Kompas.id Brief

Jakarta Perluas Transportasi Umum Gratis bagi 15 Golongan: Apa Tantangannya?

Pemerintah DKI Jakarta berencana memperluas layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat. Siapa sasarannya dan bagaimana tantangan pelaksanaannya?

14 Mar 2025 12:00 WIB · Metro

Oleh Mukhamad Kurniawan, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Apa yang bisa Anda pelajari artikel berikut?

1. Apa latar program gratis angkutan umum bagi 15 golongan di Jakarta dan siapa penerimanya?

2. Bagaimana perkembangan jumlah pengguna transportasi publik di Jakarta?

3. Apa rencana Pemprov DKI dalam memperluas layanan transportasi publik ke Jabodetabek?

4. Bagaimana mekanisme perluasan program gratis ini ke MRT dan LRT Jakarta?

5. Mengapa integrasi dan ”political will” penting untuk transportasi publik Jakarta?

Apa latar program gratis angkutan umum bagi 15 golongan di Jakarta dan siapa penerimanya?

copy title

Program gratis naik angkutan umum bagi 15 golongan di Jakarta berawal dari janji kampanye Gubernur-Wakil Gubernur Pramono Anung dan Rano Karno pada Pilkada 2024. Setelah terpilih, keduanya memasukkan kebijakan ini dalam 40 program hasil terbaik cepat (quick wins) 100 hari pertama. Realisasinya menunggu payung hukum berupa peraturan gubernur.

Transjakarta menjadi pionir penerapan program ini. Pengguna yang tergolong berhak memperoleh kartu khusus, seperti TJ Card atau Jakcard Combo, untuk mengakses layanan secara gratis. Sebagian golongan penerima adalah warga lansia, penyandang disabilitas, penerima bantuan sosial, veteran, marbot, TNI/Polri, tenaga pendidik PAUD, dan pegawai kontrak Pemprov DKI.

Setelah Transjakarta, pemerintah berencana memperluas layanan gratis ini ke MRT Jakarta dan LRT Jakarta. Namun, kebijakan tersebut masih menunggu harmonisasi peraturan di tingkat pemerintah daerah dan Kementerian Dalam Negeri. Integrasi data untuk menentukan calon penerima juga dibahas agar lebih tepat sasaran dan menghindari tumpang tindih penerimaan subsidi.

Pihak MRT Jakarta dan LRT Jakarta telah melakukan simulasi terkait dampak pemberlakuan tarif gratis bagi 15 golongan. Hasil studi menunjukkan bahwa 29,2 persen pengguna MRT dan 32 persen pengguna LRT termasuk ke dalam golongan ini. Angka tersebut menjadi pertimbangan dalam mempersiapkan mekanisme teknis dan dana subsidi agar berjalan efektif.

Bagaimana perkembangan jumlah pengguna transportasi publik di Jakarta?

copy title

Jumlah pengguna beberapa moda transportasi publik, seperti Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta, terus mengalami peningkatan signifikan. Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta pada 2024 menunjukkan, penumpang Transjakarta naik lebih dari 40 persen dalam setahun, sedangkan MRT dan LRT Jakarta juga mencatat lonjakan jumlah penumpang secara konsisten.

Peningkatan ini menandakan pemulihan pascapandemi sekaligus peralihan preferensi masyarakat ke angkutan umum yang lebih nyaman dan andal. Namun, ada tantangan dalam menjaga kualitas layanan, seperti ketepatan jadwal, kenyamanan selama perjalanan, serta keamanan di halte dan stasiun. Pemerintah juga dituntut meningkatkan infrastruktur pendukung untuk pejalan kaki maupun pengguna sepeda.

Meski kian diminati, transportasi publik harus bersaing dengan kendaraan pribadi. Tarif bahan bakar bersubsidi yang masih terjangkau dan kemudahan membeli kendaraan baru menjadi faktor penghambat. Selain itu, kendala lain adalah integrasi fisik dan informasi antarmoda yang masih parsial, sehingga warga belum sepenuhnya bisa melakukan perjalanan multimoda secara lancar.

Menurut pengamat, langkah terbaik adalah menambah rute feeder ke daerah penyangga, meningkatkan ketepatan headway, dan menyempurnakan sistem pembayaran integrasi. Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi juga perlu dioptimalkan. Dengan kombinasi penataan layanan di dalam kota serta kebijakan yang konsisten, antusiasme masyarakat menggunakan transportasi umum akan terus meningkat.

Apa rencana Pemprov DKI dalam memperluas layanan transportasi publik ke Jabodetabek?

copy title

Pemprov DKI Jakarta berencana mengembangkan Transjabodetabek sebagai bentuk ekspansi layanan Transjakarta. Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno mencanangkan perluasan rute untuk menjangkau Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Langkah ini juga melibatkan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) agar izin trayek di wilayah aglomerasi dapat terpenuhi.

Sejumlah rute Transjabodetabek sudah beroperasi, seperti Ciputat-CSW, Poris Plawad-Petamburan, hingga Sumarecon Bekasi-Cawang. Namun, pengoperasian beberapa rute lain masih tertunda karena izin trayek belum rampung. Pemprov DKI terus berkoordinasi dengan BPTJ untuk menyelesaikan hambatan administratif, sekaligus melakukan survei lapangan dan sosialisasi kepada angkutan lokal.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menegaskan, tujuan utama perluasan ini adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan meningkatkan kinerja lalu lintas regional. Dengan adanya transportasi publik jarak jauh yang terjangkau, masyarakat dari daerah penyangga dapat meninggalkan mobil atau motor mereka dan beralih sepenuhnya ke bus terintegrasi.

Untuk memastikan keberhasilan, dukungan dari setiap pemerintah daerah di lingkup Jabodetabek sangat krusial. Selain perizinan trayek, kesiapan fasilitas pendukung, seperti halte, jalur khusus, dan integrasi tarif, juga perlu ditingkatkan. Kolaborasi lintas wilayah ini diyakini akan memperluas aksesibilitas transportasi massal bagi seluruh warga Jabodetabek secara berkelanjutan.

Bagaimana mekanisme perluasan program gratis ini ke MRT dan LRT Jakarta?

copy title

Setelah berhasil diterapkan di Transjakarta, Pemprov DKI Jakarta merencanakan skema serupa untuk MRT dan LRT. Namun, perlu proses harmonisasi peraturan dan penyesuaian teknis, termasuk merumuskan payung hukum dalam bentuk peraturan gubernur. Hal ini untuk menjamin pelaksanaan di lapangan selaras dengan regulasi yang sudah ada.

Saat ini, MRT dan LRT Jakarta sudah melakukan kajian tentang dampak penerapan tarif gratis bagi 15 golongan. Hasil kajian MRT menunjukkan sekitar 29,2 persen penumpang tahun 2025 masuk kategori penerima. Begitu pula LRT Jakarta, di mana 32 persen penumpangnya diprediksi termasuk dalam golongan yang berhak layanan gratis.

Pemprov DKI mencermati mekanisme pendaftaran dan verifikasi agar subsidi tepat sasaran. Dinas Perhubungan bekerja sama dengan Bank DKI untuk memastikan kartu pengguna bisa terhubung ke data kependudukan dan catatan sipil. Dengan demikian, integrasi data ini akan membantu menekan potensi penyalahgunaan dan duplikasi penerima.

Selain itu, pihak Dewan Transportasi Kota Jakarta merekomendasikan peninjauan ulang kategori dan penambahan golongan, seperti pendamping disabilitas. Skema pendaftaran juga diusulkan lebih fleksibel, baik daring maupun luring. Ini penting agar masyarakat tidak kesulitan mendaftar, dan kebijakan gratis naik angkutan umum bisa dinikmati secara merata.

Mengapa integrasi dan ”political will” penting untuk transportasi publik Jakarta?

copy title

Menurut Ketua Inisiatif Strategis Transportasi Budi Susandi, kebijakan subsidi 15 golongan dan perluasan layanan harus ditopang political will yang kuat. Sebab, perbaikan sistem transportasi publik di Jakarta masih kerap tersendat akibat kebijakan parsial. Padahal, Pemprov DKI Jakarta didukung APBD besar dan sumber daya yang memadai.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan, termasuk BPTJ, pemerintah daerah tetangga, dan operator swasta, menjadi syarat mutlak. Tanpa kerja sama, perluasan Transjabodetabek maupun penerapan subsidi gratis di MRT dan LRT tak akan berjalan mulus. Perencanaan rute, pembangunan halte, dan penyiapan armada perlu sinkron agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi juga penting untuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Aturan seperti tarif parkir tinggi di pusat kota, implementasi jalan berbayar (ERP), dan pembatasan usia kendaraan dapat memperkuat efek subsidi bagi penumpang. Dengan begitu, layanan publik menjadi lebih kompetitif dibanding kendaraan pribadi.

Terakhir, integrasi fisik dan informasi antarmoda perlu ditingkatkan. Konsep enam K—keselamatan, keamanan, keandalan, kemudahan, kenyamanan, dan kesetaraan—harus diutamakan. Jika MRT, LRT, KRL, dan Transjakarta terhubung dalam satu sistem pembayaran, penumpang mudah berpindah moda dengan praktis. Inilah langkah kunci menjadikan Jakarta kota bertransportasi umum yang andal dan inklusif.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mukhamad Kurniawan, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Kusnadi .