Dari video monolognya, seolah Wapres Gibran ingin memperoleh simpati publik. Khususnya generasi muda sebagaimana dirinya.
22 Apr 2025 12:46 WIB · Politik & Hukum
Tiba-tiba saja, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengeluarkan video monolog dirinya yang tengah membicarakan soal bonus demografi dan anak muda. Ini menjadi pembeda dalam gaya komunikasinya yang dahulu lebih sering mengunggah konten nyeleneh via media sosialnya. Lantas, adakah pesan tersirat yang ingin disampaikan sang pemimpin ”muda” tersebut?
Video monolog berdurasi 6 menit 18 detik itu dengan judul ”Generasi Muda, Bonus Demografi, dan Masa Depan Indonesia” diunggah Gibran pada berbagai akun media sosialnya, Sabtu (19/4/2025). Hingga Selasa (22/4/2025) pagi, video itu sudah ditonton lebih dari 465.000 kali dan disukai sekitar 4.700 pengguna internet lainnya.
Gibran membuka monolognya dengan membeberkan sederet tantangan berat yang dihadapi Indonesia, seperti ekonomi, perang dagang, geopolitik, sampai perubahan iklim. Diyakininya, bangsa ini mampu mengatasinya jika memanfaatkan sebaik-baiknya momentum bonus demografi, yang puncaknya akan terjadi pada 2030-2045. Untuk itu, Gibran mengajak anak muda agar terlibat aktif dalam pembangunan saat ”era keemasan” itu tiba.
”Karena, kita generasi muda bukan sekadar bonus. Kita adalah jawaban atas tantangan masa depan,” ujar Gibran dalam video tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/22/b5d8b4f4633d81c7196a1dd78068d78b-Screenshot_20250422_120941_YouTube.jpg)
Terlebih lagi, sebut Gibran, sebagian anak muda sudah mulai berdiri sebagai garda terdepan kemajuan bangsa. Itu dicontohkannya dari kesuksesan film animasi ”Jumbo” yang telah menghadirkan 4 juta penonton dan keberhasilan timnas U-17 ke Piala Dunia U-17 melalui jalur kualifikasi, selaku satu-satunya wakil dari Asia Tenggara.
Tak hanya itu, ihwal kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ikut disinggung putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo tersebut. Kebaruan teknologi itu dipandangnya bukan sebagai momok yang bakal mengalahkan manusia. Sebaliknya, ia justru menjadikannya tantangan yang mesti diatasi untuk mengatasi perubahan zaman.
”Ini adalah kekuatan kita sebagai generasi muda. Kita harus selalu siap dan mempersiapkan diri. Kita harus punya mimpi besar dan keberanian untuk melakukan terobosan. Kita harus mampu beradaptasi dan menjadi penggerak kemajuan,” kata Gibran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/20/058d053de9ac5857c7fe5b70fe3ed23f-589f607d_ce45_4ca7_8087_f5192446a00c_jpg_1_.jpg)
Lewat pesan singkatnya, Senin (21/4/2025), Gibran tidak memberikan jawaban gamblang dengan terkait alasannya mengunggah video monolog itu. Namun, ia berencana untuk mengunggah video serupa lagi di waktu mendatang. Hanya saja, tema video itu tidak dibeberkannya.
Jika ditilik ulang, lewat video monolognya, Gibran seakan menampilkan gaya komunikasi yang berbeda dari biasanya. Sebelumnya, ia lebih sering mengunggah video kunjungan kerjanya dengan suntingan agak ”nyeleneh”. Salah satunya bisa disaksikan dalam unggahan video kunjungan kerja Gibran, di Medan, Sumatera Utara, Desember 2024, yang bisa disaksikan di akun Tiktok miliknya.
Alih-alih disunting formal ala pejabat, Gibran malah membuat kepalanya tiba-tiba membesar pada adegan di awal video. Pada kerumunan warga, salah seorang warga juga diberi filter api. Uniknya lagi, ia juga menggunakan musik ”jedag-jedug” khas Tiktok untuk videonya itu.
Pakar psikologi politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Abdul Hakim, menilai, monolog sebagai bentuk gaya komunikasi baru yang sedang dicoba Gibran. Di satu sisi, terdapat keinginan untuk membangun citra diri selaku pemimpin yang serius. Tidak seperti gayanya selama ini yang cenderung kasual saling menimpali komentar dengan para pengikutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/cbd3375de8c9232321d5970ed8e01706-IMG_20250308_WA0060.jpg)
”Di media sosial, problemnya dia tidak dianggap secara serius. Berbeda dengan situasi ketika dia (Gibran) menjadi Wali Kota Surakarta, yang audiensnya adalah para tetangganya. Sekarang, audiensnya adalah seluruh Indonesia. Ia justru dipandang skeptis oleh orang yang selama ini belum mengenal,” kata Hakim.
Meski demikian, kemunculan video itu juga bisa menjadi jalan keluar bagi Gibran yang selama ini kesulitan mengartikulasikan gagasan besar. Entah itu dalam wawancara cegat (doorstep), maupun diskusi-diskusi terbuka. Monolog semacam ini memberikan ruang aman bagi sosok itu menyampaikan gagasan tanpa gangguan atau kritik secara langsung.
Ihwal topik bahasan, lanjut Hakim, tecermin tujuan Gibran agar dilihat sebagai representasi dari anak-anak muda Indonesia. Pasalnya, isu soal bonus demografi dan kemajuan teknologi memang sangat dekat dengan mereka.
Menariknya pula, jelas Hakim, berkali-kali Gibran menggunakan istilah ”kita” guna menyebut para penontonnya. Kata itu seakan menghapus sekat status sosial antara dirinya yang menjadi bagian dari elite politik dan para penontonnya yang kebanyakan berasal dari masyarakat akar rumput.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/26e924d96b879fed5277e941f34762ba-IMG_20250306_WA0084.jpg)
”Ini menjadi langkah Gibran untuk dianggap lebih serius oleh masyarakat. Karena, dia membutuhkan legitimasi politik di tengah berbagai tekanan terhadap dirinya dan Pak Jokowi. Apalagi dia tidak mempunyai partai,” kata Hakim.
Beredarnya video itu turut mengundang respons dari kalangan wakil rakyat. Salah satunya dilontarkan Bendahara Umum DPP Partai Nasdem Ahmad Sahroni. Sejatinya, ia tak terlalu mempersoalkan kemunculan video itu secara tiba-tiba. Terlebih bonus demografi sudah kerap diutarakan Gibran.
Hanya saja, Sahroni menganggap, tantangan bangsa Indonesia ke depan sangat banyak. Lebih dari sekadar bonus demografi. Dengan begitu, ia menyarankan agar segenap pihak fokus merampungkan berbagai masalah yang ada.
”Ya, kan, tantangan hidup kita banyak. Apalagi tantangan negara. Jadi, itu yang harusnya jadi concern semua pihak,” ujar Sahroni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/c13aaf2494cbe183160669ad53010a8b-IMG_20250306_WA0088.jpg)
Sorotan ihwal tindakan Gibran juga dilayangkan Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus. Ia menyarankan Gibran agar tak sekadar menyampaikan narasi virtual. Hendaknya komitmennya itu ditunjukkan dengan kerja nyata.
”Ya, menurut saya sih, jangan terlalu banyak bikin video, lah, ya. Kerja saja gitu lho. Bikin video terus, enggak habis-habis,” kata Deddy.
Sementara itu, peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menyampaikan, setiap tindakan ataupun ucapan pejabat politik cenderung bermotif politik. Apalagi tingkatannya sekelas wapres. Oleh karena itu, setiap pejabat publik mesti berhati-hati dan tidak boleh sampai salah dalam berucap serta bertindak karena publik akan menilainya.
Muatan politik itu, jelas Lili, tak terkecuali berlaku bagi video monolog Gibran. Dengan video itu, sebut dia, Gibran ingin mencoba menarik perhatian publik, khususnya kalangan muda. Muncul kesan, Gibran ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kapasitas, kompetensi, dan kemampuan memimpin di masa mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/9eb31a1f27dad1122c7bcbb5f7dbb007-IMG_20250304_WA0157.jpg)
”Sebenarnya, sebagai wapres, (Gibran) cukup menunggu tugas yang diberikan dari Presiden saja karena bagaimanapun posisinya sebagai pembantu presiden. Tetapi, dengan video monolog tersebut, tampak wapres ingin tampil menarik perhatian publik,” ujar Lili.
Ia melihat ada tujuan tersendiri dari Gibran ataupun tim medianya dengan membuat video monolog tersebut. Dengan cara seperti itu, pesan yang ingin disampaikan Gibran bakal lebih terstruktur, sistematis, dan lancar.
Melaui pesan yang dibaca tersebut, Gibran juga akan terhindar dari salah ucap dan menarik perhatian publik. Apalagi tema yang disampaikan terkait bonus demografi menjadi kegelisahan anak muda karena ini menyangkut nasib mereka ke depan.
”Dengan disampaikan secara monolog, dengan tutur kata yang teratur dan sistematis, jika direspons positif oleh kalangan muda, tentu bisa menyedot perhatian dan simpati. Ini bisa menjadi modal sosial dan politik untuk Wapres ke depan,” ucap Lili.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/83c749c148fa195f4f82971e9ecf66ee-WhatsApp_Image_2025_01_28_at_12.35.21.jpeg)
Namun, bukan tidak mungkin publik merespons video tersebut secara negatif. Sebab, jika hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Gibran di depan umum, penyampaiannya mungkin tidak sebagus ketika berbicara secara monolog tersebut.
”Tentu kalau dianggap negatif, (video Gibran itu) dianggap angin lalu saja, dianggap bagian dari pencitraan,” katanya.
Tak bisa dimungkiri kemunculan video monolog Gibran itu diikuti perbincangan publik soal peta perpolitikan dalam Pemilihan Presiden 2029. Terlebih lagi, sosok itu disebut-sebut memiliki modal elektoral besar jika melihat statusnya selaku putra sulung Jokowi. Namun, 2029 masih jauh. Kepemimpinan Gibran, selaku pendamping Prabowo, pun belum berumur satu tahun. Rasa-rasanya terlalu cepat untuk bicara kontestasi berikutnya.
Penulis:
Nino Citra Anugrahanto, Nikolaus Harbowo, Machradin Wahyudi RitongaEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .