Apabila jenazah Ran Gvili ditemukan dan dibawa pulang ke Israel, hambatan untuk maju ke fase dua gencatan senjata Israel-Hamas teratasi dan Rafah bisa dibuka.
26 Jan 2026 11:15 WIB · Internasional
AFP / ILIA YEFIMOVICH
NAHARIYA, SENIN — Militer Israel pada Minggu (25/1/2026) menyatakan, mereka menggelar operasi besar bernama Brave Heart di Jalur Gaza. Operasi militer itu bertujuan untuk mencari dan menemukan sandera terakhir, yakni Ran Gvili, yang diperkirakan sudah meninggal.
Begitu sandera ditemukan, langkah selanjutnya dari gencatan senjata tahap pertama dimungkinkan terbuka. Langkah lanjut itu antara lain pembukaan kembali gerbang Rafah di perbatasan Mesir dan tahap lanjut gencatan senjata fase kedua.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (25/1/2026) malam waktu setempat merilis pernyataan mengenai operasi militer itu.
”Militer Israel saat ini sedang melakukan operasi terfokus untuk mengumpulkan semua informasi intelijen yang telah dikumpulkan untuk menemukan dan mengembalikan sandera yang gugur, yakni Sersan Mayor Ran Gvili, yang telah meninggal dunia,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/12/f0230696-8df2-4c17-a904-875057cb5732_jpg.jpg)
Pernyataan itu tidak menyebutkan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Namun, pejabat militer Israel yang dikutip media lokal mengatakan, operasi tersebut bisa memakan waktu berhari-hari.
Pemulangan semua sandera Israel yang tersisa, hidup atau mati, merupakan bagian utama dari fase pertama gencatan senjata Israel-Hamas yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Saat gencatan senjata berlangsung, diketahui tersisa 48 sandera yang masih ditahan Hamas di Jalur Gaza.
Begitu gencatan senjata diberlakukan, hingga awal Desember 2025, Hamas sudah mengembalikan 20 sandera hidup dan 27 jenazah. Sebaliknya, Israel membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina. Masih ada satu sandera Israel yang belum dikembalikan, yaitu Gvili.
Sebelumnya, Israel sudah mencari Gvili, tetapi belum berhasil. Media Israel, The Times of Israel, pada Minggu memberitakan, operasi pencarian itu dimulai pada akhir pekan.
Untuk pencarian kali ini, Militer Israel atau IDF menyatakan, mereka sedang mencari jenazah Gvili di sisi Israel dari garis gencatan senjata di utara Jalur Gaza. Berdasarkan informasi intelijen, jenazah Gvili dimakamkan di sebuah pemakaman Muslim di timur Kota Gaza, dekat lingkungan Shejaiya, Daraj, dan Tuffah.
Saat ini, menurut IDF, pasukan pencarian khusus bersama para rabi dan ahli forensik, termasuk dokter gigi, tengah berada di daerah tersebut. Mereka berupaya untuk menemukan dan mengidentifikasi jenazah Gvili. Kalau sudah ditemukan, mereka akan membawa jenazah Gvili kembali ke Israel untuk dimakamkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/15/85e6f44a-19c4-4be0-98e9-909d41f61f4b_jpg.jpg)
Sesuai 20 poin perjanjian damai usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setelah pengembalian sandera, perjanjian damai akan memasuki fase kedua. Namun, keluarga Gvili terus mendesak Pemerintah Netanyahu untuk tidak memasuki fase kedua gencatan senjata sampai jenazah Gvili dikembalikan.
Pada saat yang sama, tekanan internasional kepada Israel dan Hamas terus meningkat. Bahkan, pemerintahan Trump dalam beberapa hari terakhir menyatakan bahwa fase kedua sudah berlangsung.
Namun, Israel berulang kali menuduh Hamas mengulur waktu dalam pemulangan sandera terakhir. Hamas dalam sebuah pernyataan terpisah pada hari Minggu mengatakan, Hamas sudah memberikan semua informasi yang dimiliki tentang jenazah Gvili. Hamas lantas balik menuduh bahwa Israel-lah yang menghalangi upaya pencarian di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel.
Di sisi lain, Israel menyatakan akan membuka kembali penyeberangan Rafah di Gaza dengan Mesir jika operasi sudah selesai. ”Setelah selesainya operasi (militer) ini, dan sesuai dengan apa yang telah disepakati dengan Amerika Serikat, Israel akan membuka penyeberangan Rafah,” demikian bunyi pernyataan dari Kantor PM Benjamin Netanyahu.
Sisi Gaza dari penyeberangan tersebut berada di bawah kendali militer Israel sejak 2024. Penyeberangan itu seharusnya dibuka pada fase pertama gencatan senjata sesuai dengan 20 poin rencana damai Presiden Trump.
Namun, Israel mensyaratkan, pembukaan kembali penyeberangan bisa dilakukan jika Hamas menyerahkan semua sandera yang masih hidup dan yang sudah meninggal.
Pada Kamis (22/1/2026), Ali Shaath, Ketua Komite Transisi Palestina yang didukung oleh AS untuk sementara mengelola Gaza, mengatakan, penyeberangan Rafah akan dibuka pekan ini. Pembukaan Rafah secara efektif memberikan akses masuk atau keluar Gaza bagi hampir lebih dari 2 juta orang yang tinggal di sana.
”Sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Trump, Israel telah menyetujui pembukaan kembali penyeberangan Rafah secara terbatas, hanya untuk lalu lintas pejalan kaki, dengan tunduk pada mekanisme inspeksi penuh Israel,” kata kantor Netanyahu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/01/3783b940-3b46-4a06-a193-72b26dc7f108_jpg.jpg)
Pada saat Israel meluncurkan operasi pencarian, Markas Besar Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina di Jerusalem timur (UNRWA) dibakar pada Minggu malam. Pembakaran terjadi beberapa hari setelah buldoser Israel menghancurkan sebagian kompleks yang sudah ditutup itu.
AP melaporkan, tidak diketahui siapa yang memulai kebakaran tersebut. Dinas pemadam kebakaran Israel mengirim tim untuk mencegah api menyebar.
”Pemukim Israel terlihat pada malam hari, menjarah gedung utama untuk mengambil perabotan,” kata Roland Friedrich, Direktur UNRWA Tepi Barat.
Penjarahan dilakukan setelah mereka memotong lubang di pagar. Pada Mei 2024, UNRWA mengatakan akan menutup kompleksnya setelah para pemukim membakar pagarnya.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini kepada AP mengatakan, ”Insiden itu merupakan serangan terbaru terhadap PBB dalam upaya berkelanjutan untuk membongkar status pengungsi Palestina.”
Mandat UNRWA adalah untuk memberikan bantuan dan layanan kepada sekitar 2,5 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, yang diduduki Israel, dan di Jerusalem Timur. UNRWA juga memberikan bantuan dan layanan bagi 3 juta pengungsi lainnya di Suriah, Jordania, dan Lebanon.
Akan tetapi, operasi UNRWA dibatasi pada tahun lalu. Tepatnya ketika Knesset Israel atau Parlemen Israel mengesahkan undang-undang yang memutuskan hubungan dan melarangnya berfungsi di wilayah yang didefinisikan Israel, termasuk Jerusalem Timur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/4144cdde3dc818b921f482cf8087f317-wires_photo_146.jpg)
Israel sejak lama mengecam badan tersebut. Israel juga menuduh UNRWA telah disusupi Hamas dan menuduh bahwa beberapa stafnya terlibat dalam serangan Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023.
Serangan Hamas itu memicu perang dua tahun di Gaza. Para pemimpin UNRWA mengatakan, mereka telah mengambil tindakan cepat terhadap staf yang dituduh ikut serta dalam serangan itu. UNRWA juga membantah tuduhan bahwa badan PBB itu menoleransi atau berkolaborasi dengan Hamas. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji