Israel Pakai Kaki Tangan dalam Iran untuk Bidik Sasaran

Dalam wilayah Iran, Israel menyusupkan perangkat pembidik, pemandu sasaran, dan pelumpuh artileri pertahanan udara. Lalu, kaki tangan membuntuti orang yang disasar.

13 Jun 2025 19:19 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

TEHERAN, JUMAT — Israel memanfaatkan kaki tangannya di dalam Iran untuk menyukseskan serangan. Pola serangannya mirip dengan Operasi Jaring Laba-laba Ukraina. Seluruh persiapan serangan dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.

Dilaporkan Euronews dan Axios, Jumat (13/6/2025), kaki tangan Israel di dalam Iran punya tiga tugas. Pertama, membantu Israel menempatkan perangkat pembidik dan pemandu sasaran. Kedua, membantu Israel menempatkan pelumpuh artileri pertahanan udara.

Tugas ketiga, mengikuti orang-orang yang disasar Iran. Tugas ini fokus menyasar para ilmuwan senior nuklir Iran dan jenderal-jenderal Iran. Serangan Jumat dini hari menewaskan sejumlah jenderal dan ilmuwan nuklir Iran.

Israel sejak lama punya kaki tangan dalam Iran. Apabila tertangkap, mereka dihukum mati seperti dialami Mohsen Langarneshin pada Mei 2025. Langarneshin membantu Mossad membunuh Kolonel Sayyad Khodai.

Quote

Sulit memercayai Israel akan dan bisa menyerang dengan skala ini tanpa persetujuan AS.

Perwira Garda Revolusi Iran itu tewas di Teheran pada Mei 2022. Langarneshin bertugas membuntuti kolonel itu.

Iran juga telah memvonis dan mengeksekusi hukuman mati sembilan orang yang terlibat kematian Mohsen Fakhrizadeh. Ilmuwan nuklir Iran itu tewas pada November 2020 karena diberondong senapan mesin yang dikendalikan dari jauh. Mobil pengangkut senapan ditempatkan kaki tangan Israel di lokasi pembunuhan Fakhrizadeh.

Petugas pemadam kebakaran bekerja di lokasi ledakan di kompleks perumahan di Teheran utara, Iran, Jumat, 13 Juni 2025.  *** Local Caption *** Firefighters work the scene of an explosion at a residence compound in northern Tehran, Iran, Friday, June 13, 2025. (AP Photo/Vahid Salemi)

Kini, kaki tangan Israel membantu serangan pada Jumat dini hari. Sampai Jumat siang waktu setempat, gelombang baru serangan masih terus dilancarkan Israel ke Iran.

Juru Bicara Tzahal, Effie Defrin, mengatakan bahwa 330 bom digunakan untuk menyerang Iran pada Jumat dini hari. Ia menggunakan istilah bom, bukan rudal.

Untuk bisa mencapai sasaran, bom membutuhkan pemandu. Biasanya berupa laser pembidik atau konfirmasi titik koordinat. Pemandu dan pengonfirmasi membutuhkan orang untuk mengarahkannya.

Menurut sumber Euronews, pemandu diletakkan di sekitar lokasi sasaran. Area terbuka dipilih untuk penempatan alat pemandu bom itu.

Badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, tidak menyangkal menempatkan perangkat di dalam Iran. Perangkat-perangkat diaktifkan saat serangan dilancarkan.

Mossad dan Tzahal juga menempatkan pesawat nirawak pada kendaraan di dalam Iran. Fungsi utama pesawat itu melumpuhkan artileri pertahanan udara Iran. Dengan demikian, jet-jet tempur Israel bisa leluasa menyerang.

Pola itu mirip dengan Operasi Jaring Laba-laba Ukraina di Rusia. Badan Keamanan Nasional Ukraina, SBU, mengaku menempatkan pesawat nirawak di dalam Rusia.

Pesawat-pesawat itu berada di Rusia berbulan-bulan sebelum serangan dilancarkan 1 Juni 2025. Serangan dilancarkan sehari sebelum perundingan damai Rusia-Ukraina berlangsung di Turki.

Operasi Jaring Laba-laba menyasar sejumlah pangkalan udara Rusia. Sejumlah pesawat pengebom Rusia rusak dalam serangan itu.

Persiapan panjang

Menurut Axios, Israel setidaknya menghabiskan delapan bulan untuk menyiapkan serangan itu. Dengan demikian, serangan disiapkan kala AS masih dipimpin Biden.

Serangan disiapkan selepas Iran menembakkan setidaknya 200 rudal dan pesawat nirawak ke Israel pada Oktober 2024. Sejumlah petinggi sipil dan militer Israel mengaku, bantuan AS-Jordania jadi faktor utama Israel bisa menangkis serangan itu.

Mayoritas rudal dan pesawat nirawak Iran dijatuhkan AS-Jordania sebelum mencapai Israel. Sisa-sisa rudal dan pesawat dijatuhkan sendiri oleh Israel.

Untuk serangan saat ini, seperti dilaporkan Axios, Israel kembali mengandalkan bantuan AS. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tahu sebelum serangan dilancarkan.

Trump diberi tahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara berkala soal rencana serangan. Senin lalu, Netanyahu-Trump mengoordinasikan rencana serangan ke Iran.

Meski demikian, Trump berulang kali menyatakan terus mendorong pencarian solusi diplomatik untuk nuklir Iran. Selepas serangan perdana pada Jumat pagi, sejumlah pejabat Israel mengaku AS-Israel memainkan drama pengecohan diplomatik pada Iran. Tujuannya, membuat Iran terlena.

”Sulit memercayai Israel akan dan bisa menyerang dengan skala ini tanpa persetujuan AS,” kata dosen John Hopkins University di AS, Vali Nasr.

Serangan itu, menurut Nasr, sekali lagi akan menunjukkan kegagalan Trump memahami masalah. Trump menduga serangan akan melemahkan Iran dan memberinya kemenangan diplomatik.

”Dia (Trump) malah mungkin akan terlibat perang yang dia dan MAGA (para pendukung Trump) tidak inginkan,” kata Nasr. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati