Kecaman demi kecaman komunitas internasional tak menggoyahkan Israel untuk terus menumpahkan darah di Gaza.
25 Mar 2025 05:59 WIB · Opini
Gencatan senjata di Gaza, yang dengan susah payah diwujudkan, buyar sudah. Gagal memaksakan keinginannya kepada Hamas, Israel membombardir lagi Jalur Gaza.
Ketika gencatan senjata disepakati dan dirancang berlangsung dalam tiga tahap, mulai 19 Januari 2025, tujuan akhirnya adalah gencatan senjata permanen. Butuh waktu lebih dari tujuh bulan dan pergantian presiden di Amerika Serikat untuk mewujudkan kesepakatan antara Hamas dan Israel itu.
Butir-butir kesepakatan gencatan senjata itu secara garis besar mirip dengan proposal Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Mei 2024. Perlu sosok Presiden Donald Trump melalui utusan khususnya, Steve Witkoff, untuk menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar mau meneken kesepakatan.
Tahap pertama dari tiga tahap gencatan senjata (19 Januari-1 Maret) relatif mulus. Baik Hamas maupun Israel saling bertukar sandera dan tahanan. Pada tahap itu, semestinya kedua belah pihak merundingkan pelaksanaan tahap kedua gencatan senjata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/04e6c1e5d5596073c34c77819d46dd2c-1000000209.jpg)
Namun, alih-alih berunding, Israel dengan dukungan AS memaksakan kemauan sepihak. Mereka ingin perpanjangan babak pertama gencatan senjata hingga 20 April dengan syarat Hamas membebaskan minimal 50 persen sandera hidup.
Berkat bujukan Mesir dan Qatar, mediator perundingan, selain AS, Hamas bersedia membebaskan seorang sandera berkewarganegaraan AS dan empat jasad sandera Israel yang tewas (Kompas.id, 21/3/2025).
Salah satu serangan paling keji terjadi pada 18 Maret saat Israel mengerahkan sekitar 100 jet tempur menyasar kamp pengungsi hingga menewaskan sedikitnya 439 warga Palestina dan melukai 528 warga lainnya.
Akan tetapi, semua itu tak cukup bagi Israel. Sejak 15 Maret lalu hingga kini, Israel kembali membombardir Jalur Gaza. Salah satu serangan paling keji terjadi pada 18 Maret saat Israel mengerahkan sekitar 100 jet tempur menyasar kamp pengungsi hingga menewaskan sedikitnya 439 warga Palestina dan melukai 528 warga lainnya.
Gempuran Israel terus berlanjut, Senin (24/3). Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, menjadi salah satu target serangan itu. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 65 orang tewas akibat serangan Israel, 24 jam terakhir, termasuk dua tokoh biro politik Hamas, Salah al-Bardaweel dan Ismail Barhoum.
Bahkan, seperti diberitakan The Jerusalem Post, Israel memulai pemindahan warga Gaza. Sebanyak 70 warga Gaza diterbangkan Israel ke Romania. Tidak main-main, guna mengegolkan pemindahan warga Palestina dari Gaza, Israel akan membentuk biro khusus di bawah Kementerian Pertahanan sebagai pelaksananya.
Kecaman demi kecaman komunitas internasional tak menggoyahkan Israel untuk terus menumpahkan darah di Gaza. Hingga Senin, menurut data Kementerian Kesehatan di Gaza, sudah lebih dari 50.000 warga Palestina tewas.
Tragedi di Gaza tidak bisa dilepaskan dari ambisi Netanyahu mempertahankan kekuasaannya. Ia butuh dukungan politisi sayap kanan, Itamar Ben Gvir, yang menetapkan syarat berkobarnya kembali perang di Gaza, untuk bergabung lagi ke pemerintahan Netanyahu. Dukungan partai pimpinan Ben Gvir dibutuhkan Netanyahu untuk mengamankan suara pada sidang Knesset yang membahas rancangan APBN, Maret ini.
Penulis:
RedaksiEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .