Tak hanya berkepanjangan, intensitas hujan yang melanda Jabodetabek juga dalam kategori lebat hingga ekstrem. Hujan lebat masih bisa terjadi sepanjang Jumat ini.
23 Jan 2026 10:05 WIB · Lingkungan
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
JAKARTA, KOMPAS — Intensitas hujan lebat hingga ekstrem masih berpeluang terjadi sepanjang Jumat (23/1/2026) sehingga berpotensi meningkatkan risiko banjir. Upaya modifikasi cuaca tidak bisa berdampak optimal karena pertumbuhan awan yang cepat dan tebal.
”Situasi hari-hari ini, Jabodetabek mengalami kombinasi antara hujan berturut-turut dan intensitas hujan tinggi sehingga ancaman banjir cukup tinggi. Catatan kami di beberapa kawasan Jakarta, seperti di Cempaka Putih, kemarin, memiliki intensitas hujan atas ambang batas hujan ekstrem,” kata Pelaksana Tugas Deputi Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Data BMKG menunjukkan, delapan stasiun pencatat hujan di Jakarta merekam intensitas hujan ekstrem atau di atas 150 mm per hari dan belasan lainnya intensitas hujannya kategori lebat atau di atas 100 mm per hari.
Intensitas hujan sehari terakhir yang tertinggi tercatat di sekitar Istana, mencapai 189 mm per hari. Di Pulomas dan Aneka Elok, intensitas hujan mencapai 168 mm per hari. Berikutnya di Cempaka Baru 163 mm per hari.
Andri mengatakan, tingginya intensitas hujan disebabkan oleh menguatnya monsun Asia yang diprediksi dengan adanya seruakan dingin (cold surge). Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.
Puncak musim hujan di Jawa masih akan berlangsung Januari hingga Februari.
Secara bersamaan saat ini juga memasuki fase aktifnya gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Equator, dan Kelvin yang semakin memperkuat pembentukan awan kumulonimbus di atmosfer.
”Faktor lain adalah kemunculan bibit siklon 91S di Samudra Hindia. Bibit siklon ini membentuk pola konvergensi (pemusatan awan), yang memanjang di sepanjang Pulau Jawa,” kata Andri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/d6ec409462419386e4beb4f99dd89402-intensitas_hujan.jpeg)
Menurut analisis BMKG, hujan lebat hingga ekstrem masih bisa terjadi di Jabodetabek dan sebagian besar wilayah Jawa pada Jumat ini. ”Untuk besok masih hujan walaupun mulai berkurang. Situasi baru sedikit mereda minggu depan walaupun diprediksi akan kembali hujan tinggi pada awal Februari. Puncak musim hujan di Jawa masih akan berlangsung Januari hingga Februari,” tutur Andri.
Andri menambahkan, kondisi cuaca bisa berubah lebih ekstrem jika bibit siklon kembali muncul di selatan Jawa. ”Suhu permukaan laut Samudra Hindia saat ini lebih panas sehingga sangat aktif muncul bibit siklon. Setelah hilang, tumbuh lagi,” katanya.
Selain berpotensi hujan lebat, beberapa daerah yang dikelilingi pegunungan juga berpotensi dilanda puting beliung. ”Sekalipun puting beliung biasanya lebih sering terjadi pada masa pancaroba, awan kumulonimbus yang bertumpuk seperti saat ini juga bisa memicunya. Namun, puting beliung ini fenomena mikro sekali. Durasi terbentuk dan hilangnya juga sangat singkat sehingga sulit diprediksi,” katanya.
BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jakarta dan TNI Angkatan Udara telah menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Operasi ini berlangsung sepanjang 16-22 Januari 2026 dengan pusat pos komando (posko) di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
”OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” kata Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, Rabu (21/1/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/f94121d286680e26e8da04616f578e1e-20260122AGS_18.jpg)
Menurut Seto, penyemaian diprioritaskan untuk menjatuhkan awan-awan hujan yang masih berada di lautan dan bergerak menuju daratan Jabodetabek. Selain itu, penyemaian juga dilakukan untuk menghambat pertumbuhan awan-awan baru sehingga tidak tumbuh secara optimal di daratan.
Meski demikian, operasi modifikasi cuaca dinilai tidak optimal di tengah kondisi saat ini. ”Kajian BMKG, penyemaian awan hanya bisa mengurangi maksimal 30 persen. Saat situasi seperti sekarang, awan terlalu tebal sehingga pesawat juga akan kesulitan take off. Selain itu, awan yang sudah disemai juga akan cepat tumbuh lagi,” kata Andri.
Andri menambahkan, modifikasi cuaca tetap perlu dilakukan karena daya tampung daratan di daerah ini terhadap air hujan semakin lemah. ”Kalau dulu mungkin tanah-tanah kita masih bisa menyerap hujan 150 mm per hari, sekarang makin berkurang. Resapan air terus berkurang, sementara aliran air yang harusnya bermuara ke laut juga tidak mudah karena permukaan daratan di utara Jabodetabek semakin rendah juga,” tuturnya.
Daerah-daerah di pantai utara Jawa, seperti Jakarta, Pekalongan, Demak, hingga Pati, menurut Andri, kini menghadapi tekanan dari dua sisi. ”Ancaman hujan tinggi, sekaligus juga banjir rob yang bisa semakin parah,” ujarnya.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji