan akses terhadap pupuk serta perbaikan saluran irigasi. Bantuan alat pertanian berupa traktor tangan dan mesin pompa juga diberikannya.

Dalam catatan Kompas, NTT masih berkutat dengan baca tulis. Pada 2024, indeks literasi untuk tingkat SMA tergolong rendah. Kategori baik hanya 24,7 persen, kategori sedang 25,80 persen, kategori kurang 25,36 persen, dan kategori paling rendah dari semua kategori 24,15 persen.

Secara terpisah, aktivis pendidikan dari Perguruan Tamansiswa, Darmaningtyas, memandang positif wacana pemerintah memasukkan AI dalam kurikulum sekolah. Setidaknya, keseriusan itu ditunjukkan dengan telah disiapkannya naskah akademik tentang pembelajaran koding dan AI oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). 

Soal urgensi mempelajari AI, Darmaningtyas pun sepakat. Ia menilai, generasi penerus akan semakin tertinggal jika terlambat memanfaatkan dan mendalami teknologi teranyar itu. Namun, ujarnya, negara ini menghadapi persoalan lain berupa kesenjangan teknologi. 

”Jadi, sebaiknya itu bukan pelajaran wajib, melainkan pilihan bagi sekolah-sekolah yang sudah siap,” kata Darmaningtyas.

Siswa SMA Katolik Frateran membuat cerita bergambar dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya, Senin (10/6/2024). Dalam kesempatan tersebut pelajar yang hadir diberi pengetahuan dasar mengenai aplikasi-aplikasi yang menggunakan kecerdasan buatan. Selain itu pelajar juga diberi arahan untuk bijaksana dalam menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Sembari mengimplementasikan, saran Darmaningtyas, pemerintah perlu mempersiapkan sekolah-sekolah lain secara menyeluruh. Tidak hanya tenaga pengajar, tetapi juga mencukupi perangkatnya agar memadai. Dengan demikian, pembelajarannya tidak sebatas teoretik.

”Kita tidak bisa menunggu kesiapan secara bersama-sama. Pemerintah bisa memulai dari yang siap, sedangkan yang belum siap, pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur maupun ekosistemnya,” ucap Darmaningtyas.

Dalam kunjungannya ke NTT, Wapres Gibran menyatakan, perhatiannya terpusat pada dua sektor strategis, yakni pendidikan dan pertanian. Untuk itu, ia menyempatkan waktu mendatangi sekolah untuk menyalurkan sejumlah bantuan. Ia berharap agar segala bantuan yang diberikan bisa memperluas akses pembelajaran digital para siswa yang berada sampai di pelosok negeri.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) menyapa warga di sela-sela kunjungan kerjanya, di Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (6/5/2025). Dalam kesempatan itu, ia meninjau produksi pertanian di wilayah setempat. Kepada para petani, ia menjanjikan kemudahan akses pupuk dan perbaikan saluran irigasi. Bantuan alat pertanian juga diberikan berupa traktor tangan dan pompa air.

Wapres Gibran juga menyoroti soal keterbatasan fasilitas yang dihadapi anak-anak sekolah sewaktu mengunjungi SD Inpres Kaniti. Pihaknya berkomitmen agar pemerintah memberikan pendidikan yang setara bagi seluruh anak bangsa. Segala aspirasi dari kepala sekolah dan guru telah diserapnya dan bakal diwujudkan kelak. 

”Pemerintah akan terus bekerja keras menjawab kebutuhan ini. Karena, pendidikan bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan agar setiap anak Indonesia, di mana pun berada, bisa bermimpi setinggi-tingginya dan memiliki akses untuk mewujudkannya,” tulis Gibran melalui akun Instagram @gibran_rakabuming.

Citra politik

Ditilik lebih jauh, Wapres Gibran sudah berkali-kali menyampaikan pentingnya pemanfaatan AI bagi anak-anak muda.

Dalam berbagai kesempatan, gagasan soal teknologi terbaru itu ia kemukakan. Entah itu secara langsung atau video monolog yang diunggah pada media sosialnya. Sesekali ia juga menyempatkan waktu mendatangi sekolah-sekolah yang tengah mengadakan pelatihan AI yang diadakan komunitas pegiat teknologi. 

Peluncuran aktivasi platform kecerdasan buatan bernama prabowogibran.ai, Rabu (20/12/2023) di Jakarta. relawan calon presiden - calon wakil presiden Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka akan meningkatkan intensitas kampanye digital.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai, narasi AI sengaja digunakan Wapres Gibran untuk membangun citra politiknya selaku politisi muda. Kalangan yang disasar juga anak-anak muda seperti dirinya. Ada keinginan untuk dianggap lekat dengan perkembangan teknologi sebagai sesama anak muda. 

”Ia ingin memosisikan dirinya sebagai orang yang technological savvy atau orang yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi,” kata Kunto.

Sayangnya, ucap Kunto, belum ada wacana konkret untuk pengembangan AI. Sejauh ini, gembar-gembor soal teknologi tersebut baru sebatas pemanfaatannya. Itu pun digunakan untuk hal-hal yang remeh, seperti pembuatan gambar dan teks.

Sebagai pemangku kepentingan, lanjut Kunto, semestinya pengembangan itu tidak sekadar dilakukan dengan memasukkannya ke dalam kurikulum. Hendaknya keberpihakan untuk pengembangan juga ditunjukkan lewat menambah anggaran riset. ”Selama tidak ada peningkatan biaya riset untuk AI, ya, ini sekadar omon-omon (omong-omong) saja,” kata Kunto. 

Terdapat dua sisi yang saling terkait jika membicarakan soal AI. Tuntutan perkembangan zaman berhadapan dengan kenyataan soal kesenjangan teknologi. Kini, waktunya menanti komitmen para pemimpin. Biar wacana apiknya tak menguap begitu saja. Lebih-lebih jika itu sekadar dijadikan narasi pembangun citra.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto, Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul