Jakarta Banjir Lagi

Tingginya curah hujan kembali menjadi ancaman nyata potensi bencana kawasan metropolitan Jakarta.

08 Jul 2025 13:15 WIB · Lingkungan

Oleh Budiawan Sidik A, Zikrina Ratri

Sebagian wilayah Jakarta kembali tergenang banjir. Tingginya curah hujan kembali menjadi ancaman nyata potensi bencana kawasan metropolitan Jakarta.

Setelah diguyur hujan deras beberapa saat terakhir, banjir kembali melanda Jakarta. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada 8 Juli 2025 pukul 11.00 WIB, terdapat 58 rukun tetangga (RT) di Jakarta yang terendam banjir. Kedalaman air bervariasi, mulai dari 30 hingga 80 sentimeter.

Sejumlah daerah yang terendam cukup dalam hingga lebih dari 50 sentimeter itu antara lain berada di Kelurahan Duri Kosambi, Rawa Buaya, Kembangan Utara di Jakarta Barat; Kelurahan Bangka, Jati Padang di Jakarta Selatan; Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, Cililitan di Jakarta Timur; dan Kelurahan Kapuk Muara di Jakarta Utara.

Derasnya curah hujan sejak Sabtu lalu turut memicu kenaikan volume di beberapa titik bendungan, pos pantau, hingga pintu air. Tingginya curah hujan yang mencapai 200 milimeter ini juga turut menyebabkan meluapnya volume air di beberapa titik sungai dan anak Sungai Ciliwung. Langkah darurat pengendalian banjir, seperti pengoperasian pompa air dan pengaturan pintu air banjir, turut dikerahkan menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Kompas.id, 6/7/2025).

Anak-anak membantu pengendara sepeda motor menerobos banjir di kawasan Kembangan Selatan, Jakarta Barat, Senin (7/4/2025). Hingga pukul 14.00, banjir setinggi 20-50 sentimeter masih menggenangi kawasan ini sehingga menghambat arus lalu lintas. Banjir ini disebabkan hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta pada Minggu (6/4/2025) sore hingga malam hari. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 07-04-2025

Pantauan BPBP di sejumlah pintu air hingga hari ini (8/7/2025) pukul 09.00 WIB menunjukkan ada ada tiga pintu air yang kondisi kewaspadaannya meningkat. Dalam status siaga dua, yakni pintu air Karet dan pos Sunter Hulu, serta dalam status siaga satu, yakni pos Angke Hulu. Status Waspada ini menunjukkan potensi bahaya luapan air di sekitar pos pengendalian atau pemantau tinggi muka air tersebut, terutama bagi daerah di sekitar pintu air berstatus siaga satu.

Walaupun genangan air banjir yang terjadi beberapa hari ini tidak separah pada Maret lalu, potensi banjir perkotaan ini akan terus mengancam Jakarta dan sekitarnya untuk beberapa saat ke depan. Pertengahan tahun ini, yang seharusnya sudah memasuki periode musim kemarau, masih didominasi curah hujan yang lumayan tinggi di beberapa wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laporan prospek cuaca mingguan periode 4-10 Juli 2025 mencatat 30 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Angka tersebut hanya mencapai setengah dari jumlah seharusnya mengalami musim kemarau pada akhir Juni ini.

Dinamika cuaca yang pada awal tahun ini telah diprediksi akan melalui musim kemarau basah turut menjadi peringatan bagi sebagian besar wilayah di Indonesia. Sejak memasuki periode musim hujan akhir tahun lalu (2024), bencana hidrometeorologi kian berpotensi meningkat,  seperti yang terjadi di Jakarta beberapa saat lalu. Hingga pertengahan tahun 2025 ini Jakarta sudah beberapa kali dikepung banjir. Bahkan, pada awal Maret lalu merupakan salah satu bencana terparah yang terjadi di Jakarta, yang berdampak pada 122 RT (Kompas.id, 4/3/2025).

infografik Banjir Jakarta 2025

Potensi ancaman banjir itu diperkirakan masih akan berlanjut seiring tingginya prediksi curah hujan hingga Agustus nanti. Pemerintah Provinsi Jakarta perlu meningkatkan kewaspadaan terkait ancaman bencana hidrometeorologi ini. Selain itu, perlu meningkatkan upaya mitigasi secara optimal agar bencana dapat diminimalkan serta mencegah timbulnya korban. Sayangnya, langkah preventif ini belum dirasakan secara optimal oleh sebagian masyarakat Jakarta.

Hal itu tertangkap dari hasil survei Litbang Kompas mengenai penilaian masyarakat terhadapt kinerja Pemprov Jakarta terkait persoalan mendesak yang harus segera diselesaikan. Sebagian besar masyarakat merasa pemerintah daerah masih belum menemukan solusi mengenai pengendalian terhadap ancaman bencana banjir di Jakarta.

Mitigasi

Dinamika cuaca dengan curah hujan yang tinggi menjadi ancaman serius bagi bencana perkotaan. Meluasnya genangan banjir yang tergolong parah hingga melanda 122 RT pada Maret lalu kemungkinan akan kembali terulang apabila tanpa disertai upaya mitigasi yang optimal. Kerugian harta benda dan bahkan jiwa senantiasa akan selalu dipertaruhkan ketika bencana itu kembali hadir.

Belum lagi ancaman terkait dengan kesehatan fisik dan mental bagi masyarakat yang senantiasa wilayahnya terlanda banjir ketika curah hujan meningkat. Masyarakat terpaksa harus mengungsi dan mengorbankan waktunya untuk melakukan aktivitas produktif akibat bencana banjir.

Banjir yang terjadi kali ini pun memaksa warga di sekitar lokasi bencana untuk mengungsi. Setidaknya ada 650 warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman akibat meluapnya air Kali Krukut, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Ciliwung, dan Kali Sunter (Kompas.id, 7/7/2025).

Infografik Titik Kelurahan dan RT Terdampak Banjir Jakarta

Memang, ada sejumlah upaya yang telah dilakukan Pemprov Jakarta dalam upaya mitigasi banjir. Salah satunya, melakukan pengerukan saluran dan kali dari pinggiran hingga pusat kota (Kompas.id, 7/7/2025).

Pengerukan ini dilakukan bersamaan dengan menyelesaikan proyek infrastruktur pengendalian banjir lainnya, seperti normalisasi sungai, pembangunan polder, dan rumah pompa. Pengerukan di segmen pertama sudah dilaksanakan sejak 12 Februari 2025 sampai 19 Mei 2025. Saat ini pun pengerukan segmen kedua juga sedang dilaksanakan.

Dalam kesempatan peninjauan kali irigasi Bekasi di Cakung, Jakarta Timur (Kompas, 7/7/2025), Gubernur Jakarta Pramono Anung mengingatkan adanya potensi banjir rob dalam 1-2 hari ke depan berdasarkan prakiraan BMKG. Dalam upaya peningkatan pengelolaan banjir, Pramono terus melakukan koordinasi dengan BMKG dan dinas terkait lainnya.

Persoalan belum terselesaikan

Pada Juli ini Jakarta kembali direndam banjir meskipun pada Maret lalu juga dilanda bencana banjir yang parah. Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebabnya, seperti periode kemarau basah dan juga dinamika atmosfer yang memengaruhi perubahan cuaca harian yang cenderung terus meningkat intensitasnya hingga bulan depan. Penyebab lain ialah adanya persoalan klasik yang belum menemukan solusi terbaik untuk menanggulangi banjir yang rutin terjadi.

Persoalan laten itu tertangkap dari hasil Survei Teropong Jakarta oleh Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 10-14 Juni 2025. Survei itu merekam tiga persoalan mendesak yang perlu diselesaikan Pemprov Jakarta, dan banjir merupakan salah satu persoalan krusial itu yang perlu segera dibenahi. Setidaknya ada 48,1 persen responden warga Jakarta yang mengutarakan persoalan banjir ini.

Belum terselesaikannya persoalan banjir tersebut turut membawa pada suara ketidakpuasan masyarakat dalam menilai kinerja Pemprov Jakarta. Kepuasan publik mengenai penanggulan banjir menurun pada survei kali ini. Pada tahun 2022, kepuasan responden Jakarta mengenai penanganan banjir mencapai 59,8 persen, tetapi pada tahun ini susut menjadi 54,7 persen. Hal ini mengindikasikan kepuasan publik terkait kinerja Pemprov Jakarta dalam menghadapi banjir semakin menurun.

Permukiman warga Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur yang terendam banjir luapan Kali Ciliwung pada Selasa (8/7/2025).

Fenomena ini akan semakin berat dihadapi Pemprov Jakarta karena nyatanya pemda belum mampu mengendalikan banjir secara lebih baik. Bahkan, pada Maret lalu menjadi salah satu bencana banjir terparah di Jakarta. Ancaman ini masih akan terus membayangi, seiring fase kemarau basah hingga Agustus nanti.

Meskipun demikian, penilaian yang turun dari publik itu seharusnya menjadi pengingat bahwa kinerja penanganan banjir harus terus ditingkatkan. Pemprov Jakarta harus bisa membuktikan upaya penanganannya dalam pengelolaan banjir, baik dengan menerapkan metode lama atau bahkan menemukan metode baru yang memiliki tingkat keberhasilan lebih besar. Apa pun cara yang ditempuh pemerintah daerah, masyarakat akan terus menunggu keberhasilannya agar wilayah mereka tak lagi dilanda banjir ketika curah hujan meningkat. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Budiawan Sidik A, Zikrina Ratri
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji