Dirtek PSSI Alexander Zwiers Janjikan Sistem dan Filosofi Sepak Bola  Berkelanjutan

PSSI mengontrak Alexander Zwiers hingga 2029. Berandil bantu Jordania menembus Piala Dunia 2026, tugas serupa jadi peran jangka pendek Zwiers untuk timnas Indonesia.

26 Agt 2025 06:00 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

JAKARTA, KOMPAS — PSSI akhirnya menemukan sosok direktur teknik yang sudah lebih dua tahun dicari. Sosok Alexander Zwiers dipilih PSSI untuk menyusun sistem pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional. Tak ketinggalan, pembentukan filosofi tim nasional juga jadi tanggung jawab pria asal Belanda itu.

Demi menjalani tugas yang super berat dan rumit itu, Zwiers dibekali kontrak selama empat tahun. Setidaknya hingga pertengahan 2029 menjadi batas waktu bagi Zwiers untuk membantu Indonesia memiliki sistem sepak bola yang selama ini masih belum menentu.

Untuk itu, Zwiers mengungkapkan dirinya akan memanfaatkan 100 hari pertama masa tugasnya untuk banyak mendengarkan, berbicara, dan melakukan observasi dengan seluruh insan dalam komunitas sepak bola Indonesia. Ia ingin berbicara serta menyerap pengetahuan dan aspirasi dari para pelaku, seperti klub, pelatih profesional, serta juru taktik di akar rumput.

”Pertama, saya akan mengidentifikasi masalah dan tantangan untuk memahami kelebihan serta kelemahan yang harus dikembangkan sepak bola Indonesia,” ujar Zwiers dalam jumpa pers pengenalannya di Jakarta, Senin (25/8/2025) malam.

”Kami akan bertahap melakukan peningkatan dengan fokus utama mengidentifikasi bakat pemain Indonesia di akar rumput, membenahi sistem pendidikan pelatih, kemudian menyajikan identitas permainan timnas yang merepresentasikan dengan semangat bangsa Indonesia,” katanya.

Alexander Zwiers menjawab pertanyaan pada sesi jumpa pers pengenalan dirinya sebagai Direktur Teknik PSSI periode 2025-2029 di Jakarta, Senin (25/8/2025). Ia berambisi membangun sistem sepak bola Indonesia.
Quote

Saya menerima tugas ini karena melihat Indonesia yang sangat mencintai sepak bola.

Dalam lebih dari 20 tahun kariernya di sepak bola, Zwiers sudah terbiasa berada di belakang layar untuk mengembangkan sistem pembinaan usia dini hingga pra-senior. Hal itu dilakukannya di sejumlah klub di Belanda, Irlandia Utara, Arab Saudi, Qatar, Meksiko, dan Kazakhstan. Terkini, ia menjabat Direktur Teknik Asosiasi Sepak Bola Jordania sejak April 2019 hingga Juli 2025.

Tangan dingin Zwiers membantu Jordania mencapai sejumlah capaian bersejarah dalam dua tahun terakhir. Dimulai dengan mengantarkan Jordania menembus final Piala Asia 2023, Februari 2024. Ia juga memiliki andil untuk membawa Jordania untuk pertama kali menembus Piala Dunia pada edisi 2026.

”Saya menerima tugas ini karena melihat Indonesia yang sangat mencintai sepak bola. Juga dikelilingi legenda, Patrick Kluivert, Jordi Cruyff, dan Pak Erick Thohir. Tugas bersama Indonesia layaknya sebuah misi kehidupan untuk saya karena potensi pemain muda yang amat luar biasa,” tutur Zwiers.

Melekat dengan Indonesia

Bagi Zwiers, Indonesia bukan negara yang asing. Setengah hatinya sudah terpaut di negara ini. Ia menikah dengan wanita Indonesia sejak tahun 2000. Ia pun sudah pernah tinggal di Tangerang, Banten, selama empat tahun.

Istri dan putri Zwiers pun sudah kembali ke Indonesia sejak Juli lalu. Kondisi itu membuat Zwiers berkomitmen untuk selalu berada di Indonesia selama empat tahun pengabdiannya bersama PSSI.

Penasihat teknik timnas Indonesia Jordi Cruyff, Ketua PSSI Erick Thohir, dan pelatih timnas Indonesia Patrick Kluivert (dari kiri ke kanan) bersalaman dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (11/3/2025). PSSI resmi memperkenalkan Jordi Cruyff sebagai penasihat teknik timnas Indonesia. Pengalaman panjang Jordi Cruyff di ranah kepelatihan dan kerja teknik di sejumlah klub Eropa diharapkan bisa menyusun program tim nasional dan membangun filosofi sepak bola nasional. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 11-03-2025

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut Zwiers memenuhi tiga kriteria yang dicanangkan PSSI untuk mencari seorang direktur teknik. Ketiganya ialah rekam jejak karier, komitmen, dan filosofi sepak bola.

Menurut Erick, pengalaman Zwiers sudah diakui karena pernah berkarier di Eropa hingga Asia. Pertimbangan penting untuk PSSI, lanjut Erick, adalah pemahaman Zwiers tentang persaingan di sepak bola Asia.

”Ia (Zwiers) juga berkomitmen membangun ekosistem sepak bola nasional dengan selalu berada di Indonesia selama empat tahun. Dari sisi filosofi, ia terbukti mampu membangun sistem sepak bola dan kinerjanya yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan kolektif,” kata Erick.

Lebih lanjut, sebelum meramu sistem pengembangan sepak bola nasional, Zwiers memiliki tugas besar jangka pendek. Tugas itu adalah mendampingi timnas senior untuk mempersiapkan laga putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026, Oktober mendatang.

”Dengan latar belakang Alex (Zwiers) yang sudah mengenal persaingan Timur Tengah, harapannya ada bisikan menyejukkan untuk persiapan timnas,” ujar Erick sembari tersenyum.

Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert (kanan) didampingi asisten pelatih Denny Landzaat (kedua kanan) memberikan arahan kepada anak asuhnya pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga Grup C melawan Timnas China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/mrh/tom.

Lestarikan masa lalu

Terkait filosofi sepak bola Indonesia yang pernah diperkenalkan sejak 2017, yakni ”filanesia”, Zwiers belum banyak mengetahui hal itu. Meski begitu, ia menegaskan tidak akan menghilangkan sepenuhnya filosofi yang pernah berperan membentuk pemain-pemain nasional di masa lalu.

Menurut Zwiers, membangun sepak bola sebuah negara harus didasari dengan respek terhadap masa lalu dan mengenali kekuatan sepak bola sesungguhnya. Perpaduan itu berperan besar untuk menemukan keunikan yang penting untuk melanjutkan pengembangan generasi sepak bola masa depan.

”Kami butuh membentuk pemain dengan identitas khas Indonesia yang terlihat di tim nasional. Untuk itu, kami perlu melakukan investigasi dan membaca data untuk menentukan tolak ukur pengembangan pemain nasional,” katanya.

Erick menambahkan, ”Dalam 100 hari awal, kami beri kesempatan Alex mendengar. Setelah itu, kami akan mendiskusikan cetak biru sepak bola Indonesia yang telah kami serahkan kepada FIFA. Alex bisa memberikan masukan untuk menyempurnakan itu.”

Kehadiran Zwiers sudah melengkapi susunan tim teknis PSSI. Ia akan dibantu secara langsung oleh penasihat teknis PSSI, Jordi Cruyff, dan Kepala Pemandu Bakat PSSI Simon Tahamata. Tak ketinggalan, Zwiers didukung pula oleh anggota tim teknis PSSI, Indra Sjafri, serta Kepala Badan Tim Nasional Sumardji.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan