Jakarta menatap usia 500 tahun dengan ambisi menjadi kota global yang berbudaya, inklusif, dan berkelanjutan demi masa depan warganya. Bisakah ambisi ini terwujud?
23 Jun 2025 11:59 WIB · Metropolitan
1. Mengapa Jakarta ingin menjadi kota global?
2. Apa tantangan terbesar Jakarta untuk menjadi kota global?
3. Apa yang sudah dilakukan Jakarta menuju kota global berkelanjutan?
4. Bagaimana sejarah membentuk identitas Jakarta kini?
5. Apa harapan warga terhadap masa depan Jakarta?
Jakarta ingin menjadi kota global agar tetap relevan dan kompetitif setelah tak lagi menyandang status ibu kota negara. Ambisi ini bertujuan menjadikan Jakarta sebagai simpul penting dalam jaringan ekonomi dunia. Kota global bukan sekadar kota besar, melainkan juga pusat inovasi, budaya, dan interaksi global.
Jakarta memiliki potensi besar: kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 17 persen. Dengan status kota global, Jakarta dapat menarik lebih banyak investasi, wisatawan, serta talenta kreatif dari dalam dan luar negeri.
Kota global juga memungkinkan warganya menikmati infrastruktur kelas dunia, transportasi publik yang efisien, dan lingkungan hidup yang lebih baik. Artinya, manfaatnya tidak hanya berskala nasional, tetapi juga langsung dirasakan oleh warga.
Namun, pencapaian ini tak bisa diraih hanya dengan slogan. Jakarta harus menjalankan visi globalnya dengan perencanaan matang, partisipasi publik, dan keberanian mengubah arah pembangunan ke arah kota yang inklusif dan berkelanjutan.
Tantangan terbesar Jakarta adalah kualitas lingkungannya yang memburuk. Urbanisasi masif dan alih fungsi lahan membuat ruang terbuka hijau semakin minim. Sekitar 97,9 persen wilayah Jakarta kini merupakan lahan terbangun.
Fenomena ini memperburuk banjir dan meningkatkan suhu udara. Polusi udara juga tinggi, diperparah oleh minimnya transportasi umum yang efisien dan rendah emisi. Akibatnya, Jakarta tertinggal jauh dalam indeks lingkungan global.
Selain lingkungan, tata kelola kota juga menjadi masalah. Lemahnya koordinasi antarpemerintah daerah, kurangnya transparansi, dan minimnya partisipasi publik membuat pembangunan tidak merata dan kurang responsif.
Tantangan ini menghambat daya saing Jakarta di panggung dunia. Untuk itu, Jakarta memerlukan reformasi menyeluruh—bukan hanya dalam kebijakan, tapi juga dalam budaya birokrasi dan pola pikir pembangunan.
Jakarta mulai mengarahkan pembangunan ke kota global yang berkelanjutan melalui Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (DKJ) dan visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025. Kota ini menargetkan menjadi pusat ekonomi nasional yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan.
Salah satu langkah konkret adalah memperkuat sinergi antarwilayah aglomerasi Jabodetabekjur untuk menangani isu lingkungan bersama, seperti banjir dan sampah. Tanpa kerja sama lintas daerah, tantangan ekologis Jakarta sulit diatasi.
Pemprov DKI Jakarta juga meluncurkan berbagai program pro-rakyat, seperti subsidi transportasi publik, akses pendidikan, dan revitalisasi ruang sejarah, seperti Kota Tua dan peluncuran Jakarta Tourist Pass.
Akan tetapi, transformasi ini masih bersifat awal. Diperlukan keberanian politik untuk melangkah lebih jauh: memperluas ruang hijau, menata ulang zonasi, membangun hunian terjangkau, dan mengedepankan keberlanjutan dalam setiap proyek kota.
Jakarta lahir dari pelabuhan Sunda Kelapa yang ramai pada abad ke-16. Kota ini tumbuh melalui beberapa fase kolonialisme, mulai dari Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta modern pasca-kemerdekaan.
Nama Jayakarta diberikan setelah Fatahillah mengusir Portugis pada 1527, yang kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi kota. Sejarah ini memperlihatkan bahwa Jakarta selalu menjadi arena tarik-menarik kekuasaan dan ekonomi global.
Pada masa kolonial, Batavia sempat dijuluki ”Ratu dari Timur”, tetapi gagal memenuhi kebutuhan rakyat karena tata kotanya hanya melayani elite kolonial. Ini menjadi pelajaran bahwa kota megah belum tentu adil dan berdaya.
Kini, Jakarta ingin kembali menjadi kota yang berpengaruh secara global, tetapi dengan pendekatan yang lebih inklusif dan manusiawi—yakni kota yang menghormati sejarah, merawat budaya lokal, dan berpihak kepada warganya.
Warga Jakarta berharap kota ini menjadi tempat tinggal yang layak, setara, serta bebas dari kemacetan dan banjir. Mereka ingin pembangunan tidak hanya simbolis, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar.
Fatiyah dari Jakarta Timur, misalnya, berharap pemerataan fasilitas kesehatan dan solusi konkret untuk banjir di wilayahnya. Ia mewakili suara banyak warga yang tinggal di pinggiran kota yang kerap terpinggirkan.
Sementara Adira dari Jakarta Selatan menekankan pentingnya pelestarian budaya Betawi agar Jakarta tidak kehilangan identitasnya dalam proses globalisasi. Ia ingin Jakarta modern tetap berakar pada kekayaan lokal.
Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa warga siap mendukung transformasi kota asal mereka. Namun, dukungan ini harus dibalas dengan keterlibatan warga dalam proses perencanaan dan kebijakan yang berpihak pada kehidupan nyata, bukan sekadar pencitraan.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Neli Triana, Yohanes Advent KrisdamarjatiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari