Israel Menderita bila Terus Serang Iran

Iran bisa meneruskan pembalasan ke Israel tanpa rugi lebih banyak. AS-Eropa dinilai bertanggung jawab pada serangan Israel.

21 Jun 2025 17:15 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar, Nina Susilo

WASHINGTON DC, SABTU — Semakin lama menyerang Iran, penderitaan Israel akan membesar. Solusi diplomatik tidak mudah ditemukan antara lain karena Eropa-Amerika Serikat membiarkan Israel menyerang Iran. Bahkan, senjata Eropa-Amerika terus mengalir ke Israel.

Kepada CNN pada Sabtu (21/6/2025), Afshon Ostovar menyebut Iran tidak akan menyerah dan punya beragam cara berperang dalam jangka panjang. Iran akan punya banyak cara membuat Israel menderita. ”Mereka (Iran) bisa bertahan dan membuat konflik ini sangat mahal bagi Israel,” kata dosen Naval Postgraduate School AS itu.

Iran, kata Ostovar, tidak akan merasa rugi lagi. Fasilitas nuklirnya rusak akibat serangan berulang Israel. Sekutunya di kawasan juga melemah. ”Semakin lama Israel mengebom Iran, semakin lama Iran membalas,” katanya.

Sementara Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, sebanyak empat bus mulai membawa 97 WNI mulai dievakuasi dari Iran. “Tadi pagi saya mendapat laporan bahwa sudah ada empat bus yang bergerak ke arah perbatasan perbatasan negara tetangga, mungkin sekarang sudah sampai,” tuturnya.

Evakuasi dikoordinasi Kemenlu RI. Sejauh ini, dari 386 WNI yang terdaftar ada di Iran, 97 bersedia dievakuasi.

Secara bertahap, menurut Sugiono, WNI dievakuasi dari Iran. Evakuasi hanya bisa dilakukan melalui darat mengingat kondisi Israel masih terus menyerang. Karenanya, komunikasi dengan otoritas negara-negara tetangga Iran sudah dilakukan untuk meminta kemudahan WNI melintasi perbatasan.

British Foreign Secretary David Lammy, High Representative of the European Union for Foreign Affairs and Security Policy Kaja Kallas, France's Minister for Europe and Foreign Affairs Jean-Noel Barrot, German Foreign Minister Johann Wadephul, from left, speak to the media after their Iran-EU nuclear meeting, in Geneva, Switzerland, Friday, June 20, 2025. (Martial Trezzini/Keystone via AP)

Ruang diplomasi

Iran masih terus membalas serangan Israel. Di sisi lain, Iran setuju membuka ruang diplomasi lewat pertemuan di Geneva, Swiss. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menemui perwakilan Uni Eropa, Inggris, Jerman, dan Perancis.

Pertemuan digelar hampir sepekan setelah sebagian anggota UE malah mengecam Iran dan mendukung Israel. Mereka menyebut serangan Israel ke Iran sebagai pembelaan diri. Iran dianggap mengancam Israel dengan program nuklirnya.

Pertemuan Aragchi dengan David Lammy dari Inggris, Jean-Noel Barrott dari Perancis, Johann Wadephul dari Jerman, dan Kaja Kallas dari UE tidak membuahkan hasil. Mereka hanya setuju akan terus membuka ruang dialog.

”Iran menunjukkan itikad baik menjaga komunikasi terbuka dan selalu ada ruang untuk berunding. Penting pula bagi AS agar terlibat di dalam diskusi ini,” kata Wadephul, dikutip France24.

Eropa lalai

Araghchi mengatakan, konflik antara Iran dan Israel terjadi akibat pengaruh kelalaian Eropa juga. Israel menyerang Iran pada 13 Juni 2025 atau dua hari sebelum Iran melakukan perundingan nuklir dengan AS. ”Serangan ini melanggar hukum internasional dan pengkhianatan diplomasi global,” kata Araghchi, dikutip NPR.

Israel berdalih Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Penyerangan itu bertujuan mencegah Iran melanjutkan pengayaan uranium ke taraf bisa membuat bom. 

Iran menyangkal mengembangkan senjata nuklir. Israel menyerang tanpa ada provokasi dan ini jelas melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai kedaulatan tiap-tiap negara. ”Eropa bisa berperan lebih aktif di dalam penyelesaian konflik ini apabila mengecam keras Israel dan menghentikan bantuan persenjataan ataupun logistik perang untuk Israel,” kata Araghchi.

Imbauan serupa diutarakan oleh Perwakilan Tetap Iran di PBB Ali Bahreini. Menurut dia, negara-negara Barat terlalu lunak terhadap Israel. Mereka melakukan pembiaran terhadap berbagai pelanggaran internasional yang dilakukan Tel Aviv.

Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi, speaks to the media after an Iran-EU nuclear meeting, in Geneva, Switzerland, Friday, June 20, 2025. (Martial Trezzini/Keystone via AP)

Surat kabar terafiliasi Pemerintah Iran, Tehran Times, edisi April 2025 menulis kelalaian Eropa telah berlangsung sejak 2018. Inggris, Jerman, dan Perancis adalah negara-negara yang memediasi AS dengan Iran di masa pemerintahan Presiden AS 2008-2016 Barack Obama.

Obama pada 2015 membidani Kerangka Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Isinya adalah AS dan negara-negara Barat bersedia mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran selama komitmen tidak mengembangkan senjata nuklir dipenuhi.

Situasi mulai membaik sampai tahun 2018. Trump ketika itu berada di masa jabatan pertama, 2017-2021, mengeluarkan AS dari JCPOA. Keputusan itu diambil setelah dibisiki oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang meyakinkan Trump bahwa Iran tidak akan memenuhi janji.

”Negara-negara Eropa yang semestinya bisa melanjutkan JCPOA melempem dan lama-lama pasif. Ini yang menjadi preseden konflik,” kata Tehran Times.

Menurut laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran mengayakan uranium hingga 60 persen. Kadar ini hanya selisih sedikit dari pengayaan 90 persen untuk membuat bom. Sejatinya, jika nuklir hanya untuk energi, teknologi kesehatan, dan pertanian, kadar pengayaan 3,67 persen sesuai JCPOA sudah cukup.

Iran juga mengatakan mereka berpegang kepada fatwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia menekankan, teknologi nuklir hanya boleh untuk kemaslahatan bangsa dan dilarang dipakai untuk senjata.

Saling serang

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyayangkan Israel menyerang fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Di dalam aturan perang, sarana umum, kesehatan, dan energi tidak boleh menjadi sasaran tembak.

Iran sendiri mengkritik Grossi sebagai pihak yang bias. Menurut Teheran, Grossi terlalu dekat dengan Israel dan condong membela mereka. Teheran menganggap Grossi menyalahi kewenangan sebagai pemimpin IAEA.

Oleh sebab itu, Iran mengancam keluar dari perjanjian pelucutan dan penyebaran senjata nuklir (NPT). Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, Iran akan tetap di NPT jika tidak ada perlakuan diskriminatif dari IAEA.

Boroujerdi mengatakan, selama Israel menyerang, Iran akan membalas secara proporsional. Artinya, Iran membalas menyerang infrastruktur ekonomi dan rumah sakit Israel apabila sarana dan prasarana mereka diserang Israel.

Pemerintah Israel menyensor media independen. Mereka beralasan tidak mau menyebarluaskan dampak serangan musuh. Sementara itu, BBC Farsi melaporkan, jaringan internet di Iran dibatasi oleh pemerintah sehingga menyusahkan komunikasi. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar, Nina Susilo
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar