Setelah gencatan senjata dicapai, Jumat, Israel maupun Hizbullah masih saling serang. Israel berjanji tidak akan menyerang jika Hizbullah melakukan hal yang sama.
20 Jun 2026 12:14 WIB · Internasional
AP Photo/Leo Correa
BEIRUT, JUMAT — Dua hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai, Israel dan kelompok Hizbullah menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan itu mulai berlaku Jumat (19/6/2026) sore.
Meski begitu, pasukan Israel akan tetap bertahan di Lebanon selatan. Israel mengatakan akan berkomitmen pada gencatan senjata itu hanya jika Hizbullah juga menghormati perjanjian itu dan menghentikan segala bentuk serangan. Namun, baru satu jam gencatan senjata diberlakukan, Israel kembali melancarkan serangan udara.
Kantor berita nasional Lebanon menyebutkan, serangan pesawat nirawak Israel menewaskan dua pengguna sepeda motor di Lebanon. Israel membantah melakukan serangan setelah gencatan senjata. Sebelumnya, Lebanon menyebutkan 47 orang tewas dalam serangan udara Israel.
Seusai berkomunikasi lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Presiden Lebanon Joseph Aoun menekankan perlunya Israel menghentikan serangan di Lebanon. Rubio juga menekankan pentingnya Lebanon melucuti senjata Hizbullah dan membangun kembali kendali atas seluruh wilayah Lebanon.
AS dan Lebanon akan membahas tindak lanjut kesepakatan gencatan senjata itu pada 23-25 Juni mendatang di Washington. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Tommy Pigott mengatakan, pembicaraan itu akan memberikan peluang untuk membuat kemajuan menuju perdamaian abadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/934dd5bb7a2f7c674f444bfe1c92ec08-Lebanon_Israel_Iran_War_5.jpg)
Kesepakatan Israel-Hizbullah ini penting untuk keberlanjutan kesepakatan damai AS-Iran yang sudah ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kesepakatan damai itu juga dimaksudkan untuk menghentikan konflik di Lebanon. Ini menjadi tuntutan Iran. Sebelumnya, anggota Parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menyebutkan, Iran sudah memberi tahu Hizbullah bahwa pembicaraan dengan AS tidak dapat dilanjutkan tanpa gencatan senjata yang komprehensif.
Sebelumnya, Israel yang tidak diajak berkonsultasi dalam perundingan AS-Iran menolak tuntutan menghentikan serangan di Lebanon. Alasannya, Israel bebas melawan ancaman apa pun terhadap pasukan dan wilayahnya. Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menegaskan, Israel ingin segera gencatan senjata di Lebanon, tetapi hanya jika Hizbullah menghormati perjanjian tersebut dan menghentikan permusuhannya.
Militer Israel menyatakan, pihaknya melakukan serangan yang menargetkan operasi dan infrastruktur Hizbullah di beberapa wilayah sebagai respons terhadap pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan Hizbullah.
Namun, Hizbullah membantah telah melanggar gencatan senjata. Sebaliknya, Hizbullah menuduh Israel berulang kali melanggar ketentuan gencatan senjata, termasuk ketentuan perjanjian AS-Iran. Hizbullah menuduh pasukan Israel melakukan serangan yang membunuh warga sipil, menghancurkan rumah dan infrastruktur, dan melanjutkan serangan darat.
Kamis lalu, sebelum gencatan senjata dicapai, terjadi pertempuran sengit di wilayah utara Sungai Litani yang dikenal sebagai Bukit Ali al-Taher. Wilayah ini merupakan dataran tinggi yang secara strategis penting bagi Hizbullah.
Hizbullah mengatakan, para pejuangnya menyergap pasukan Israel yang bergerak maju di dekat bukit, menghancurkan tiga tank Merkava dengan peluru kendali, serta menargetkan pasukan dengan tembakan roket dan artileri. Mereka kemudian menyerang pasukan Israel yang berusaha memasuki wilayah mereka.
Sementara Israel sudah merebut zona keamanan yang dideklarasikan sendiri di wilayah selatan. Zona itu menjadi zona penyangga untuk melindungi Israel bagian utara dari serangan Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 3.912 orang tewas di Lebanon akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026, termasuk 746 petugas medis, perempuan, dan anak-anak. Korban tewas Israel akibat permusuhan dengan Hizbullah ini mencapai sekitar 32 tentara dan empat warga sipil Israel.
Delegasi AS dan Iran bersiap untuk bertemu di resor Burgenstock di Swiss yang menghadap Danau Lucerne. Persiapan sudah dilakukan untuk menampung para delegasi yang dipimpin perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Wakil Presiden AS JD Vance.
Pertemuan itu akan menjadi pintu perundingan lanjutan selama dua bulan untuk membahas masalah-masalah penting yang tidak tercakup dalam kesepakatan awal, terutama program nuklir Iran. Namun, pertemuan tersebut ditunda. Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baqaei menyatakan tidak ada urgensi untuk mengadakan pertemuan tersebut.
Meski demikian, Swiss tetap siap memfasilitasi. Apalagi, situasi berubah setelah Israel dan Lebanon sepakat untuk gencatan senjata.
Utusan AS Steve Witkoff dan Menlu Iran Abbas Araqchi akan bertemu di Swiss. Menantu Trump, Jared Kushner, akan menemani Witkoff. Perkembangan ini mungkin menandakan bahwa kedua belah pihak bermaksud untuk memulai negosiasi teknis yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata permanen. Gedung Putih tidak menanggapi rencana perjalanan Witkoff ke Swiss itu.
Aspek penting dari kesepakatan damai AS-Iran adalah segera dibukanya kembali Selat Hormuz. Jalur laut itu merupakan salah satu titik utama jalur distribusi energi dunia. Penutupan jalur tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak.
Setelah kesepakatan penghentian perang AS-Iran dicapai, saat ini lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengalir. AS juga telah mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebanyak 25 kapal komersial melintasi selat yang baru dibuka kembali Kamis lalu. Menurut data perusahaan pelacakan maritim AXSMarine, jumlah tersebut merupakan yang terbanyak sejak pertengahan April.
Meski sudah dibuka, otoritas maritim Iran menyatakan semua kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mengajukan permintaan transit 48 jam sebelumnya. Sementara itu, meski telah mencabut blokadenya, AS tetap mempertahankan kehadiran kapal-kapal perangnya di sekitar Hormuz.
(REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul