Pelaku Bisnis Ritel Khawatir soal Unjuk Rasa

Gejolak sosial-politik yang terindikasi dari gelombang unjuk rasa dalam tiga hari terakhir berdampak pada perekonomian, terutama bisnis ritel.

30 Agt 2025 16:39 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh FX Laksana Agung Saputra, Sarie Febriane

JAKARTA, KOMPAS — Risiko gangguan keamanan menjadi perhatian pelaku bisnis ritel di Jakarta. Ini terutama dialami mereka yang memiliki gerai di sekitar atau tak jauh dari lokasi kerusuhan yang mewarnai unjuk rasa dalam tiga hari terakhir.

Situasi pusat perbelanjaan kelas atas, seperti Plaza Senayan (PS) di Jakarta Pusat, Sabtu (30/8/2025) siang, terlihat lebih lengang dari biasanya. Areal parkir yang biasanya pada tengah hari sudah padat, kali ini tampak lebih kosong.

Petugas keamanan mal yang berjaga di gerbang ataupun pintu masuk mal tidak memberlakukan cara pengamanan khusus yang lebih ketat. Mereka bertugas seperti biasanya.

Salah satu areal parkir luar gedung di sisi belakang PS nyaris kosong. Hanya terlihat kurang dari lima mobil.

Di lantai dasar mal, butik-butik mewah, termasuk jenama internasional, tampak buka normal. Butik seperti Louis Vuitton, Dior, Zegna, Bvlgari, dan Fendi masih buka seperti biasa. Barang-barang fashion, seperti tas-tas mewah koleksi terbaru, masih ditampilkan di etalase.

Butik jam tangan mewah The Time Place juga masih menampilkan jam-jam mewah di etalasenya. Meski begitu, jumlah arloji yang dipajang di etalase lebih sedikit dari biasanya. Hal itu tampak dari beberapa wadah untuk memajang yang dibiarkan kosong.

Suasana di salah satu kafe di salah satu mal di Jakarta, Sabtu (30/8/2025).

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah kepada Kompas, Sabtu (30/8/2025), mengatakan, kerusuhan yang mewarnai unjuk rasa dalam tiga hari terakhir menimbulkan perhatian di antara pelaku bisnis ritel berikut ekosistemnya. ”Keamanan menjadi prasyarat berputarnya roda ekonomi, apalagi bisnis ritel,” katanya.

Ekosistem bisnis ritel, menurut Budiharjo, melibatkan jutaan pekerja dan keluarga mereka. Bisnis ritel juga melibatkan berbagai sektor lain yang menopang perekonomian bangsa. Sebagai gambaran, untuk satu produk saja, bisnis ritel melibatkan rantai pasok yang panjang, mulai dari pabrik hingga distributor.

Bisnis ritel adalah jenis usaha yang menjual barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir, antara lain supermarket, toko pakaian, toko elektronik, penyewa tenan di pusat perbelanjaan, restoran, bioksop, kafe, dan salon.

Quote

Sebagian bahkan memindahkan stok barangnya ke tempat yang dianggap lebih aman karena khawatir kerusuhan kembali terjadi.

Pada Sabtu ini, menurut Budihardjo, pelaku bisnis ritel di beberapa kawasan di Jakarta memilih tutup. Mereka meliburkan karyawan untuk sementara waktu. Sebagian bahkan memindahkan stok barangnya ke tempat yang dianggap lebih aman karena khawatir kerusuhan kembali terjadi. Kekhawatiran yang sama membuat sejumlah pemasok menunda pengiriman barang ke ritel.

Sementara di kawasan yang jauh dari lokasi bentrokan antara massa dan polisi pada unjuk rasa Jumat (29/8/2025), ritel tetap buka normal, baik toko maupun mal. Dalam unjuk rasa Jumat, kawasan yang menjadi lokasi unjuk rasa adalah Markas Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat. Saat itu, akses Jalan Kramat Kwitang dari arah Tugu Tani dan sebaliknya ditutup. Kerusuhan juga merembet hingga ke Simpang Senen.

Area parkir di Plaza Senayan tampak lengang pada Sabtu (30/8/2025). Biasanya, area parkir tersebut ramai pada Sabtu-Minggu.

Di luar Jakarta, unjuk rasa juga terjadi di Yogyakarta, Surabaya, Solo, Malang, Bandung, Medan, dan Makassar pada Jumat. Sejumlah unjuk rasa berakhir dengan bentrokan antara polisi dan massa. Sebanyak dua korban tewas dalam unjuk rasa di Makassar. Pada unjuk rasa sehari sebelumnya, Affan Kurniawan (21), pengemudi ojol, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

Gelombang unjuk rasa selama tiga hari terakhir, dalam catatan Kompas, berakar pada rasa ketidakadilan yang dialami masyarakat. Ketika ekonomi masyarakat bawah semakin sulit, pemerintah dan DPR justru membuat kebijakan yang tidak sensitif.

Pemerintah, misalnya, semakin getol menyelenggarakan seremoni-seremoni. Sementara DPR justru menggelontorkan tunjangan perumahan senilai Rp 50 juta per orang per bulan.

Ketimpangan ini membuat masyarakat geram hingga akhirnya berujung pada unjuk rasa. Respons pemerintah, DPR, dan polisi yang tidak memuaskan akhirnya justru membuat unjuk rasa bereskalasi. Jatuhnya korban jiwa semakin membuat situasi kian panas.

Suasana di depan Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, saat elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan masyarakat menggelar unjuk rasa, Jumat (29/8/2025). Mereka menuntut keadilan atas kematian pengendara ojek daring Affan Kurniawan akibat terlindas kendaraan taktis polisi pada Kamis (28/8/2025).

Hippindo mengimbau pemerintah untuk menjamin keamanan masyarakat dengan memastikan hadirnya pengamanan di pusat perbelanjaan, obyek vital, serta kelancaran distribusi logistik dan barang kebutuhan pokok. Ini penting agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan tanpa gangguan.

Hippindo juga mengimbau pemerintah agar mendengar suara rakyat melalui dialog yang konstruktif. ”Dengan dialog, kebersamaan, dan langkah konkret menjaga ketenangan publik, kita dapat memperkuat persatuan nasional sekaligus memastikan roda perekonomian terus bergerak demi kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Budihardjo.

Quote

Dengan dialog, kebersamaan, dan langkah konkret menjaga ketenangan publik, kita dapat memperkuat persatuan nasional sekaligus memastikan roda perekonomian terus bergerak demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sementara, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, melalui keterangan tertulisnya, menyatakan sejumlah hal, antara lain kondisi ekonomi yang sedang sulit harus dihadapi bersama dengan menjaga situasi keamaman agar semua orang bisa kembali bekerja dan melakukan aktivitas.

”Selama situasi keamanan tidak kondusif, kegiatan ekonomi akan terganggu dan dampak buruk akan dialami juga oleh masyarakat. Jalan terbaik menyampaikan aspirasi adalah lewat dialog,” katanya.

Kadin, menurut Anindya, mengimbau para penyelenggara negara agar memperhatikan kondisi riil yang dihadapi masyarakat dalam mengartikulasikan kebijakan, pernyataan, dan tindakan. Penyelenggara negara perlu peka.

”Kondisi psikologi masyarakat yang sedang diimpit kesulitan ekonomi, pendapatan yang minim, biaya hidup yang meningkat, kondisi ketenagakerjaan yang sedang sulit, dan kesenjangan sosial yang masih cukup lebar,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

FX Laksana Agung Saputra, Sarie Febriane
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari